Ma, I’m bored!

Hayo, siapa yang juga mati gaya dan kehabisan ide main sama anak selama pandemi ini sampai diprotes anaknya seperti judul di atas? 😂 Harusnya judulnya dibuat lebih fantastis ya. Misalnya,

Akibat PPKM tak berkesudahan, ibu hamil ini memutuskan melakukan hal berikut.

Ngomong-ngomong soal PPKM dan bosan, saya ingin berbagi cerita. Tinggal di lingkungan yang ekonominya relatif menengah ke bawah, PPKM membuat angka kriminalitas di daerah saya naik. Bulan lalu ada maling lompat pagar rumah saya dan mengambil sepeda (padahal itu sepeda sudah berbulan-bulan parkir di teras rumah gak ada masalah). Bulan ini penjaga warung depan rumah saya ditodong 3 orang dengan senjata tajam untuk minta uang dan rokok.

Dampaknya, saya yang asalnya cuma diimbau suami untuk cuti kerja, kali ini ditambah gak boleh ke mana-mana sendirian, termasuk jalan-jalan pagi/sore yang biasa jadi aktivitas saya. Iya, ngerti kok suami khawatir kalau saya tiba-tiba diserang atau ditodong saat jalan sendirian. Tapi jadinya aktivitas sehari-hari beneran dihabiskan di rumah saja. Belanja pun nggak karena kami ikutan katering harian.

Saya berpikir, daripada gak jelas mau ngapain, ditambah anak sering protes bosan di rumah, bagaimana kalau bikin lesson plan saja? Saya ambil tema Indonesia. Kebetulan beberapa hari terakhir saya dan anak saya sedang suka baca buku Ensiklopedia Junior tentang Anak-Anak di Dunia. Isinya bagus untuk bahan diskusi. Karena itu saya ajak anak untuk memperdalam bahasan dengan sehari satu negara.

Pada awalnya anak saya memilih negara China (dia tunjuk asal dari halaman sampul). Kemudian saya buatkan tujuan besarnya (mengenalkan kebesaran Allah dari sudut pandang geografi, sosial, budaya), tema pembelajaran (geografi, sosial, budaya), dan daftar hal yang bisa diajarkan terkait negara tersebut. Saat sesi diskusi, saya menyadari adanya gap saat akan mengajak anak membandingkan dengan negara Indonesia. Lha anaknya sendiri belum diajari soal Indonesia, gimana mau membandingkan? 🙈

Maka dari itu, saya sampaikan ke anak saya bahwa pembelajaran diubah. Mulai besok ganti jadi belajar Indonesia. Dimulai dari Indonesia secara umum, lalu didetailkan per pulau/provinsi. Ia setuju.

Pembelajaran tentang Indonesia secara umum sempat saya bagi di Instagram Story. Salah satu balasan dari teman saya sedikit membuat saya tergelitik sehingga ingin menulis tentang ini (iya, prolognya panjang banget, ya).

Teman saya nanya, “Gimana caranya mengajarkan anak baca? Anakku susah banget diajarin.”

Seingat saya, anaknya teman ini masih usia 3 tahun lebih beberapa bulan. Jelas bukan usia ideal belajar membaca kalau kata pakar parenting. Ingin rasanya saya lempari dia pakai buku Fitrah Based Education karya Ust. Harry Santosa, tapi kemudian teringat dia non-muslim. 😂

Rupanya alasan teman saya ingin mengajarkan membaca ke anaknya yang berusia 3 tahun adalah karena omongan dari sekitarnya! “Anakmu kok belum diajari baca? Nanti telat, lho.” Entah telat ini patokan dari mana, siapa yang narget, siapa yang ninggal, yang pasti cukup bikin teman saya kepikiran dan jadi memaksa anaknya untuk segera belajar.

Urusan belajar anak, apalagi di masa pandemi ini, memunculkan banyak varian-varian baru (dikira virus saja yang punya varian? Tidak, Ferguso!). Ada geng keukeuh tetap mau mengembalikan anak ke sekolah, geng didik anak sendiri di rumah, geng ikutkan anak sekolah daring, geng beli modul lalu diajari sendiri, geng bikin kurikulum sendiri, geng ikut kurikulum dalam negeri, geng ikut kurikulum luar negeri, geng punya target spesifik buat anak, sampai geng tak menargetkan apa-apa ke anaknya.

Banyak, ya. 🤯

Hebatnya, semua varian itu beneran saya temukan di dunia maya. Dan dari mengamati mereka semua, saya menemukan satu kesamaan: pilihan yang diambil berdasarkan value keluarga masing-masing.

Di satu sisi ada yang memutuskan tidak menarget apapun ke anaknya. Tidak ada target hafalan, belajar huruf, dll. Alasannya karena semua yang terukur itu mudah untuk diajarkan. Yang paling penting adalah menumbuhkan kecintaan anak pada proses belajarnya terlebih dahulu. Sungkem dulu, Teh.

Di sisi lain ada juga yang mengajarkan anaknya usia 4 tahun bahasa Rusia dan isu refugee. Apakah dia lebay? Gak juga. Latar belakang pendidikannya Hubungan Internasional. Jelas isu-isu tersebut jadi concernnya sehari-hari. Sama saja seperti saya yang memilih mengajarkan anatomi ke anak saya, bahkan sampai beli atlas anatomi yang harusnya dibaca mahasiswa kedokteran, karena memang latar belakang saya adalah tenaga kesehatan.

Menurut saya, semua pilihan tersebut tidak ada yang benar maupun salah. Kembali lagi, semua berdasarkan value keluarga masing-masing. Sebagai orang luar yang bisa jadi valuenya beda, saya tidak berhak mengatur. Lagipula bukan saya juga yang menjalani. Dan yang diajari juga bukan anak saya.

Saya sendiri memutuskan untuk menggunakan responsive teaching & learning pada anak saya. Mirip sama responsive feeding gitu lah kalau di MPASI. Dia lagi ingin belajar apa, maka saya fasilitasi. Tanpa target tertentu. Kasihan, bu, masih balita juga.

Contohnya gimana? Misalnya soal hafalan surat pendek. Dari sudut pandang saya, enakan hafalan Al Ikhlas dulu, lebih singkat. Tapi anak saya minta hafalan ayat kursi, gara-gara lihat pajangan ayat kursi di rumah kami. Diri ini sudah gatal pengin bilang, “Itu ntar aja, kan lebih panjang dan susah.” Tapi ternyata setelah dijalani, anaknya cepat hafal, lho. Karena apa? Selain karena Allah yang memudahkan, juga karena ia senang melakukannya. Itu pilihannya sendiri.

Selain itu, fokus saya adalah problem solving. Jangan sampai ilmu yang didapat jadi ilmu yang tidak bermanfaat. Percuma mengajarkan anak segala macam ilmu kalau dia gak paham gunanya apa. Di sini saya belajar dari Nam Do San, si jenius jago macem-macem tapi saat ditanya temuannya bisa buat apa dia malah clueless. 🤭

Maka dari itu, ingin sekali saya bilang pada teman saya untuk melihat lebih banyak lagi varian yang bertebaran di luar sana, lalu merenungi mengapa varian-varian tersebut muncul. Maksudnya biar dia sadar kalau sudah waktunya ganti circle. Jangan ngumpul sama yang toxic mulu; ngajarin enggak, bikin panik iya. Saatnya dia menyadari bahwa apapun pilihan yang dia ambil untuk anaknya, varian apa yang ingin dia ikuti, pastikan sesuai dengan value keluarganya, bukan value netijen. 😄

Belajar dari manusia: mendobrak rintangan bahasa

Namanya Yukari. Seorang gadis asal negeri Sakura berusia 23 tahun. Perawakannya tinggi langsing dengan rambutnya lurus sebahu. Senyum selalu tersungging di bibirnya. Ia berbicara dengan penuh semangat, mengingatkan saya pada karakter-karakter perempuan di anime.

Yukari adalah salah satu delegasi Jepang di konferensi tahunan ini. Ia ditakdirkan berada di kelompokku, kelompok 18, bersama 16 orang delegasi lain dari 10 negara yang berbeda. Bersama orang-orang dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, tentu saja akan menarik kalau bisa berbagi kisah.

Hanya saja, sayangnya, Yukari kurang lancar berbahasa Inggris, bahasa yang ditetapkan menjadi bahasa persatuan di konferensi ini.

Continue reading “Belajar dari manusia: mendobrak rintangan bahasa”

Skincare oh skincare

Saya termasuk sangat awam terhadap skincare. Dulu saat teman-teman sekelompok saya sudah ngerti skincare apa yang cocok dan tidak cocok untuk jenis kulit mereka, saya cuma ngerti bedak sama lipgloss doang. Bahkan saya juga nggak tahu kalau jenis kulit saya ternyata alhamdulillah normal sampai awal tahun 2020 ketika ada cek kondisi kulit gratis di sebuah acara yang sedang saya ikuti.

Sialnya (?) saya malah kenalan duluan sama make up. Saat masih kerja, saya gemes lihat efek make up terhadap wajah saya. Mana tak lama kemudian saya mau nikah. Makin semangat saya belajar make up, walaupun cuma yang dasar saja.

Kondisi berubah drastis setelah menikah. Karena sudah berhenti kerja, saya tidak merasa perlu pakai make up. Ditambah kemudian saya hamil. Selama hamil, saya tidak mau sama sekali pakai make up dan perawatan wajah. Rasanya malas sekali melakukannya. Hasilnya, setelah melahirkan, saya tampak seperti ibu kucel gendut bermuka kusam dengan kulit kering dan belang-belang. Sedih banget ini. Padahal aslinya kulit saya normal lho.

Continue reading “Skincare oh skincare”

Shy Shy Cat dan renungan tentang literasi

Beberapa hari lalu, saya dan suami mengisi waktu luang dengan menonton film di N*tflix. Pilihan jatuh pada film Indonesia berjudul Shy Shy Cat.

Film ini menceritakan tentang Mira, si gadis kota yang sukses dengan karirnya. Di usianya yang ke-30 tahun, tiba-tiba Mira diminta pulang oleh orangtuanya di desa untuk menikah.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Bapaknya Mira pernah berjanji pada seorang ustaz di desanya untuk menikahkan Mira dengan anaknya ustaz tersebut yang bernama Otoy. Mira tidak mau. Sosok Otoy baginya tak lebih dari anak nakal di masa kecilnya.

Tapi janji harus ditepati. Karena itu Umi dan Jessie, kedua sahabat Mira, memutuskan ikut ke desa untuk menggagalkan perjodohan mereka. Namun, saat tiba di desa, mereka terkejut melihat desa telah berubah. Begitu pula Otoy.

Continue reading “Shy Shy Cat dan renungan tentang literasi”

[ulasan buku] Mirah dari Banda

Judul buku: Mirah dari Banda
Pengarang: Hanna Rambe
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Jumlah halaman: 388 halaman
Harga: <50k

“Dalam lingkungan saya sendiri, ia menjadi anak saya. Juga anak Tuan Besar. Namun di muka umum, ia diperlakukan sebagai perempuan Indo. Derajatnya lebih tinggi dari saya, wanita yang melahirkannya, lebih rendah dari Tuan Besar, pria yang menyebabkan kelahirannya. Saya rasa jalan pikiran seperti itu tidak dapat dimengerti. Mungkin karena saya bodoh, orang kontrak belaka, maka saya tak bisa menangkap pikiran seperti itu?”

Continue reading “[ulasan buku] Mirah dari Banda”

Mantra

Buat saya, menjaga keikhlasan dalam beribadah itu gampang-gampang susah. Banyak susahnya daripada gampangnya. Padahal salah satu syarat diterimanya suatu amalan adalah ikhlas dilakukan karena Allah semata.

Dalam usahanya, saya bersyukur Allah memberikan petunjuk lewat tulisan seorang ustaz.

Continue reading “Mantra”

Eyang favorit

Malam itu saya “mengobrol” dengan papa yang sedang terbaring tak sadar di ruang High Care Unit (HCU). Saya sampaikan permintaan maaf atas sikap saya selama ini, begitu pun saya telah memaafkan beliau. Saya ceritakan bagaimana mama yang tidak mau pulang walaupun lelah. Terus setia menunggu papa dalam segala kondisi.

Semua baik-baik saja sampai saya menceritakan tentang anak saya.

Continue reading “Eyang favorit”

Menyapih TV

Dulu saya gemas lihat anak saya tidak tertarik nonton TV. Kan lumayan kalau dia nonton TV anteng saya bisa melakukan hal lain, pikir saya dulu.

Tapi itu dulu.

Perkenalan anak saya pada asyiknya menonton TV dimulai dari rumah orangtua. Btw, kalau pulang ke rumah orangtua saya, anak saya jadi primadona. Maklum, cucu pertama. Semua semangat ingin bermain bersamanya. Tak terkecuali Eyang Kung-nya.

Hanya saja ada gap yang cukup berarti antara stamina anak saya dengan Eyang Kungnya. Hal itu menyebabkan Eyang Kung kewalahan dalam mengasuh, tapi di sisi lain masih ingin main bareng. Lalu apa siasat Eyang Kung?

Continue reading “Menyapih TV”