Apa yang saya pelajari melalui proses toilet training

Cerita toilet training saya mungkin tak ada bedanya dari cerita kalian atau mereka. Begitupun metode yang saya gunakan. Orangtua biasanya lebih paham mana yang paling pas untuk diterapkan pada anaknya. Work for me might not work for you too. Di sini tujuan saya hanya mendokumentasikan apa yang telah berhasil saya lakukan dan hal-hal yang saya pelajari dari prosesnya.

Terkait persiapan, tak ada bedanya dengan yang lain. Alas duduk toilet dan celana dalam tentunya menjadi hal wajib. Tapi ada satu hal yang lebih penting dari itu semua: kesiapan kita sebagai orangtua.

Anak akan selalu siap. Terkadang ilusi tidak siap itu justru hadir pada orangtuanya. Malas repot, malas mengepel, malas mencuci, dan segala alasan lain yang bisa membuat kita maju mundur dalam mencoba toilet training.

Dari situ saya berpikir bahwa penting bagi orangtua untuk menyiapkan support system untuk melawan kemalasan tersebut. Misalkan malas mengepel. Maka siapkan cara mengepel paling cepat dan efektif tapi tetap suci dari najis. Semua ini tentunya memerlukan kerjasama orang satu rumah.

Sebelum benar-benar memulai toilet training, saya terjebak dalam salah kaprah. Saya pikir toilet training hanya sebatas melatih anak untuk bisa buang air di toilet. Tapi ternyata lebih dari itu.

1. Toilet training adalah belajar mengenali rasa

Selama 2 tahun, anak terbiasa buang air di popok. Memang di usia tertentu ia kemudian mengenali rasa ingin BAB dan mampu menyampaikan saat ingin BAB, tapi untuk BAK seringkali tidak dirasakan. Karena itu di hari awal toilet training, anak saya sempat bingung saat celananya tiba-tiba basah saat sedang bermain. Perlu waktu sekitar 2 hari sampai anak saya menyadari kalau ia sedang BAK. Dan perlu waktu 4 hari sampai ia menyadari bahwa yang ia rasakan adalah kebelet pipis dan segera melapor sebelum keluar.

2. Toilet training adalah belajar mengenali tempat

Awalnya saya pikir anak akan dengan mudah buang air di toilet. Ternyata tidak. Berada di toilet bukan berarti anak akan otomatis bisa buang air. Ia masih belajar mengenal bahwa tempat buang air yang seharusnya adalah di toilet, bukan sembarang tempat seperti saat masih pakai popok.
Tak jarang ia hanya bengong saat di toilet, namun beberapa meter setelah keluar dari toilet baru ia bisa BAK. Dalam kasus anak saya, baru di hari ke-4 anak sadar dan segera berlari ke toilet ketika merasa kebelet pipis.

3. Toilet training adalah belajar mengenali waktu

Setelah mampu mengenali rasa dan tempat, anak kemudian belajar tentang waktu. Ketika kebelet, ia harus segera bilang. Jika jarak toilet cukup jauh, ia belajar menahan. Waktu buang air yang seharusnya adalah ketika celana luar dan dalam sudah dilepas semua dan telah berada di dalam toilet.

Orangtua juga harus peka terhadap tanda-tanda akan buang air. Misalkan ketika anak habis minum banyak, bisa jadi ia akan BAK beberapa kali dalam waktu berdekatan. Atau tanda-tanda minor seperti suka memegang celana (ini bisa berbeda pada tiap anaknya).

Terkait perlu tidaknya anak sering diajak ke toilet, saya kembalikan pada masing-masing. Pada anak saya, ia risih ketika berkali-kali diajak ke toilet. Karena itu di hari awal saya cukup membiarkannya merasakan sendiri sensasi mengompol sambil menyiapkan stok sabar yang melimpah.

Ini cerita saya. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *