2020 – bunch of surprises

Bisa dibilang tahun pergantian dari tahun 2020 ke 2021 kemarin adalah momen yang paling ditunggu-tunggu orang sedunia. Semua tidak sabar ingin mengakhiri tahun 2020 yang penuh kejutan sambil membawa jutaan asa untuk 2021 yang lebih baik.

Buat saya sendiri, 2020 memang penuh kejutan sejak hari pertama.

Semua diawali dari kabar papa yang tiba-tiba memburuk kondisinya saat sedang hemodialisa. Mama menangis saat saya telepon, membuat saya harus pulang dari kajian pagi itu untuk segera berkemas setelah membeli tiket ke Malang. Setiba di Malang, untuk beberapa hari kami harus bersabar tinggal di kamar rumah sakit beramai-ramai sekeluarga.

Masih di awal tahun, kami resmi pindah rumah. Kami sangat bersyukur dengan kepindahan ini. Rumah yang sedikit lebih luas, lingkungan yang mudah untuk mengakses banyak hal, dan ada taman di dalam dan belakang rumah. Anak saya juga cepat beradaptasi setelah menyadari rumah ini jauh lebih menyenangkan.

Bulan kedua, kabar duka datang. Papa berpulang setelah berhari-hari dirawat di HCU. Bersyukur papa berpulang ketika kami anak-anaknya lengkap hadir semua. Dan saat itu saya menyadari betapa berharganya keluarga yang kompak dan saling membantu seperti keluarga besar saya. Alhamdulillah.

Bulan ketiga, pandemi melanda. Pergerakan mulai dibatasi. Semua rencana, termasuk datang ke acara 40 harian papa, terpaksa dibatalkan. Tiket kereta untuk lebaran yang sudah dipesan jauh hari sebelumnya pun ikut kembali 100%.

Bulan keempat, dampak dari pandemi mulai terasa. Roller coaster ekonomi keluarga dimulai. Gaji dipotong. Suami terpaksa harus meminta rekan kerjanya mengundurkan diri. Tapi ada satu hal yang paling saya syukuri: suami tidak perlu lagi bolak-balik ke Jakarta maupun kantor.

Bulan puasa tiba. Kondisi ekonomi membuat saya harus mengatur ulang pengeluaran, termasuk menyusun daftar menu hemat selama sebulan. Terima kasih pandemi, kami jadi sadar kalau gaya hidup masih bisa diturunkan. Dan saya jadi suka eksperimen dengan masakan. Hampir tiap hari saya membuat kue kering atau bolu dan brownies untuk cemilan di rumah.

Idul Fitri! Untuk pertama kalinya kami menghabiskan bertiga saja di Bandung. Orangtua dan mertua hanya bisa kami hubungi via video call karena semuanya di luar Bandung. Ternyata Bandung saat lebaran sepi. Susah sekali kami mencari makanan yang buka pagi itu.

Bulan keenam, kami pertama kalinya mencoba keluar dari Bandung dan berkunjung ke mertua. Masker saya pakai selama di rumah. Dan kami membawa pulang Dona, kura-kura peliharaan keluarga untuk jadi teman kami di Bandung.

Bulan delapan, rasa kangen saya pada mama membuncah. Akhirnya kami putuskan ke Malang selama hampir 2 pekan lamanya. Untuk pertama kalinya pula saya berkunjung ke makam papa.

September. Anak saya ultah ketiga. Ia sering merengek ingin main di tempat main di mall. Tentu saja tidak mungkin karena tutup semua. Sebagai hadiah ulang tahun, kami sewakan ia mainan prosotan selama 2 pekan. Kami juga menghias taman tengah rumah dengan lampu hias dan memasak makanan kesukaan keluarga. Tak lupa pudding cokelat berhias buah stroberi di atasnya.

Bulan Oktober. Kami mulai berani staycation. Pilih tempat di Pangalengan untuk dapat suasana baru. Qadarullah pulang dari sana malah kami ditabrak oleh motor sehingga kami harus merogoh tabungan sangat dalam untuk biaya perbaikan mobil. Alhamdulillah saat itu kondisi keuangan keluarga sudah lebih stabil.

Akibat pengeluaran tak terduga, kami tidak bisa ke Malang untuk liburan panjang. Rencana ganti jadi mama yang ke Bandung. Akhirnya mama bisa lihat rumah baru kami, sekaligus berkunjung ke rumah adik di Purwakarta.

November. Secara mendadak saya ditunjuk menjadi direktur klinik tempat saya bekerja karena direktur sebelumnya meninggal dunia. Jadwal saya ditambah untuk mempermudah koordinasi dengan staf. Di bulan yang sama, sebelum penunjukkan sebagai direktur, saya mengajukan diri untuk terlibat sebagai pengurus Ibu Profesional Bandung. Tiba-tiba kesibukan saya berlipat ganda. Masya Allah. Saya putuskan untuk melepas kesibukan yang paling tidak membuat berbinar: bunsay. Terima kasih atas ilmu dan kesempatannya.

Akhir tahun. Lagi-lagi ditutup dengan kejutan. Alhamdulillah Allah beri amanah baru di rahim ini. Kami memang sengaja program dengan harapan kalau berhasil nanti bulan lahirnya akan sama dengan anak pertama kami. Tapi rupanya program berhasil lebih awal. Insya Allah jika tak ada halangan, adik akan lahir bulan Agustus 2021 nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *