Your feeling is valid

Ponsel suami saya berbunyi. Ia mengobrol singkat dengan seseorang. Setelah obrolan diakhiri, ia berkata, “Kita siapkan untuk pindah ya.”

Wacana pindah sudah ada sejak beberapa bulan lalu. Kami sadar rumah yang kami tempati dengan sistem kontrak ini tidak bisa diperpanjang lagi masa kontraknya. Alhamdulillah sudah ada pengganti yang pas. Kami sengaja mencari agak jauh waktunya dari jatuh tempo kontrakan agar ada waktu untuk bersiap.

Kalau cuma berkemas, mungkin tidak lama. Yang susah adalah mem-briefing anak kami.

Ia sudah pernah kami ajak beberapa kali ke calon rumah. Sudah kami ceritakan senangnya kalau tinggal di sana dengan taman yang luas dan ia juga akan punya kamar sendiri. Tapi tetap saja ia menolak. “Kita di rumah ini aja,” katanya saat balik ke rumah lama.

Suatu hari, beberapa hari sebelum tanggal pindahan, saya sibuk memikirkan persiapan packing. Beberapa kali saya bicara sendiri tentang koper, kardus, dan packing. Lama-lama anak saya curiga.

“Koper dan kardus buat apa?”
“Buat taruh barang kita.”
“Mau dibawa ke mana?”
“Ke rumah baru.”
“Kita di sini aja.”

Saya diam sejenak sambil menatapnya.

“Sayangku, kamu tahu kan rumah kita ini pinjam?”
“Tahu.”
“Ibu yang punya rumah sudah menelepon papa. Sudah waktunya rumahnya dikembalikan.”
“Kita di sini aja…”

Saya tersenyum lalu mengelus kepalanya.

“Kamu sedih ya harus pergi dari rumah ini?”

Ia diam.

“Mama juga sama. Sediiih banget. Apalagi mama sudah tinggal di rumah ini selama 3 tahun. Sejak sebelum kamu lahir.”

Ia masih diam. Menyimak.

“Dari awalnya rumah ini kosong, sampai sekarang sudah banyak barangnya. Mama juga sama sedihnya kalau pergi dari sini. Tapi kita harus pergi. Rumahnya harus dikembalikan ke yang punya.”

Ia masih menyimak.

“Nanti kita cari cara ya biar kita semua betah di rumah yang baru.”

Setelah diam beberapa saat, ia berkata, “Mama…peluk…”

Kami berpelukan selama beberapa saat. Setelah itu ia tersenyum.

“Jadi nanti maunya kamar yang mana?”
“Hmm…yang di atas! Soalnya di bawah kamar mama papa.”
“Oh iya. Maunya kamar yang dekat tangga atau dekat kamar mandi?”
“Dekat tangga, eh, dekat kamar mandi.”
“Oke. Nanti waktu pindahan kita dibantu Om Vito dan Tante Gita ya.”

Setelah itu ia legowo. Mau menerima kalau pindah. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *