Eyang favorit

Malam itu saya “mengobrol” dengan papa yang sedang terbaring tak sadar di ruang High Care Unit (HCU). Saya sampaikan permintaan maaf atas sikap saya selama ini, begitu pun saya telah memaafkan beliau. Saya ceritakan bagaimana mama yang tidak mau pulang walaupun lelah. Terus setia menunggu papa dalam segala kondisi.

Semua baik-baik saja sampai saya menceritakan tentang anak saya.

Continue reading “Eyang favorit”

Menyapih TV

Dulu saya gemas lihat anak saya tidak tertarik nonton TV. Kan lumayan kalau dia nonton TV anteng saya bisa melakukan hal lain, pikir saya dulu.

Tapi itu dulu.

Perkenalan anak saya pada asyiknya menonton TV dimulai dari rumah orangtua. Btw, kalau pulang ke rumah orangtua saya, anak saya jadi primadona. Maklum, cucu pertama. Semua semangat ingin bermain bersamanya. Tak terkecuali Eyang Kung-nya.

Hanya saja ada gap yang cukup berarti antara stamina anak saya dengan Eyang Kungnya. Hal itu menyebabkan Eyang Kung kewalahan dalam mengasuh, tapi di sisi lain masih ingin main bareng. Lalu apa siasat Eyang Kung?

Continue reading “Menyapih TV”

Your feeling is valid

Ponsel suami saya berbunyi. Ia mengobrol singkat dengan seseorang. Setelah obrolan diakhiri, ia berkata, “Kita siapkan untuk pindah ya.”

Wacana pindah sudah ada sejak beberapa bulan lalu. Kami sadar rumah yang kami tempati dengan sistem kontrak ini tidak bisa diperpanjang lagi masa kontraknya. Alhamdulillah sudah ada pengganti yang pas. Kami sengaja mencari agak jauh waktunya dari jatuh tempo kontrakan agar ada waktu untuk bersiap.

Kalau cuma berkemas, mungkin tidak lama. Yang susah adalah mem-briefing anak kami.

Continue reading “Your feeling is valid”