Curhatan anak

Mata kecilnya berbinar menatap saya. Mulutnya berbicara tanpa henti, membahas apapun yang menurutnya menarik. Walaupun sebenarnya yang ia ceritakan cukup remeh bagi saya.

Baginya, saat ini saya adalah dunianya. Tempat menampung semua obrolannya. Mendengar semua kisahnya.

Pelukan saya yang ia cari ketika bangun tidur. Takut. Sedih. Cemas. Atau bahkan senang.

Ia sangat percaya pada saya sehingga semua kegiatannya harus bersama saya. Sementara ini saya lah satu-satunya teman mainnya.

Sungguh saya takut kalau ini semua akan hilang dari saya akibat kesalahan saya.

Continue reading “Curhatan anak”

Eat right

Sudah beberapa lama saya mengikuti sebuah akun di media sosial. Akun itu milik seorang dokter yang gencar mengampanyekan makan sehat yang dikembalikan pada memakan produk Allah. Mungkin istilah populernya eat raw food kali ya.

Saya sendiri menyadari perlunya untuk kembali ke gaya hidup sehat tersebut. Saya merasakan sendiri betapa tubuh ini dalam kondisi tidak sehat karena banyaknya makanan yang “ngasal” masuk. Yang penting enak. Yang penting kenyang. Nggak mikir kandungan gizinya. Nggak mikir pemrosesan makanannya. Ujung-ujungnya jadi penyakit.

Continue reading “Eat right”

Main masak-masakan

“Mau potong-potong!” Teriak anak lelaki saya tiap kali ikut membantu saya menyiapkan bahan makanan. Di usia 1,5 tahun ini ia sering meminta dilibatkan dalam setiap kegiatan saya, termasuk memasak. Akhirnya saya belikan ia mainan masak-masakan. Dan ia memainkannya dengan riang gembira.

Lho kok anak laki main masak-masakan?

Continue reading “Main masak-masakan”

Selesai dengan Si Sempurna

Orang yang mengenal saya dengan baik pasti tahu kalau saya kurang bisa masak. Tidak terbiasa berada di dapur membuat saya sempat agak panik ketika dilamar orang. Bahkan saya bilang ke dia, “Aku nggak bisa masak lho.” Biar nggak beli kucing dalam karung gitu. Dia ternyata ngerti dan memaklumi. Katanya nanti belajar masak bareng saja setelah nikah.

Continue reading “Selesai dengan Si Sempurna”

Saat buku tak kunjung tiba

Seperti yang sudah saya tulis di postingan lain, saya sedang menulis buku. Masa pre-order telah usai di akhir Februari dan kini bukunya sedang dalam proses percetakan. Ketika saya tanya berapa lama prosesnya, dijawab, “Seminggu.”

Saat itu saya menduga buku akan selesai cetak tanggal 11 Maret. Lalu karena pengiriman Bogor-Bandung lumayan cepat, buku paling lambat sampai tempat saya tanggal 13 Maret. Hari itu juga buku akan dikemas dan dikirim ke para pembeli. Sedangkan buku yang dijanjikan akan dikirim dari Jatim langsung saya paketkan hari itu juga.

Besoknya, tanggal 14 Maret, saya dan keluarga tinggal duduk manis di kereta menuju Jatim. Buku tiba di Jatim tanggal 15 Maret berbarengan dengan kedatangan kami. Agenda selama di Jatim akan dipadati oleh mengirim dan mengantar buku pada keluarga dan teman yang memesan sekaligus silaturahim.

Tapi itu rencana saya, bukan rencana Allah.

Continue reading “Saat buku tak kunjung tiba”