[ulasan buku] Ilmuwan Ilmuwan Muslim

Halaman sampul

Judul buku: Ilmuwan Ilmuwan Muslim
Pengarang: Ehsan Masood
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 208 halaman
Harga: ???

“Buku ini memperlihatkan mengapa imperium Islam berhasil memajukan sains sehingga menghasilkan karya.”

Ada banyak ilmuwan di dunia ini. Tak terkecuali ilmuwan muslim. Di puncak kejayaan imperium Islam, banyak sekali ilmuwan muslim turut berjaya. Karya demi karya hadir untuk menjawab berbagai tantangan hidup yang dihadapi.

Saya sering bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya kondisi mereka saat itu sehingga sains begitu maju? Apakah tiap ilmuwan memiliki spesialisasinya masing-masing, seperti ungkapan “meninggikan gunung, bukan meratakan lembah”?

Melalui buku ini, banyak pertanyaan saya yang akhirnya terjawab. Dan jawabannya cukup membuat tercengang.

Rupanya para ilmuwan ini bukan hanya memiliki satu spesialisasi, tapi banyak! Tak sedikit ilmuwan yang tidak hanya ahli astronomi, tapi juga filsafat. Tak hanya mahir kimia, tapi juga matematika. Membuat saya bertanya-tanya lagi; kok bisa?

Lalu saya menemukan sebuah pola yang berulang.

Mengapa ilmu pengetahuan berjaya di masa imperium Islam dulu?
1. Agama: kebutuhan atas pelaksanaan ibadah dengan sebaik-baiknya mendorong masyarakat di masa itu untuk menggali pengetahuan. Mereka menggunakan sains untuk menentukan arah kiblat (geografi), ketepatan waktu sholat (astronomi), cara penghitungan warisan (matematika), dll
2. Dukungan ummat: mereka yang kaya dengan senang hati dan sukarela mewakafkan apapun untuk kemajuan sains karena Allah ta’ala. Tak sedikit orang kaya membangun observatorium demi kelancaran perkembangan sains. Ibarat kalau tidak bisa menyumbang pikiran, lebih baik ikut andil dalam pembiayaan. Biar sama-sama kecipratan pahalanya.
3. Dukungan pemerintah: pemerintah yang sevisi misi tentang ahsanu amala sehingga berusaha mendatangkan sumber ilmu. Pemerintahnya tahu ilmuwan butuh buku, maka didatangkan buku-buku penting dari jauh. Penerjemahan karya digencarkan. Mereka yang membantu dibayar mahal.
4. Kesejahteraan: kondisi masyarakat yang sudah terpenuhi kebutuhan pokoknya sehingga bisa fokus untuj mengembangkan hal lain. Ini diskusi saya dengan suami. Negara yang maju umumnya penduduk bisa lebih fokus memikirkan selain kebutuhan pokok (sandang pangan papan).
5. Pola yang sama: mereka yang sukses banyak yang diawali dengan menjadi hafidz Qur’an di usia muda, lalu mendalami pengetahuan lain setelahnya. Saat usia muda, fokusnya hanya pada Al Qur’an. Setelah mereka menguasai Al Qur’an, baru mereka mempelajari ilmu lain.

Mengapa runtuh kejayaannya?
1. Dukungan hilang: serbuan dari kerajaan lain, ganti pemimpin ganti kebijakan, hilangnya wakaf dan dana ummat, dll
2. Musuh islam: itu nyata, mereka tidak suka dengan kebesaran islam di masa itu sehingga mencari cara untuk menghambat kemajuan iptek. Seperti kisah di India ketika bahasa Arab dan Persia di sana perlahan diganti bahasa lain sehingga terputuslah akses masyarakat untuk mampu memahami buku pengetahuan yang kebanyakan ditulis dalam Bahasa Arab dan Persia.
3. Menyalahgunakan sains: digunakan untuk menyelisihi syariat. Merasa sudah berilmu lalu malah mempertentangkan dan mempertanyakan syariat Allah. Mungkin ini yang dinamakan ilmunya tidak barokah.

Nilai:
⭐⭐⭐⭐

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *