Pregnancy journal: Sumber kekuatan

Saat menyadari dalam rahim ini sudah ada titipan lagi, satu hal yang langsung membuat saya kepikiran adalah puasa Ramadhan. Bagaimana tidak? Hasil test pack positif satu bulan sebelum Ramadhan, berarti saya akan berpuasa saat masih trimester pertama.

Pikiran saya melayang pada ingatan masa hamil pertama dulu. Puasa Ramadhan saya lalui saat trimester kedua. Saat itu saya merasa ini waktu terbaik untuk berpuasa saat hamil. Tubuh lebih kuat, gejala mual sudah tidak ada, dan gerakan janin bisa dievaluasi. Terpatri jelas di pikiran saya saat itu, “Kayaknya kalau aku puasa saat masih trimester satu gak bakal kuat.”

Pikiran tidak memberdayakan itu mulai memengaruhi diri saya. Bagaimana kalau saya beneran gak mampu puasa di trimester pertama?

Saya coba cari referensi pengalaman teman-teman lain. Ada yang kuat dengan puasa selang-seling, ada yang bolong 10 hari, ada yang awalnya kuat lalu harus berhenti karena kondisi janin bermasalah. Semua pernyataan tersebut membuat saya ciut. Ditambah beberapa kali mencoba latihan puasa ternyata selalu gagal saat zuhur. Saya sempat berdiskusi dengan suami, “Mungkin memang wajar ibu hamil trimester pertama puasanya gak bisa full.” Saya berusaha mencari pembenaran.

Sampai kemudian ada yang bilang, “Aku full waktu trimester pertama.”

Saya coba menenangkan diri. Pengalaman setiap orang seharusnya bukan patokan untuk kondisi saya. Kesehatan kami beda. Kemampuan kami beda. Kekuatan kami beda. Karena itu mari kita cari informasi yang kredibel, yaitu dari spesialis obgyn langsung.

Seorang teman sejawat obgyn mengatakan bahwa tidak masalah berpuasa saat hamil trimester pertama. Yang penting asupan makanan dan cairan tercukupi. Selama tidak ada flek, kontraksi hebat, dan mual muntah hebat, maka puasa bisa dilanjutkan.

Ada lagi sejawat obgyn melalui webinar menyatakan bahwa puasa ibu hamil yang paling mudah justru saat trimester pertama. Kebutuhan kalori ekstra tidak sebanyak dua trimester berikutnya. Saran beliau adalah makan tetap 3 kali dengan membagi porsi kalorinya menjadi 40% saat sahur, 50% saat berbuka, dan 10% saat makan malam setelah tarawih. Minum 8 gelas sesuai jadwal. Jangan lupa tetap dengarkan tubuhmu.

Pada awalnya godaan gapapa kok kan ibu hamil dapat dispensasi membuat saya tersugesti menjadi tidak kuat. Hahaha. Tapi saya sadar pikiran tidak memberdayakan ini harus diganti.

Disebutkan di kajian bahwa Allah mewajibkan puasa ini untuk kita semua. Jika kita berpuasa, itu untuk kebaikan diri kita. Dan berpuasa di bulan Ramadhan adalah keutamaan. Pahalanya luar biasa sampai Allah merahasiakannya. Kalau sudah begitu, rugi dong gak puasa. Ya kan?

Memasuki bulan Ramadhan, saya banyak berdoa. Minta keridhoan Allah. Minta dimampukan oleh Allah. Janin ini dititipkan sebulan sebelum puasa pasti ada hikmahnya. Setiap malam sebelum tidur minta Allah untuk dibangunkan saat jam sahur. Setiap habis sahur minta dikuatkan ke Allah untuk berpuasa hari itu. Gitu tiap hari.

10 hari pertama terasa berat. Sempat bolong 2 hari karena kondisi psikis tidak stabil akibat ditinggal LDM. Namun, memasuki 10 hari kedua, alhamdulillah tubuh sudah jauh lebih kuat. Tidak butuh lagi makan dengan proporsi 40:50:10 seperti teori. Sempat khawatir karena BB susut lumayan, tapi saat 15 Ramadhan cek USG alhamdulillah janin di rahim kondisi sangat baik. Pertumbuhannya bagus sesuai usia kehamilan.

Dan yang membuat saya makin amazed, justru saat puasa mual saya hilang sama sekali. Padahal sebelumnya mual sudah seperti orang mabuk darat. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Perjalanan insya Allah belum berakhir. Hari ini tanggal 19 Ramadhan. Masih ada 10+2 hari lagi hingga Ramadhan meninggalkan kita semua. Bismillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *