Pregnancy journal: Sumber kekuatan

Saat menyadari dalam rahim ini sudah ada titipan lagi, satu hal yang langsung membuat saya kepikiran adalah puasa Ramadhan. Bagaimana tidak? Hasil test pack positif satu bulan sebelum Ramadhan, berarti saya akan berpuasa saat masih trimester pertama.

Pikiran saya melayang pada ingatan masa hamil pertama dulu. Puasa Ramadhan saya lalui saat trimester kedua. Saat itu saya merasa ini waktu terbaik untuk berpuasa saat hamil. Tubuh lebih kuat, gejala mual sudah tidak ada, dan gerakan janin bisa dievaluasi. Terpatri jelas di pikiran saya saat itu, “Kayaknya kalau aku puasa saat masih trimester satu gak bakal kuat.”

Continue reading “Pregnancy journal: Sumber kekuatan”

Belajar dari manusia: mendobrak rintangan bahasa

Namanya Yukari. Seorang gadis asal negeri Sakura berusia 23 tahun. Perawakannya tinggi langsing dengan rambutnya lurus sebahu. Senyum selalu tersungging di bibirnya. Ia berbicara dengan penuh semangat, mengingatkan saya pada karakter-karakter perempuan di anime.

Yukari adalah salah satu delegasi Jepang di konferensi tahunan ini. Ia ditakdirkan berada di kelompokku, kelompok 18, bersama 16 orang delegasi lain dari 10 negara yang berbeda. Bersama orang-orang dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, tentu saja akan menarik kalau bisa berbagi kisah.

Hanya saja, sayangnya, Yukari kurang lancar berbahasa Inggris, bahasa yang ditetapkan menjadi bahasa persatuan di konferensi ini.

Continue reading “Belajar dari manusia: mendobrak rintangan bahasa”

Pemulihan

Dua pekan sudah terlewat. Sedih terangkat. Duka terbasuh.

Selama satu pekan pertama, tubuh saya masih lemah. Olahraga tidak bisa optimal. Badan juga mudah lelah.

Di pekan kedua, saya coba untuk kembali aktif. Diet resmi dimulai. Olahraga siap dijalani.

Jadwal vaksin belum terlihat hilalnya. Laporan ke dinkes setempat insya Allah sudah. Mungkin memang padat sekali antreannya.

Bisa jadi ini rencana Allah. Agar saya “terlindungi” dulu baru kemudian hamil. Agar saya dalam kondisi prima seperti saat hamil pertama untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama hamil.

Dari pengalaman keguguran ini, saya menyadari depresi bukan semata-mata sedih yang bisa dihilangkan dengan makanan enak atau jalan-jalan. Depresi butuh waktu untuk pulih dan tidak bisa dipaksakan. Dan dukungan dari keluarga dengan tidak memaksa untuk segera bangkit sangat berguna bagi saya.

Saat itu suami sadar saya butuh waktu. Ia tidak memaksa untuk segera pulih. Ia membantu meringankan kegiatan sehari-hari saya sesuai kapasitasnya. Ia bebaskan saya melakukan apapun selama masih aman. Alhamdulillah atas izin Allah saya bisa menemukan cara untuk bangkit lagi.

Shy Shy Cat dan renungan tentang literasi

Beberapa hari lalu, saya dan suami mengisi waktu luang dengan menonton film di N*tflix. Pilihan jatuh pada film Indonesia berjudul Shy Shy Cat.

Film ini menceritakan tentang Mira, si gadis kota yang sukses dengan karirnya. Di usianya yang ke-30 tahun, tiba-tiba Mira diminta pulang oleh orangtuanya di desa untuk menikah.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Bapaknya Mira pernah berjanji pada seorang ustaz di desanya untuk menikahkan Mira dengan anaknya ustaz tersebut yang bernama Otoy. Mira tidak mau. Sosok Otoy baginya tak lebih dari anak nakal di masa kecilnya.

Tapi janji harus ditepati. Karena itu Umi dan Jessie, kedua sahabat Mira, memutuskan ikut ke desa untuk menggagalkan perjodohan mereka. Namun, saat tiba di desa, mereka terkejut melihat desa telah berubah. Begitu pula Otoy.

Continue reading “Shy Shy Cat dan renungan tentang literasi”

Mantra

Buat saya, menjaga keikhlasan dalam beribadah itu gampang-gampang susah. Banyak susahnya daripada gampangnya. Padahal salah satu syarat diterimanya suatu amalan adalah ikhlas dilakukan karena Allah semata.

Dalam usahanya, saya bersyukur Allah memberikan petunjuk lewat tulisan seorang ustaz.

Continue reading “Mantra”