[bunsay] membangun istana pasir

Setelah diajak bermain ke pantai, rupanya kami semua dapat pesan untuk membangun sebuah istana pasir. Apakah ada aturannya? Tentu tidak, guys. Baik desain, peralatan, maupun cara membangunnya bebasss. Pasirnya pun terserah kita, mau pakai pasir pantai boleh, pasir bawa sendiri juga boleh.

Kami hanya diberi petunjuk: self talk. Ngomong dhewe karo atimu.

Ya udah. Karena diminta ngomong sendiri, sekalian ngomong di sini ya.

Disclaimer: di bawah ini adalah monolog kegelisahan hati saya, bagian dari ngomong sendiri. Bisa penting, bisa tidak. Lewati saja kalau membosankan.

Ada satu hal yang membuat saya gelisah saat mendengar kata-kata tour guide kami kemarin, yaitu tentang pemilihan diksi. Buat saya itu mengganggu sekali. Ibaratnya ketika diminta untuk membuat istana pasir, kalau kita tanya ke google pasti ada standar desainnya. Begitupun diksi-diksi yang bermunculan. Semua standar.

Lalu sebuah pertanyaan terus mengusik saya: apakah saya memang benar-benar memerlukan standar tersebut?

Katakanlah saya punya target. Idealnya target itu terukur. Kalau menurut teori, kita bisa pakai patokan SMART (Spesific, Measureable, Asignable/Achievable, Realistic, Time).

Pikiran saya melayang pada hal serupa yang pernah saya kerjakan. Lalu pikiran saya kembali lagi pada kata-kata tour guide kemarin, “…harus sejalan paralel dengan kehidupan nyata…”

Saya kembali termenung. Apakah ketidakparalelan tersebut yang membuat saya tampak gini-gini aja tanpa perubahan?

Pertanyaan terus bermunculan. Itu bagus. Lebih baik lagi kalau kita pakai 5W+1H. Tapi kali ini saya tambahkan: to whom should I do these?

Apa benar semua ini (seharusnya) untuk keluarga saja? Padahal saya sedang berusaha untuk ahsanu amala; melakukan sebaik-baiknya amal. Dan amal yang baik adalah yang diniatkan untuk Allah.

Kalau gitu standar yang dipakai harusnya standar dari-Nya. Bukan begitu?

Maka dari itu, setelah perenungan panjang sampai mengorbankan jumlah melatonin dan GH yang berharga, saya menyusun versi terbaik istana pasir sebagai mana berikut:

Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga adalah ibu yang berusaha sebaik mungkin untuk tuntas terhadap amanah yang dititipkan padanya.

Untuk menyusun istana ini, saya coba cari desain dan bahan dari google.

Pertama, apakah profesional itu? Ada banyak deskripsi yang saya temukan. Satu yang paling menarik buat saya adalah “memiliki semangat hidup dalam melaksanakan suatu pekerjaan sesuai bidangnya.”

Semangat hidup, guys. Profesional itu ngerjainnya pakai hati. Penuh semangat. Gak hanya berpatokan sama standar kompetensi.

Lantas apakah memiliki dan mengikuti standar itu salah?

Oh, jelas tidak. Justru itu bagus. Tapi saya rasa kita punya pilihan untuk memilih; ingin jadi sebenar-benarnya ahli atau sebatas bisa. Ibarat standar kompetensi dokter. Ada beberapa kasus yang kompetensinya 4 yaitu bisa dikerjakan semuanya termasuk dokter umum. Tapi ada juga yang kompetensinya 2 atau bahkan 1, yaitu harus diserahkan pada spesialis terkait. Ojo kabeh dipek dhewe. Mumet sirahmu kuwi.

Saya teringat seseorang yang saya usahakan untuk bisa jadi role model saya dalam hal ini. Beliau ahli, bahkan sangat pakar, di bidang yang memang sangat beliau sukai. Beliau tak segan meluangkan waktu dan biaya untuk kepakaran tersebut. Kemudian untuk beberapa hal, beliau memilih bisa, tapi tidak untuk menjadi ahli. Bisa di sini tentunya dalam hal yang bisa ditoleransi dan masih bisa diterima hasilnya, bukan bisa tapi asal-asalan.

Saya katakan tadi bahwa saya memiliki standar sebelumnya. Standar yang ternyata terlalu muluk-muluk, padahal saya seharusnya bisa memilih sebatas mana kepakaran tersebut saya perjuangkan.

Mari kembali ke desain dan bahan istana pasir yang didapat dari google. Kali ini tentang definisi bangga. Ada sebuah blog di Kompasiana yang menuliskan maknanya dengan menarik, “…ketika kita bisa membuat orang-orang yang kita cintai tersenyum tulus atas apa yang kita kerjakan…”

Dari situ saya mulai menemukan strong why mengapa saya perlu belajar lagi. Saya ingin Sang Pemberi Amanah tidak kecewa, dan bahkan bisa tersenyum tulus, melihat usaha saya untuk mempersembahkan yang terbaik.

Itu aja sih.

*******

PETA DIRI

Harus saya akui, 15 bulan itu luamaaaa. Suwe, rek! Pasti nantinya jalan yang ditempuh gak mulus lurus gitu-gitu aja. Kalau lurus, jangan-jangan saya di jalan yang salah.

Itu garisnya terlihat lurus, tapi saya bersiap jika jalannya mendaki gunung lewati lembah. Yang penting bersama teman bertualang! Yay!

*******

SIMBOL DIRI

Duh, ini yang paling sulit buat saya. Jangan suruh saya bayangin kupu-kupu ya. Saya gak pengin jadi kupu-kupu kok. Tapi juga gak mau pakai simbol hewan, hmmm…

Baiklah. Saya pakai ini saja.

Semua digambar sendiri untuk menghindari repotnya mencantumkan copyright. 😆

Infinite. Tak terbatas.

Desain istana pasir saya tak terbatas. Apapun bisa saya bangun, bahkan ketika sudah jadi bisa saya tambahkan, kurangi, atau dibongkar ulang.

Cara membangunnya tak terbatas. Media membangunnya tak terbatas. Intinya, saya tak ingin membatasi diri selama itu masih dalam koridor yang benar dengan tujuan yang tepat: mencari ridho Allah.

Bismillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *