[ulasan buku] Mirah dari Banda

Judul buku: Mirah dari Banda
Pengarang: Hanna Rambe
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Jumlah halaman: 388 halaman
Harga: <50k

“Dalam lingkungan saya sendiri, ia menjadi anak saya. Juga anak Tuan Besar. Namun di muka umum, ia diperlakukan sebagai perempuan Indo. Derajatnya lebih tinggi dari saya, wanita yang melahirkannya, lebih rendah dari Tuan Besar, pria yang menyebabkan kelahirannya. Saya rasa jalan pikiran seperti itu tidak dapat dimengerti. Mungkin karena saya bodoh, orang kontrak belaka, maka saya tak bisa menangkap pikiran seperti itu?”

Mirah dan Banda memiliki banyak kesamaan. Sama-sama dicabut dari akarnya. Dihilangkan identitas aslinya.


Mirah tak pernah menyangka hidupnya akan seperti itu sejak ia dibawa pergi bersama pengasuhnya ke Banda. Mereka terjebak dalam perbudakan manusia.

Di masa itu, Banda menjadi primadona dunia sebagai tempat penghasil pala. Kebutuhan pala yang meningkat di berbagai penjuru dunia membuat sifat serakah manusia bangkit. Belanda, yang pada akhirnya menguasai daerah itu, mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya untuk dipekerjakan di perkebunan pala. Mereka menjadi buruh kontrak yang ketika masa kontraknya habis dijanjikan boleh kembali ke daerahnya.

Sayangnya, Mirah bukanlah buruh kontrak. Ia masih terlalu kecil saat diculik ke Banda. Ia tak pernah ingat nama orangtua maupun kampung halamannya di Jawa. Ia pun tumbuh di lingkungan para buruh kontrak. Pada akhirnya ikut bekerja walaupun tidak pernah tahu seperti apa kontraknya.

Mirah yang cantik kemudian diambil menjadi nyai seorang Belanda–yang biasa dipanggil Tuan Besar. Dari situ lahirlah kedua anaknya, Lili dan Weli, keturunan Indo yang cantik dan tampan. Namun Mirah tidak bahagia. Bukan ini yang ia inginkan. Tapi Mirah tidak lagi tahu apa yang seharusnya ia lakukan dan apa yang sebenarnya ia inginkan. Semuanya telah terkubur sejak ia meyakini dirinya cuma orang kontrak yang tidak boleh memiliki keinginan dan tidak boleh melawan.

Penulis sangat lihai dalam menghadirkan suasana perbudakan di masa itu. Perkembangan karakter Mirah mengalir dengan baik, sehingga semua tampak make sense ketika Mirah menjadi seperti demikian. Suasana perang yang mencekam juga digambarkan dengan apik, membuat saya seperti bisa merasakan Mirah hadir di hadapan saya sambil menceritakan semua kisahnya.

Membuat saya ingin memeluk Mirah dan berterima kasih karena telah bertahan dan berjuang.

Nilai:
⭐⭐⭐⭐⭐

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *