Eyang favorit

Malam itu saya “mengobrol” dengan papa yang sedang terbaring tak sadar di ruang High Care Unit (HCU). Saya sampaikan permintaan maaf atas sikap saya selama ini, begitu pun saya telah memaafkan beliau. Saya ceritakan bagaimana mama yang tidak mau pulang walaupun lelah. Terus setia menunggu papa dalam segala kondisi.

Semua baik-baik saja sampai saya menceritakan tentang anak saya.

Mata saya tak kuasa menahan air mata yang langsung meluncur deras.

Papa adalah eyang favorit anak saya. Sudah jelas. Bukan mama atau mertua.

Dalam pikiran polos anak saya, papa saya orang yang menyenangkan.

Selalu membelikan mainan yang ia suka.

Selalu membolehkan anak saya menonton YouTube di TV.

Selalu mengajak anak saya jalan-jalan keliling komplek pakai stroller dan pulangnya selalu dibelikan susu atau es krim kesukaannya.

Selalu semangat menemani anak saya bermain padahal fisiknya lelah menghadapi energi anak saya yang luar biasa.

Tiap pulang ke rumah orangtua, anak saya pasti bertanya, “Kita ketemu Tutung?”

Tutung adalah panggilan kesayangan untuk papa. Karena dulu anak saya belum bisa bilang Yangkung. Lalu akhirnya jadi kebiasaan manggil Tutung.

Air mata itu menetes dan kalimat saya terhenti setelah mengatakan, “Papa itu eyang favoritnya…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *