Gathering Bengkel Diri Jabar 2020 part 1

Untuk pertama kalinya Bengkel Diri (BD) regional Jawa Barat (Jabar) mengadakan event offline. Kali pertama ini diadakan di Bandung, tepatnya di Hotel eL Royale pada tanggal 19 Januari 2020. Istimewanya, di gathering kali ini semua fasilitator dan wali kelas hadir! Masya Allah.

Berikut cerita tiap sesinya.

Sesi pertama dimoderatori oleh salah satu fasilitator yaitu Ibu Annisa Widayati. Beliau yang memang mengampu materi public speaking menunjukkan kepiawaiannya dalam membawa suasana diskusi menjadi menyenangkan.

Ummu Balqis dan Ust. Meti maju ke panggung untuk mengisi sesi pertama. Mereka menuturkan awal mulanya BD ini dibentuk sebagai wujud kegelisahan Ummu Balqis terhadap kondisi ummat. Ummu Balqis menyadari masih banyak yang ingin mengikuti kajian tapi terkendala waktu dan biaya. Karena itu setelah diskusinya bersama Ust. Meti yang merupakan teman semasa sekolah dulu, akhirnya Ummu Balqis berani memulai BD dengan digawangi 5 orang saja saat itu, yaitu Ummu Balqis, Ust. Meti, Ibu Ariana, Ibu Annisa Widayati, dan Kak Alyta (wali kelas).

Ketika ditanya motivasi dalam mendukung Ummi Balqis membentuk BD, Ust. Meti dengan mantap menjawab bahwa beliau ingin menyontoh Rasulullah yang selalu memikirkan ummatnya. Jangan sampai ummat banyak tapi tidak berkualitas. Kemudian beliau bertanya, adakah yang hafal Asmaul Husna? Gimana mau menggantungkan diri pada Allah kita bahkan tidak tahu sifat-sifatNya? Ah, ini bagian yang menohok sekali. 😭

Materi yang disajikan di BD selalu berimbang antara kebutuhan dunia dan akhirat. Materi dasar Islam (MDI) mengambil porsi separuh dari seluruh materi yang ada. Saat ditanya mengapa MDI, Ummu Balqis dan Ust. Meti kompak menjawab bahwa jika ingin mengubah orang maka mulailah dari meluruskan tauhid dan aqidahnya. Nantinya kedua hal tersebut akan menjadi penggerak dari dalam diri.

Setelah itu Ibu Annisa memperkenalkan setiap fasilitator dan wali kelas sambil ditanya pesan dan kesannya. Seperti misalnya Ummi Rosa yang seorang psikolog mengatakan bahwa semua masalah seharusnya bisa diselesaikan secara islami dengan dibantu juga oleh teknik psikologi. Harapannya semua akan kembali pada Islamic Healing.

Teh Karina Hakman yang mengampu sekolah ibu bersama dengan Ummu Balqis juga memberikan pendapatnya bahwa setiap perempuan pasti punya fitrah jadi ibu terbaik terlepas dari masalah-masalahnya. Karena itu jangan pernah merasa kalau diri ini kurang saat menjadi ibu.

Lalu Ibu Dwi yang mengisi materi jurnalistik menjelaskan bahwa dakwah tidak melulu dengan lisan, tapi juga tulisan. Apalagi di zaman medsos seperti ini, jangan asal bikin postingan. Manfaatkan semua untuk dakwah.

Akhirnya sebagai penutup sesi pertama, Ummu Balqis memberi pesan pada semuanya agar menemukan kecintaan pada Allah di hati kita. Rasa cinta itu lah yang menjadi penggerak untuk tetap semangat mencari ridhoNya.

Berikutnya Ust. Meti juga berpesan bahwa apapun peran yang kita ambil, lakukan amal sholih di dalamnya. Jangan pernah meremehkan amal baik, karena kita tidak pernah tahu amalan mana yang membuat Allah ridho pada kita. Jangan juga meremehkan amal buruk, karena itu sama saja meremehkan Allah sebagai pembuat aturan.

Bersambung..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *