Belajar dari manusia: mendobrak rintangan bahasa

Namanya Yukari. Seorang gadis asal negeri Sakura berusia 23 tahun. Perawakannya tinggi langsing dengan rambutnya lurus sebahu. Senyum selalu tersungging di bibirnya. Ia berbicara dengan penuh semangat, mengingatkan saya pada karakter-karakter perempuan di anime.

Yukari adalah salah satu delegasi Jepang di konferensi tahunan ini. Ia ditakdirkan berada di kelompokku, kelompok 18, bersama 16 orang delegasi lain dari 10 negara yang berbeda. Bersama orang-orang dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, tentu saja akan menarik kalau bisa berbagi kisah.

Hanya saja, sayangnya, Yukari kurang lancar berbahasa Inggris, bahasa yang ditetapkan menjadi bahasa persatuan di konferensi ini.

Semua yang melihat Yukari pasti tahu bahwa ia sangat ingin berinteraksi dengan yang lain. Ia suka berada bersama delegasi lain di kelompok kami sambil berusaha terlibat dalam obrolan. Tapi di balik senyum ramahnya terlihat sedikit kerutan di antara kedua alisnya. Kerutan kecil yang mungkin kita tidak akan sadar. Mengisyaratkan ia kurang paham apa yang disampaikan lawan bicaranya.

Sudah jadi rahasia umum bahwa delegasi Jepang dan Korea adalah delegasi yang paling besar language barriernya. Hal itu menyebabkan delegasi dari kedua negara ini seringkali hanya diam saat diskusi. Belum lagi kalau mereka benar-benar aslinya pendiam. Seperti Ahry, delegasi Korea di kelompok saya pada konferensi sebelumnya.

Terus terang saya tertarik melihat Yukari. Usahanya untuk bisa berinteraksi dengan yang lain, kekecewaannya yang tak bisa disembunyikan saat ia gagal memahami apa yang disampaikan lawan bicaranya, membuat saya ingin mengobrol dengannya.

Siang itu, seperti biasa kami di dalam bus. Terima kasih kepada kemacetan Kota Jakarta, saya jadi bisa duduk lebih lama sambil mengamati Yukari. Di bus dengan formasi tempat duduk 3-2 ini saya memilih duduk di kursi isi 3 bersama Yukari dan Sherry.

Saya perhatikan Yukari sedang membaca buku. Buku itu penuh dengan tulisan Jepang, tulisan yang saya sudah cukup familiar karena pernah mempelajarinya dalam jangka waktu lama. Sesekali Yukari mengobrol bersama Sherry. Ia tampak menanyakan sesuatu di buku tersebut.

Sherry adalah delegasi dari Taiwan. Usianya 20 tahun. Perawakannya tidak terlalu tinggi–mungkin sekitar 150 cm–dengan badan tegap dan padat. Rambutnya pendek lurus dengan potongan bob. Ia tak banyak bicara. Suaranya pelan tapi tegas. Bahasa Inggrisnya lancar seperti delegasi Taiwan pada umumnya. Ia kuliah di kampus dengan pendidikan semi militer. Tak heran didikannya tercermin dari penampilannya.

Taiwan dan Jepang termasuk penyumbang banyak delegasi saat konferensi sehingga tiap kelompoknya bisa terdiri dari 2 delegasi dari masing-masing negara tersebut. Di kelompok kami, Sherry berpasangan dengan Brian, seorang pria jangkung berkacamata yang cerdas. Katanya ia dari kampus unggulan di negaranya. Sedangkan Yukari berpasangan dengan Kentaro, pria berusia 30 tahun–yang tertua di kelompok kami–yang tidak banyak omong dan sering tertidur.

Mungkin karena persamaan “sama-sama dipasangkan dengan lawan jenis” itulah Yukari dan Sherry jadi lebih dekat. Sejak awal konferensi mereka sudah sering bersama. Namun, berbeda dengan Yukari, Sherry tampak tidak terlalu antusias berinteraksi dengan yang lain. Ia hanya mengamati tanpa banyak bicara.

Saya penasaran dengan obrolan Yukari dan Sherry. Saat menguping, saya justru menemukan sesuatu yang menarik: cara Sherry berbicara. Ia berbicara pelan, mengeja kata demi kata dengan kecepatan rendah, sambil menggunakan present tense. Sebagai grammar police, saya gemas mendengarnya. Dengan kemampuan Bahasa Inggrisnya yang bagus, semestinya Sherry bisa membedakan kapan menggunakan present tense dan kapan tenses lainnya.

Namun kemudian saya melihat reaksi Yukari. Ia paham apa yang Sherry sampaikan dan ia membalas dengan Bahasa Inggris terbatas, mengeja kata demi kata dengan perlahan, dan semuanya menggunakan present tense! Sesekali ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk seperti kalkulator–yang ternyata adalah kamus Jepang-Inggris–dari tasnya. Ia mengetikkan kata, lalu menunjukkan terjemahan di layar pada Sherry.

Ah, rupanya begitu. Sherry sedang menyesuaikan cara berbicaranya Yukari. Sherry memiliki kemampuan pengamatan yang luar biasa. Ia mampu memahami kesulitan yang dialami Yukari sehingga dengan sabar ia berbicara perlahan pada Yukari. Penggunaan present tense adalah agar Yukari mudah memahami. Ibaratnya pakai present tense saja Yukari mengalami kesulitan, apalagi harus pakai tenses yang lain. Ini seperti menampar saya yang terlalu berfokus pada grammar harus selalu benar dan tepat.

Sungguh tidak mudah berbicara seperti itu. Rasanya seperti sedang berbicara dengan anak usia 2 tahun yang belum mengerti, tapi bedanya lawan bicaranya berusia lebih tua darinya. Kesabaran Sherry di sini patut diacungi jempol.

Dan Yukari tak malu menunjukkan keterbatasannya. Ia tak ragu mengeluarkan kamusnya dan menunjukkan pada lawan bicaranya. Sebegitu kerasnya ia berusaha bisa berinteraksi.

Begitulah bahasa. Ia adalah alat untuk berkomunikasi. Jika terjadi perbedaan bahasa, bukan berarti komunikasi tidak bisa berjalan. Karena manusia sudah dianugerahi akal. Mereka mampu terus berkembang dalam mencari penyelesaian tiap masalah yang dihadapi.

*******

Esoknya, masih di dalam bus, saya mengajak Yukari mengusir bosan dengan bernyanyi. Saya tak tahu lagu Jepang apa yang ia tahu, sehingga saya memilih lagu yang sudah umum: Doraemon. Kami bernyanyi dengan lirik aslinya, membuat delegasi lain bingung bahasa apa yang kami nyanyikan.

Beberapa orang antusias menanyakan lirik lagu aslinya pada Yukari. Setelah beberapa lama bicara, mereka mulai paham keterbatasan bahasa Yukari sehingga mereka melambatkan bicaranya seperti yang biasa Sherry lakukan.

Senyum Yukari merekah. Lebih lebar dari biasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *