Jangan cuma tubuh yang diurus

Masih edisi muhasabah. 😆 Kali ini saya merenung tentang persepsi saat mengurus keluarga yang sakit.

Pada kondisi papa, karena lagi sakit, yang dipikir hanya gimana makannya biar dimakan. Atau gimana menjaga kebersihan tubuhnya saat BAK, BAB, dan saat jadwalnya mandi. Atau gimana agar bobonya nyaman, dan seterusnya.

Tapi kadang satu hal ini dilupakan.

Ibadah.

Bahwa tawakal juga diperlukan selain ikhtiar.
Bahwa ada Dzat Yang Maha Menyembuhkan.
Bahwa ada Dzat yang menguji dengan sakit.

Jika si sakit pada akhirnya tidak memiliki inisiatif untuk ibadah terutama yang wajib, apakah lantas dibiarkan begitu saja? Padahal kita diminta untuk amar ma’ruf nahi munkar.

Selain itu, jika kondisi si sakit tidak bisa ibadah secara mandiri, misalnya karena kognitif sudah menurun sehingga mungkin bacaan sholat jadi agak lupa, apakah lantas dibiarkan saja?

Nggak kan?

Pada papa, kami usahakan kondisinya seoptimal mungkin untuk bisa sholat. Jika memang harus sambil berbaring juga tidak apa. Papa lupa cara tayamum, maka kami bantu contohkan sambil gerakkan tangannya. Bacaan sholat kami bacakan di telinganya lengkap mulai takbiratul ihram sampai salam dengan sebelumnya papa diinstruksikan untuk mengikuti bacaannya dalam hati atau sambil bersuara pelan.

Semoga Allah menerima ibadah kita semua. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *