Pemulihan

Dua pekan sudah terlewat. Sedih terangkat. Duka terbasuh.

Selama satu pekan pertama, tubuh saya masih lemah. Olahraga tidak bisa optimal. Badan juga mudah lelah.

Di pekan kedua, saya coba untuk kembali aktif. Diet resmi dimulai. Olahraga siap dijalani.

Jadwal vaksin belum terlihat hilalnya. Laporan ke dinkes setempat insya Allah sudah. Mungkin memang padat sekali antreannya.

Bisa jadi ini rencana Allah. Agar saya “terlindungi” dulu baru kemudian hamil. Agar saya dalam kondisi prima seperti saat hamil pertama untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama hamil.

Dari pengalaman keguguran ini, saya menyadari depresi bukan semata-mata sedih yang bisa dihilangkan dengan makanan enak atau jalan-jalan. Depresi butuh waktu untuk pulih dan tidak bisa dipaksakan. Dan dukungan dari keluarga dengan tidak memaksa untuk segera bangkit sangat berguna bagi saya.

Saat itu suami sadar saya butuh waktu. Ia tidak memaksa untuk segera pulih. Ia membantu meringankan kegiatan sehari-hari saya sesuai kapasitasnya. Ia bebaskan saya melakukan apapun selama masih aman. Alhamdulillah atas izin Allah saya bisa menemukan cara untuk bangkit lagi.