Perencanaan jangka panjang

Beberapa hari pulang kampung merawat papa yang sakit membuat saya merenungi beberapa hal.

Pertama, tata rumah. Saat awal berkeluarga dan punya anak, mungkin kita hanya berpikir tentang rumah yang babyproof. Seringkali kriteria lansia-proof terlewatkan. Seperti misalnya lebar pintu kamar mandi yang mudah dimasuki kursi roda, kamar di lantai 1, akses dari carport ke dalam rumah yang ramah kursi roda, dan lain-lain.

Kedua, jumlah anak. Saat punya anak banyak, maka kemungkinan memiliki anak yang bisa membantu mengasuh kita di usia tua akan lebih banyak. Hanya saja memang ada beberapa kondisi yang perlu disesuaikan. Misalnya, anak lelaki umumnya kurang bisa “mengasuh”, atau anak perempuan biasanya tergantung keridhoan suaminya. Tapi insya Allah kalau anak sudah terdidik menjadi anak sholeh maka ia lebih terasah untuk berbakti pada orangtuanya. Wallahualam.

Ketiga, usia anak terakhir. Kedua orangtua saya masih harus menanggung anak terakhir yang belum selesai kuliah dan belum menikah, sedangkan usia pensiun sudah makin dekat. Sementara fisik mereka juga sudah tidak prima lagi. Mungkin ini seharusnya jadi pertimbangan juga di kemudian hari, terlepas dari rezeki anak yang Allah berikan.

Keempat, menjaga kesehatan. Klise memang. Urusan sakit memang sudah ketetapan Allah, namun bukan berarti kita tidak ikhtiar sama sekali soal kesehatan tubuh kita.

Kelima, kesabaran atas pasangan. Dalam hal ini kami benar-benar bersyukur mendapat contoh yang lengkap. Mama saya merawat papa yang sakit, sedangkan papah mertua merawat mamah mertua. Pasti kondisi ini berat bagi keduanya, tapi alhamdulillah mereka komitmen dalam memberikan contoh tentang bagaimana seseorang seharusnya bersikap pada pasangannya terutama di saat sulit seperti ini. Masya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *