Memberi contoh dan mengajarkan

Dalam kajian semalam, saya mendapat wawasan baru tentang adab memuliakan tamu. Disebutkan bahwa memuliakan tamu sudah dilakukan sejak zaman Nabi Ibrahim a.s. yang kisahnya diabadikan dalam Al Qur’an.

Alkisah Nabi Ibrahim a.s. kedatangan 2 orang tamu (yang sebenarnya adalah malaikat) berkunjung ke rumahnya. Setelah mempersilakan mereka masuk, Nabi Ibrahim a.s. diam-diam segera masuk rumah dan mempersiapkan hidangan berupa daging anak sapi gemuk.

Ada beberapa hal yang dibahas dalam kisah ini.

Pertama, diam-diam segera masuk ke rumah. Begitu lah seharusnya ketika menjamu tamu. Segera dan nggak usah diomongkan. Kalau pakai diomongkan akan disuguhi, biasanya tamu akan sungkan dan menolak.

Kedua, daging anak sapi gemuk. Nabi Ibrahim a.s. memberikan hidangan terbaik yang beliau punya saat itu. Daging anak sapi itu masih empuk dan mudah dikunyah. Dipilih anak sapi agar hidangannya tidak terlalu berlebihan jumlahnya. Memberi yang terbaik dengan tidak berlebihan di atas batas kemampuannya.

Sepulang dari kajian, saya dan suami berdiskusi tentang materi tersebut. Menurut suami, mama saya adalah contoh terbaik tentang pengamalan adab memuliakan tamu. Semua poin bagaimana seharusnya tuan rumah bersikap terhadap tamu sudah dan selalu dilakukan mama saya.

Saya coba mengingat lagi. Oh iya, benar juga, pikir saya.

Sepengamatan saya, mama bukanlah orang yang benar-benar mempelajari tentang adab memuliakan tamu. Mama hanya belajar dari apa yang biasa dilakukan eyang. Lalu mengapa saya tidak seperti itu? 😅 Padahal saya sebenarnya sadar tentang kebiasaan mama dalam menjamu tamu.

Saya dan suami menarik kesimpulan bahwa kebiasaan baik itu tidak hanya dicontohkan, tapi juga seharusnya secara gamblang diajarkan.

Bisa jadi mama berharap dengan memberi contoh maka saya akan belajar meniru yang mama lakukan. Tapi yang justru terjadi adalah saya mempertanyakan mengapa mama tampak berlebihan (walaupun sebenarnya tidak–memang berlebihan itu relatif) dalam menjamu tamu sehingga saya memilih tidak melakukannya.

People of reason seperti saya dan suami (dan tampaknya anak kami juga) butuh alasan yang jelas untuk benar-benar melakukannya. Dan kini alasan itu telah kami dapatkan: Al Qur’an dan Rasulullah memang mengajarkannya.

Ini menjadi PR besar bagi kami nanti. Jika kami ingin anak kami melakukan hal yang benar, jangan cuma diberi contoh. Tapi juga dijelaskan alasan melakukannya agar value tersebut lebih tertanam dalam dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *