[ulasan buku] Jalan Panjang untuk Pulang

Halaman sampul buku

Judul buku: Jalan Panjang untuk Pulang
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 461 halaman
Harga: <150k

“Ada Jawa yang turut mengalir dalam darah kami. Kami menghirup udara Jawa; kami makan beras Jawa; kami minum jamu-jamu Jawa; kami mengikuti upacara adat Jawa dan menghormat roh-roh gaib Jawa; kami bicara dan berpikir dan bermimpi dalam bahasa Jawa. Tetapi, kami tak bisa menjadi Jawa.”

Agustinus Wibowo – Jalan Panjang untuk Pulang

Buku baru dari Mas Agus ini mengambil tema perjalanan, di mana setiap kisahnya merupakan kepingan puzzle yang mengantarkan kita untuk menyelami makna pulang.

Mungkin bagi sebagian dari kita, pulang tak lebih dari kembali ke rumah; entah itu rumah kita sendiri, rumah orangtua, kampung halaman, dll. Tetapi, di belahan dunia yang lain, pulang bisa menjadi sangat membingungkan. Terutama ketika kamu tidak tahu ke mana seharusnya kamu pulang. Atau di mana seharusnya “rumah”mu.

Pencarian jalan pulang inilah yang membawa Mas Agus berkelana menyusuri berbagai tempat. Melalui kisahnya, Mas Agus menceritakan kebingungan orang Tajik yang tertolak di Afghanistan; garis batas yang membingungkan antara Uzbekistan dan Kirgiztan; perdebatan Syiah dan Sunni yang tak ada habisnya; rusaknya “surga” Kashmir dan kebenciannya terhadap India; dan diakhiri kisah haru tentang Laut, yang menurut saya merupakan dasar dari semua perjalanan dan pencarian Mas Agus.

Semua ditulis secara gamblang, melalui riset yang mendalam, dan kita diajak melihat dari banyak sudut pandang agar tak serta merta menghakimi hanya dari satu sisi. Keren, Mas!

Kalau kamu berpikir kisah-kisah di buku ini akan membosankan, berat, dan terlalu serius, maka bersiaplah untuk kecewa. Setiap tulisannya dikemas menarik, membuatnya seasyik membaca fiksi. Tak heran, Mas Agus sendiri pernah membagikan “rahasia dapurnya” melalui beberapa kelas menulis yang ia selenggarakan sebelum buku ini terbit.

Sebagai salah satu “murid”, membaca buku karya “guru” ini membuat saya melihat bukunya dari kacamata yang berbeda. Menurut saya, Mas Agus benar-benar walk the talk saat menulis buku ini. Semua teori yang diajarkan di kelas terpraktikkan langsung dengan rapi. Kapan konflik dimulai, memuncak, dan mereda; penggunaan show dan tell dalam dosis yang tepat sehingga cerita melambat dan memburu sesuai kadarnya; pemilihan diksi yang indah walaupun tanpa dipenuhi bunga; ah, pokoknya setiap baca saya kesal! Kok bisa, sih, penulisnya jago gini?!

Kekurangan buku ini adalah… kurang banyak ceritanya. Hahaha. Setelah selesai baca, saya bengong sejenak. Mencerna fakta kalau buku telah usai. Perjalanan sudah berakhir. Saya seperti sedang jet lag. Dan akhirnya kecanduan ingin baca lagi. Mungkin terkesan berlebihan, tapi memang itulah yang saya rasakan. Terima kasih sudah menulis, Guru.

Nilai:
⭐⭐⭐⭐⭐

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *