Jaga Asa Membaca

Pada hari Sabtu, 24 Oktober 2020 saya mendapat kesempatan mengikuti webinar Festival Bulan Bahasa 2020 melalui aplikasi zoom. Webinar yang diselenggarakan oleh Pelita ini menghadirkan Windy Ariestanty, founder Patjarmerah, sebagai pemateri. Dalam kesempatan kali ini, Windy mengusung tema “Jaga Asa Membaca dengan Etalase Bergerak”.

Mendengar istilah etalase bergerak, saya teringat event yang diadakan patjarmerah di sebuah kota. Event pasar buku itu memang tidak pernah saya hadiri, tapi penyelenggaraannya mendapat sambutan baik dari teman-teman saya di kota tersebut. Maklum, di masa itu BBW sedang marak. Sayangnya kota itu tidak pernah didatangi event BBW. Sehingga kehadiran pasar buku patjarmerah seperti angin segar bagi mereka.

“Patjarmerah memang dibuat karena ingin menyebarkan kemudahan akses literasi,” tutur Windy. Tak heran, kota-kota yang dipilih sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan adalah bukan kota besar, walaupun bukan kota pelosok juga.

Windy kemudian berkisah tentang pengalamannya menyelenggarakan kelas menulis luring. Hampir di semua event kelas menulis yang diadakan di kota-kota kecil dihadiri minimal 100 peserta. Bahkan pernah ada satu kelas SMA bolos untuk menghadiri kelas menulis tersebut. Hingga akhirnya guru dari sekolah itu datang untuk menanyakan event apa ini sampai anak didiknya bolos semua.

Dari semua pengalaman tersebut, Windy mencoba menarik kesimpulan bahwa bukan minat baca orang Indonesia yang rendah, tapi bisa jadi karena akses bacanya yang kurang. Akses di sini bisa berupa ketersediaan buku maupun harga buku yang terjangkau atau tidak.

Sejak itu, Windy merasa perlu melakukan sesuatu demi meningkatkan akses baca, terutama ke daerah pelosok. Ia menyukai traveling. Ia manfaatkan hal tersebut untuk menghadirkan buku ke tempat yang ia kunjungi. Setiap traveling, Windy selalu menyediakan tempat di tasnya untuk membawa buku yang ia sukai. Buku itu nantinya akan diletakkan di tempat-tempat yang mudah dijangkau banyak orang. Bisa di rumah baca atau perpustakaan setempat, di cafe yang kebetulan ada pojok bacanya, atau di tempat lain yang memungkinkan.

“Sumbang buku yang kita suka. Agar orang lain tahu apa yang kita rasakan, bagaimana asyiknya membaca buku tersebut,” pinta Windy.

Menurut Windy, apa yang ia lakukan ini tidak seberapa dibanding para pegiat literasi di pelosok sana. Ia mengambil contoh beberapa orang. Di Natuna, seorang pegiat literasi sengaja mengumpulkan buku-buku selama ia kuliah di Jawa lalu ia buat rumah baca di ruang tamu rumahnya untuk warga sekitar. Di Danau Toba juga ada perahu baca. Perahu ini khusus berkeliling untuk mengantarkan buku-buku. Setiap kedatangannya selalu disambut antusias oleh anak-anak yang langsung mengerubung.

Tentang harga yang terjangkau, Windy menuturkan tentang usahanya mendekati para penerbit agar dapat memberikan harga yang tepat. “Di pasar buku patjarmerah semua bukunya terjangkau namun tetap berkualitas,” ungkapnya.

Saat sesi diskusi, saya menanyakan tentang pentingnya kurasi buku sebelum diberikan kepada daerah pelosok. Menurut Windy, kurasi sangat penting dilakukan. Kita harus tahu bagaimana kondisi daerah tersebut. Jangan sampai daerah yang tidak ada sawah tapi kita beri buku cara menanam di sawah.

“Ini kelemahan pendidikan di negara kita,” ujarnya. “Kebanyakan kita diajarkan untuk merantau, bukan membangun kampung halaman.”

Berikan buku yang mereka butuhkan. Jangan sampai buku kita malah menjadikan mereka kurang bersyukur atas kondisi mereka. Tanyakan ke pegiat literasi setempat apa kebutuhan orang-orang sana.

Sayangnya saya tidak bisa melanjutkan sesi diskusi sampai habis. Namun yang sedikit ini sungguh menginspirasi saya yang memang minat di dunia literasi ini. Terima kasih banyak Pelita dan Windy Ariestanty atas webinarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *