Menyapih TV

Dulu saya gemas lihat anak saya tidak tertarik nonton TV. Kan lumayan kalau dia nonton TV anteng saya bisa melakukan hal lain, pikir saya dulu.

Tapi itu dulu.

Perkenalan anak saya pada asyiknya menonton TV dimulai dari rumah orangtua. Btw, kalau pulang ke rumah orangtua saya, anak saya jadi primadona. Maklum, cucu pertama. Semua semangat ingin bermain bersamanya. Tak terkecuali Eyang Kung-nya.

Hanya saja ada gap yang cukup berarti antara stamina anak saya dengan Eyang Kungnya. Hal itu menyebabkan Eyang Kung kewalahan dalam mengasuh, tapi di sisi lain masih ingin main bareng. Lalu apa siasat Eyang Kung?

Nonton YouTube. Tapi di TV.

Dari awalnya lagu anak-anak, lalu beranjak ke video apapun yang diinginkan anak saya. Jadilah ia sadar ternyata menonton TV menyenangkan.

Saat pulang ke Bandung, anak saya meminta hal serupa. Saya tegaskan kalau TV yang bisa request sendiri isinya cuma ada di TVnya eyang. Sejak itu ia tak pernah absen meminta nonton TV kalau ke rumah eyangnya.

Lama-lama ia mulai mencoba nonton TV di rumah. Demi keamanan, kami hanya menyetelkan channel anak-anak seperti Nick Jr. Rupanya ia yang awalnya nggak betah nonton lama, ternyata bisa juga menikmati. Bahkan bisa sampai mengerti alur ceritanya dan hafal nama tokohnya.

Keadaan makin mengkhawatirkan ketika setiap bangun tidur yang dicari duluan adalah remote. Lalu ia bisa seharian di depan TV. Koleksi bukunya tak pernah lagi disentuh. Saya pikir mungkin karena bosan belum ada buku baru. Tapi saat seorang teman memberinya 3 buku baru, ia biasa saja.

Untungnya anak saya belum terlalu pintar untuk mengerti kalau TV bisa diubah jadi HDMI atau AV. Saya atur mode tersebut sehingga ia tidak bisa menonton.

“Mungkin TVnya perlu diistirahatkan dulu karena terlalu lama dinyalakan,” ujar saya. Ia menurut.

Awalnya ia sesekali menanyakan soal TV. Saya biarkan ia mengecek sendiri kondisi TV yang masih hitam semua. Kemudian ia menyerah. Satu persatu mainan ia keluarkan. Saya terharu ketika ia menyodorkan buku pada saya, “Baca buku yuk!”

Hari itu saya lebih lelah dari biasanya. Bukan hanya karena suami sedang tidak di rumah sehingga tidak ada support system yang bisa gantian ajak main. Bukan juga sekedar karena banyaknya kerjaan domestik menanti. Tapi lebih karena mulut berbuih harus membacakan banyak buku.

Justru itu yang saya inginkan, kan?

Saya senang. Selain karena ia jadi tertarik baca buku lagi, saya juga menyadari fokus dan konsentrasinya sudah jauh meningkat. Buku-buku dengan teks yang panjang biasanya tidak bisa menahannya terlalu lama, tapi kali ini bisa. Bahkan ia menamatkan 3 jilid buku Muamalah Untuk Anak dalam sehari bersama saya. Masya Allah.

Doakan saya kuat menyapih TV ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *