Skincare oh skincare

Saya termasuk sangat awam terhadap skincare. Dulu saat teman-teman sekelompok saya sudah ngerti skincare apa yang cocok dan tidak cocok untuk jenis kulit mereka, saya cuma ngerti bedak sama lipgloss doang. Bahkan saya juga nggak tahu kalau jenis kulit saya ternyata alhamdulillah normal sampai awal tahun 2020 ketika ada cek kondisi kulit gratis di sebuah acara yang sedang saya ikuti.

Sialnya (?) saya malah kenalan duluan sama make up. Saat masih kerja, saya gemes lihat efek make up terhadap wajah saya. Mana tak lama kemudian saya mau nikah. Makin semangat saya belajar make up, walaupun cuma yang dasar saja.

Kondisi berubah drastis setelah menikah. Karena sudah berhenti kerja, saya tidak merasa perlu pakai make up. Ditambah kemudian saya hamil. Selama hamil, saya tidak mau sama sekali pakai make up dan perawatan wajah. Rasanya malas sekali melakukannya. Hasilnya, setelah melahirkan, saya tampak seperti ibu kucel gendut bermuka kusam dengan kulit kering dan belang-belang. Sedih banget ini. Padahal aslinya kulit saya normal lho.

Continue reading “Skincare oh skincare”

Shy Shy Cat dan renungan tentang literasi

Beberapa hari lalu, saya dan suami mengisi waktu luang dengan menonton film di N*tflix. Pilihan jatuh pada film Indonesia berjudul Shy Shy Cat.

Film ini menceritakan tentang Mira, si gadis kota yang sukses dengan karirnya. Di usianya yang ke-30 tahun, tiba-tiba Mira diminta pulang oleh orangtuanya di desa untuk menikah.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Bapaknya Mira pernah berjanji pada seorang ustaz di desanya untuk menikahkan Mira dengan anaknya ustaz tersebut yang bernama Otoy. Mira tidak mau. Sosok Otoy baginya tak lebih dari anak nakal di masa kecilnya.

Tapi janji harus ditepati. Karena itu Umi dan Jessie, kedua sahabat Mira, memutuskan ikut ke desa untuk menggagalkan perjodohan mereka. Namun, saat tiba di desa, mereka terkejut melihat desa telah berubah. Begitu pula Otoy.

Continue reading “Shy Shy Cat dan renungan tentang literasi”

Menyapih TV

Dulu saya gemas lihat anak saya tidak tertarik nonton TV. Kan lumayan kalau dia nonton TV anteng saya bisa melakukan hal lain, pikir saya dulu.

Tapi itu dulu.

Perkenalan anak saya pada asyiknya menonton TV dimulai dari rumah orangtua. Btw, kalau pulang ke rumah orangtua saya, anak saya jadi primadona. Maklum, cucu pertama. Semua semangat ingin bermain bersamanya. Tak terkecuali Eyang Kung-nya.

Hanya saja ada gap yang cukup berarti antara stamina anak saya dengan Eyang Kungnya. Hal itu menyebabkan Eyang Kung kewalahan dalam mengasuh, tapi di sisi lain masih ingin main bareng. Lalu apa siasat Eyang Kung?

Continue reading “Menyapih TV”

Apa yang saya pelajari melalui proses toilet training

Cerita toilet training saya mungkin tak ada bedanya dari cerita kalian atau mereka. Begitupun metode yang saya gunakan. Orangtua biasanya lebih paham mana yang paling pas untuk diterapkan pada anaknya. Work for me might not work for you too. Di sini tujuan saya hanya mendokumentasikan apa yang telah berhasil saya lakukan dan hal-hal yang saya pelajari dari prosesnya.

Continue reading “Apa yang saya pelajari melalui proses toilet training”

Tips backpacker Jepang

1. Language gap

Nggak usah ragu kalau mau backpacker ke Jepang. Kota-kota besar seperti Tokyo & Kyoto sudah sangat welcome terhadap turis. Petunjuk jalan dalam Bahasa Inggris ada di mana-mana. Petugas di stasiun juga banyak yang bisa Bahasa Inggris. Seandainya nggak bisa pun mereka akan berusaha untuk bantu. Bahkan anak muda di Kyoto yang kami tanya masih berusaha untuk menolong walaupun dengan Bahasa Inggris belepotan.

Continue reading “Tips backpacker Jepang”

Belajar mencintai diri sendiri bersama RBSB

Learning to love yourself is the greatest love of all..” -Whitney Houston-

Di hadapan saya duduk seorang ibu dari 4 orang anak. Dengan mata berbinar ia menjawab pertanyaan sederhana, “Bagaimana selera makan anak-anak di rumah?” Dengan lancar ia menyebutkan makanan kesukaan masing-masing termasuk suaminya.
“Kalau suami sukanya sambal terasi. Dibikinkan sambal bawang nggak mau. Pasti nanti ditambah kecap. Sedangkan anak pertamaku nggak suka kalau sambal bawangnya dikasih kecap. Jadi biasanya aku bikin 2 macam sambal,” katanya sambil tertawa kecil.
Semuanya ia ceritakan, kecuali apa makanan kesukaannya, yang tampaknya sudah lama ia lupakan.

***

Continue reading “Belajar mencintai diri sendiri bersama RBSB”

Eat right

Sudah beberapa lama saya mengikuti sebuah akun di media sosial. Akun itu milik seorang dokter yang gencar mengampanyekan makan sehat yang dikembalikan pada memakan produk Allah. Mungkin istilah populernya eat raw food kali ya.

Saya sendiri menyadari perlunya untuk kembali ke gaya hidup sehat tersebut. Saya merasakan sendiri betapa tubuh ini dalam kondisi tidak sehat karena banyaknya makanan yang “ngasal” masuk. Yang penting enak. Yang penting kenyang. Nggak mikir kandungan gizinya. Nggak mikir pemrosesan makanannya. Ujung-ujungnya jadi penyakit.

Continue reading “Eat right”