Pencitraan

Ibu dari 2 anak itu tampak lelah. Ia berusaha tersenyum saat bertemu saya. Senyum “menghormati” karena sudah lama tak bersua secara offline. Alih-alih menunjukkan ketegaran yang selama ini tampak di media sosial, ia justru menceritakan hal lain.

“Aku capek. Mengurus 2 anak usia berdekatan ternyata sangat melelahkan,” ujarnya.

Saya mengenalnya sebagai sosok ibu yang ideal di media sosial. Anak keduanya, seumuran dengan anak saya, hanya berjarak kurang dari 1,5 tahun dari anak pertamanya. Kini keduanya sangat aktif sehingga banyak pekerjaan sang ibu terbengkalai.

“Aku udah nggak tahu mana yang perlu aku urus. Tampaknya beberapa mau aku lepas,” keluhnya lagi.

Ia yang saya tahu begitu hebat mengelola beberapa bisnis. Segala peluang dicoba. Sungguh seorang ibu yang produktif, pikir saya.

Tentu saja semua kelelahan itu tak ia tampakkan di media sosial. Untuk apa? Media sosial tak butuh keluh kesah kita. Terkadang apa yang kita sampaikan malah mendapat tanggapan tak sesuai dengan yang kita harapkan.

Saya jadi teringat buku The Happy Brain karya Dean Burnett. Dalam buku itu dijelaskan bahwa otak manusia memang selalu mencari penghargaan. Penolakan akan memicu aktifnya bagian otak yang sama dengan bagian yang aktif ketika muncul rasa sakit.

Penolakan itu menyakitkan. Karenanya otak berusaha memberikan kompensasi dengan menciptakan citra diri yang bagus agar mampu memberikan kesan yang baik pada orang lain. Harapannya, kesan baik tersebut menghadirkan penghargaan yang dibutuhkan otak.

Karena itu sangatlah wajar jika seseorang melakukan pencitraan. Pada dasarnya kita mengharapkan penghargaan, tak terkecuali siapapun. Hanya saja obyek yang menjadi tempat kita berharap bisa berbeda-beda tergantung kebutuhan masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *