Shy Shy Cat dan renungan tentang literasi

Beberapa hari lalu, saya dan suami mengisi waktu luang dengan menonton film di N*tflix. Pilihan jatuh pada film Indonesia berjudul Shy Shy Cat.

Film ini menceritakan tentang Mira, si gadis kota yang sukses dengan karirnya. Di usianya yang ke-30 tahun, tiba-tiba Mira diminta pulang oleh orangtuanya di desa untuk menikah.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Bapaknya Mira pernah berjanji pada seorang ustaz di desanya untuk menikahkan Mira dengan anaknya ustaz tersebut yang bernama Otoy. Mira tidak mau. Sosok Otoy baginya tak lebih dari anak nakal di masa kecilnya.

Tapi janji harus ditepati. Karena itu Umi dan Jessie, kedua sahabat Mira, memutuskan ikut ke desa untuk menggagalkan perjodohan mereka. Namun, saat tiba di desa, mereka terkejut melihat desa telah berubah. Begitu pula Otoy.

Continue reading “Shy Shy Cat dan renungan tentang literasi”

Belajar dari manusia: mendobrak rintangan bahasa

Namanya Yukari. Seorang gadis asal negeri Sakura berusia 23 tahun. Perawakannya tinggi langsing dengan rambutnya lurus sebahu. Senyum selalu tersungging di bibirnya. Ia berbicara dengan penuh semangat, mengingatkan saya pada karakter-karakter perempuan di anime.

Yukari adalah salah satu delegasi Jepang di konferensi tahunan ini. Ia ditakdirkan berada di kelompokku, kelompok 18, bersama 16 orang delegasi lain dari 10 negara yang berbeda. Bersama orang-orang dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, tentu saja akan menarik kalau bisa berbagi kisah.

Hanya saja, sayangnya, Yukari kurang lancar berbahasa Inggris, bahasa yang ditetapkan menjadi bahasa persatuan di konferensi ini.

Continue reading “Belajar dari manusia: mendobrak rintangan bahasa”