Shy Shy Cat dan renungan tentang literasi

Beberapa hari lalu, saya dan suami mengisi waktu luang dengan menonton film di N*tflix. Pilihan jatuh pada film Indonesia berjudul Shy Shy Cat.

Film ini menceritakan tentang Mira, si gadis kota yang sukses dengan karirnya. Di usianya yang ke-30 tahun, tiba-tiba Mira diminta pulang oleh orangtuanya di desa untuk menikah.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Bapaknya Mira pernah berjanji pada seorang ustaz di desanya untuk menikahkan Mira dengan anaknya ustaz tersebut yang bernama Otoy. Mira tidak mau. Sosok Otoy baginya tak lebih dari anak nakal di masa kecilnya.

Tapi janji harus ditepati. Karena itu Umi dan Jessie, kedua sahabat Mira, memutuskan ikut ke desa untuk menggagalkan perjodohan mereka. Namun, saat tiba di desa, mereka terkejut melihat desa telah berubah. Begitu pula Otoy.

Saya gak akan bahas seperti apa ceritanya. Tonton saja sendiri. Fokus saya di sini tentang desa tempat tinggal Mira.

Salah satu alasan Mira tidak mau pulang ke desa adalah karena desanya merupakan tempat yang terpencil, tertinggal, dan terbelakang. Orang-orang di desanya, meskipun sholeh dan rajin ibadah, tapi bodoh. Mira merasa tinggal di desa tak akan membuatnya berkembang.

Tapi ketika akhirnya ia pulang setelah bertahun-tahun, Mira justru mendapati warga desa berbahasa Inggris. Mereka berdalih hari itu adalah English Day. Walaupun bahasa Inggrisnya masih belepotan, mereka konsisten selama seharian.

Tak hanya itu, desa juga tampak berubah. Di desa ada wi-fi. Jalanan lebih bagus. Warga rajin bercocok tanam. Desa tampak subur dan indah sekali, sampai kedua sahabat Mira betah tinggal di sana. Mira bertanya-tanya, sejak kapan semuanya berubah?

Adalah Otoy, orang di balik semua perubahan ini. Setamat kuliah, ia kembali ke desa dan membangunnya. Ia hadirkan teknologi untuk membuat tanah di desa jadi subur. Ia kelola agar desanya bisa menjadi desa ecowisata untuk menarik perhatian wisatawan sekaligus memancing mereka untuk membeli produk desa mereka langsung dari petaninya.

“Sekarang orang-orang di desa ini lebih suka bekerja di sini. Tidak seperti dulu dimana mereka selalu keluar desa untuk mencari kerja,” ujar salah satu warga desa.

Meskipun ini hanya fiksi, tapi cerita ini mengingatkan saya pada materi salah satu webinar yang pernah saya ikuti.

Butet Manurung, pemateri sekaligus pendiri Sokola Rimba, mengajak kita semua untuk melihat lebih luas dalam penyebaran pendidikan dan literasi. Baginya, jika ingin mengajarkan literasi pada orang-orang selain di kota, penting untuk menguatkan literasi pendidikan lokal mereka. Bukan malah menghilangkan.

Menurut Butet, pendidikan yang dirancang di negeri ini kebanyakan berdasarkan kebutuhan orang kota. Akibatnya, mereka yang bukan di kota akan merasa bahwa ilmu tersebut tidak bisa digunakan di desanya sehingga memaksa mereka harus mencari kerja di kota.

Arus urbanisasi meningkat, lapangan pekerjaan makin langka, dan makin banyak pengangguran. Belum lagi permasalahan lingkungan akibat padatnya penduduk.

Seharusnya pendidikan bukan merata, tapi adil.

Sebagai contoh orang Rimba. Pendapat mereka tentang rumah berbeda dengan kita. Mungkin kita merasa kasihan melihat rumah mereka “kecil”. Tapi buat mereka, rumah “kecil” itu hanya sebuah tempat untuk tidur. Rumah sebenarnya adalah hutan yang luas. Kamar mandi mereka sepanjang sungai mengalir. Kulkas mereka adalah seluruh hutan di mana mereka akan mengambil secukupnya agar masih ada yang bisa diambil untuk besok.

Dalam sudut pandang mereka, orang kota justru yang kasihan. Memiliki rumah hanya sepetak, dibatasi dinding pula. Orang kota harus sekolah bertahun-tahun, lalu saat bekerja hanya memiliki rumah petak kecil. Bayarnya pun harus mencicil. Kulkasnya kecil. Bahan makanan hanya sedikit.

Maka jika ingin mengajar di sana, ajarkan ilmu yang terkait dengan lingkungannya. Mereka butuhnya cari pohon, bukan pelajaran di sekolah seperti kita.

Validasi pendidikan lokal mereka, terutama yang biasa diwariskan orangtua pada anaknya. Jika di sana banyak tanaman tertentu, ajarkan cara mengolah sumber daya sekitar mereka. Buat program literasi untuk mengenal sekitarnya. Libatkan ketua adat untuk membuat kurikulum.

Hal senada juga diungkapkan Windy Ariestanty dalam webinar yang sama. Menurutnya, hakikat literasi adalah membaca, menulis, memahami, dan mampu menemukan jalan keluar dari masalah. Jadikan pendidikan sebagai sarana pemecahan masalah saat itu juga.

Dalam hal ini, Windy mengajak kita lebih berhati-hati ketika akan menyumbangkan buku. Sangat dianjurkan untuk mengecek kondisi tempat yang akan diberikan buku. Jika daerahnya tak ada sawah, jangan berikan buku tentang bercocok tanam di sawah.

Pilih buku yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan lingkungannya. Jangan buat si penerima buku justru merasa tidak bersyukur atas kondisi lingkungan mereka karena mendapati lingkungannya tidak seperti di buku yang mereka baca.

Literasi jangan membawa pergi.

Saya pribadi sepakat dengan keduanya. Pendidikan itu seharusnya unik. Membuat kita mengenal sekitar kita, mengelola apa yang ada, bukan terobsesi merantau karena merasa tidak ada apa-apa di sekitarnya. Bukan berarti mengesampingkan teknologi juga. Justru teknologi bisa digunakan untuk membantu, seperti yang dilakukan Otoy pada desanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *