Kereta dan kehebohan dalam perjalanannya

Apa saja hal seru dan (mungkin) bodoh yang pernah terjadi padamu terkait perjalanan kereta?

Saya pernah beberapa kali.

Saat di Jepang, saya pernah ketiduran di kereta. Dibangunkan oleh seorang wanita Jepang di stasiun akhir. Kereta sudah kosong. Untungnya saat itu tujuan saya memang stasiun terakhir tersebut.

Pernah juga saya dilihati–atau lebih tepatnya diamati–secara intens oleh anak kecil yang duduk di seberang saya. Mungkin itu pertama kalinya ia melihat perempuan berkerudung. Ibu si anak bolak-balik mencoleknya, seolah mengode kalau yang anak itu lakukan tidak sopan. Saya hanya tersenyum menatapnya balik.

Sedangkan di perjalanan dalam negeri, saya pernah salah pesan. Semua gara-gara perubahan jadwal kereta per Desember 2019 lalu. Saya terbiasa mengetahui kalau ke Malang dari Banjar berarti naik keretanya dari H-1 malamnya. Sehingga kalau ingin sampai Malang tanggal 9 Desember, maka saya pesan tiket tanggal 8 Desember.

Namun, yang saya tidak perhatikan, ternyata jadwal bergeser. Kereta berangkat dini hari dari Banjar dan akan tiba di Malang pada hari yang sama.

Jadi bisa terbayang kan paniknya saya saat jam 7 malam tanggal 8 Desember baru menyadari kalau saya memesan kereta yang berangkat dan tiba tanggal 8 Desember?

Silaturahim dengan keluarga Malang hampir batal. Begitu pun agenda kunjungan kerja suami di Surabaya.

Panik, kami buru-buru mencari jadwal lain yang masih terkejar di malam itu. Lewat aplikasi lain sudah menipis dan kursinya terpisah, tapi alhamdulillah lewat aplikasi KAI Access bisa dapat kereta Turangga yang duduknya bisa sebelahan.

Sayangnya, KAI Access tidak bisa bayar pakai mobile banking. Dan internet di Banjar leletnya luar biasa. Satu-satunya cara adalah ngebut ke Banjar kota untuk mencari ATM.

Suami yang panik cuma terpikir bawa kartu ATM dan HP saja. Saya yang tak kalah panik langsung menggedong anak kami yang sedang tidur sekaligus meraih dompet dan HP. Selama perjalanan kami berstrategi. Saya standby membuka aplikasi untuk memesan lagi jika waktu pembayaran sudah habis. Kebetulan memang kursi yang kami dapat adalah last seat.

Beberapa meter menjelang sampai di ATM, saya cek kursinya tersedia lagi. Buru-buru kursi tersebut saya pesan. Nomor pemesanan dikirimkan ke suami yang langsung lompat keluar menuju ATM. Benar saja, pemesanan yang pertama sudah hangus. Alhamdulillah kami berhasil mengambil kursi yang tersedia lagi.

Sport jantungnya belum usai. Saat itu sudah pukul 8 malam. Keretanya pukul 10. Segera kami balik dan berbagi tugas. Ia memasak bekal lanjut mandi, saya mandi lalu berkemas. Semua beres pukul 9. Ditambah mampir beli bekal tambahan, kami tiba di stasiun pukul 9.30. Tak lama kemudian kereta tiba dan kami segera naik.

Hikmahnya, kami jadi tiba lebih awal di Surabaya. Ditambah perjalanan travel ke Malang, kami bisa lebih awal tiba di Malang ketimbang jika tetap naik kereta Mutsel. Masih sempat bertemu adik-adik yang berencana pulang siang hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *