[bunsay] belajar berkebun

Berawal dari tekad ingin belajar dari kesalahan + ingin pantang menyerah + ingin punya ketahanan pangan + ingin belajar hal baru + ingin menambah makhluk yang bertasbih pada Allah, akhirnya pagi ini saya putuskan untuk mengayuh sepeda ke Casa Farm. Tanya-tanya, belajar, lalu pulang bawa peralatan berkebun baru. Mumpung baru dapat THR ye kan.

Karena agak sibuk, ba’da asar baru bisa eksekusi. Anak diajak biar ikut belajar juga.

“Berkebun, yuk,” ajak saya.

“Ayo!” Ujarnya semangat.

Saya bongkar peralatannya, lalu disajikan di depan kami berdua.

“Ini saja yang dibutuhkan. Sisanya nanti,” saya mulai memberi instruksi. “Pertama, kotak-kotak ini dibasahi dulu. Mama saja yang ngasih air, ya.”

Dia mengamati. Lalu saya kembali.

“Tiap kotak kita beri lubang seperti ini,” ujar saya sambil memberi contoh. “Masing-masing 4 lubang.”

Anak saya melubangi tiap kotaknya. Tapi posisinya tidak teratur. Lalu ada yang lebih dari 4 lubang dalam 1 kotak. Ah, rupanya instruksi saya terlalu banyak sehingga menumpuk.

“Setelah itu kita masukkan biji ke tiap lubangnya,” saya berikan biji di tangannya.

Ia ikut memasukkan biji. Lama-lama ia bosan. Biji dibuat main, diletakkan asal, dilempar-lempar. Tanpa sadar saya teriak, “Jangan dibuat main!”

Evaluasi hari ini:

Saya tidak menerapkan metode Keep Information Short Simple sehingga membuat anak bingung. Selain itu cara menegur saya juga salah.

#harike6
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *