Skincare oh skincare

Saya termasuk sangat awam terhadap skincare. Dulu saat teman-teman sekelompok saya sudah ngerti skincare apa yang cocok dan tidak cocok untuk jenis kulit mereka, saya cuma ngerti bedak sama lipgloss doang. Bahkan saya juga nggak tahu kalau jenis kulit saya ternyata alhamdulillah normal sampai awal tahun 2020 ketika ada cek kondisi kulit gratis di sebuah acara yang sedang saya ikuti.

Sialnya (?) saya malah kenalan duluan sama make up. Saat masih kerja, saya gemes lihat efek make up terhadap wajah saya. Mana tak lama kemudian saya mau nikah. Makin semangat saya belajar make up, walaupun cuma yang dasar saja.

Kondisi berubah drastis setelah menikah. Karena sudah berhenti kerja, saya tidak merasa perlu pakai make up. Ditambah kemudian saya hamil. Selama hamil, saya tidak mau sama sekali pakai make up dan perawatan wajah. Rasanya malas sekali melakukannya. Hasilnya, setelah melahirkan, saya tampak seperti ibu kucel gendut bermuka kusam dengan kulit kering dan belang-belang. Sedih banget ini. Padahal aslinya kulit saya normal lho.

Kesibukan sebagai ibu baru membuat saya tidak peduli terhadap kondisi muka saya. Baru setelah anak agak besar, mungkin sekitar usia 2 tahun, saya tersadar diri ini perlu dirawat. Beruntung Allah hadirkan seorang sahabat yang skincare enthusiast. Sahabat saya ini sampai bikin platform khusus edukasi seputar skincare. Segera saya konsul padanya.

Atas anjurannya, saya mulai memakai skincare Korea untuk toner dan serumnya. Sedangkan krim pagi dan malam serta pembersih cari yang lokal punya. Alhamdulillah atas izin Allah perlahan kondisi muka saya membaik. Belum yang glowing seperti iklan di TV sih, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya.

Lalu pandemi melanda. Gaji suami kena potong. Saya harus bisa membuat prioritas. Skincare yang habis tak lagi saya lanjutkan. Perlahan masalah datang lagi. Muka jadi kusam, apalagi sering pakai masker.

Ketika keuangan sudah agak membaik, saya menyisihkan sebagian uang saku bulanan untuk beli skincare lagi. Tapi saya tergoda untuk mengganti skincare saya dengan yang lain. Toh kulit saya normal. Toh saya nggak mudah alergi dengan skincare. Apa salahnya ganti? Lagipula gantinya ini produk lokal dengan harga lebih murah.

Ternyata saya melakukan beberapa kesalahan besar! Pertama, saya ganti nggak pakai konsultasi dulu. Pokoknya ganti aja. Lalu kedua, saya langsung ganti semuanya! Ya pembersih mukanya, ya tonernya, ya serumnya. Nggak dicobakan bertahap. Main pakai aja semuanya keroyokan.

Hasilnya sudah bisa ditebak: breakout! Selama ini sahabat saya membahas breakout dan saya tidak pernah ngerti itu apa sampai mengalaminya sendiri. Tahunya juga gara-gara lihat medsos teman yang bahas soal kondisi breakoutnya mirip dengan yang saya alami: muncul jerawat kecil-kecil di pipi depan telinga yang nyeriii banget.

Karena sudah jelas breakout, saya hentikan semuanya. Sayang sih, masih banyak. Tapi ya gimana lagi. Saya pun kembali ke skincare lama. Alhamdulillah atas izin Allah dalam beberapa hari ada perbaikan. Satu persatu jerawat kempes dan tidak lagi muncul yang baru. Sekarang saya tinggal fokus menghilangkan bekasnya yang cukup banyak dan mengganggu.

Pelajaran dari ini semua:
1. Bersyukur! Udah punya kulit normal, bagus, sehat harus disyukuri dengan cara dirawat.
2. Jangan abai. Mentang-mentang semuanya baik-baik saja lalu sok nggak mau merawat diri. Akhirnya baru kerasa pas umur sudah 30 tahunan.
3. Belajar. Cari ilmu. Jangan ngasal. Konsultasi ke ahli. Nggak usah mikir kalau pakai skincare terkesan centil. Nggak. Itu ikhtiar merawat pemberian Allah kok.
4. Halal. Utamakan skincare yang halal. Bahannya aman dan thoyib.
5. Sadar budget. Pakai yang sesuai kebutuhan. Coba bertahap. Jangan memaksakan diri harus skincare mahal.
6. Setia. Kalau sudah nemu yang cocok, jangan ganti-ganti. Apalagi gantinya tanpa ilmu.

One Reply to “Skincare oh skincare”

  1. Kebanyakan wanita setelah menikah seperti itu, bukan karena masalah keuangan tapi membiarkan diri berat badan yang tidak terkontrol bukan hanya masalah skincare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *