[ulasan buku] Rapijali 1 Mencari

Judul buku: Rapijali 1: Mencari
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang
Jumlah halaman: 352 halaman
Harga: <150k

“Berlainan dengan jalan Oding yang terang benderang, Ping merasa jalannya remang-remang. Semua orang bilang Ping berbakat musik, tetapi Ping tak pernah tahu kebenarannya. Ia tak pernah mengecap pendidikan musik formal. Sudah jelas ia paling jago musik dibanding teman-temannya di Batu Karas. Namun, di luar sana ada dunia besar yang belum menguji kemampuannya.”

Sebuah karya terbaru dari Dee Lestari yang tampaknya akan dibuat berseri. Melihat judulnya, saya bertanya-tanya apakah hubungan musik dengan rapi jali? Atau jangan-jangan ini kisah tentang tukang cukur yang suka bermusik?

Ternyata saya salah! 😆

Rapijali adalah sebuah akronim. Tidak perlu disebut, bisa spoiler. Menceritakan tentang Ping, seorang remaja yang tinggal di Batu Karas, Kabupaten Pangandaran. Alih-alih menggemari surfing seperti halnya Batu Karas terkenal sebagai tempat surfing, Ping malah tenggelam dalam dunia musik. Ketidakhadiran kedua orangtua dalam hidupnya membuat Ping lekat dengan kakeknya, seorang mantan pemain band terkenal di era 70-an yang kemudian melanjutkan karir musiknya bersama kakek-kakek lain. Seringkali Ping diajak menjadi pemain tambahan di band milik kakeknya, membuat Ping menjadi mahir dalam bermusik.

Hidup Ping nyaman di Batu Karas bersama kakek yang menyayanginya dan Oding, sahabat terbaik yang selalu ada bersamanya. Namun, suatu hari dunianya berubah ketika ia diminta pindah ke Jakarta, sekolah di sebuah sekolah elit, dan tinggal di rumah seorang calon gubernur yang tanpa Ping ketahui adalah ayah kandungnya.

Seperti halnya buku Dee yang lain, Rapijali diramu dengan apik. Kekuatan bercerita Dee yang mengalir asyik membuat pembaca rela hanyut begitu saja hingga tiba-tiba buku usai dan pembaca kecewa karena ternyata akhirnya masih menyimpan banyak misteri dan kejutan. 🤣

Saya paling suka cara Dee menggambarkan suasana. Ada satu bab yang secara setting waktu dan tempat sebenarnya stagnan. Tapi bab itu dipenuhi dialog dua tokoh. Dari membacanya kita bisa terbayang selekat apa hubungan keduanya. Menurut saya, itulah kekuatan bercerita Dee Lestari. Kita bisa dibuat hadir dalam dunia ciptaannya sejak dari halaman pertama.

Nilai:
⭐⭐⭐⭐⭐

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *