Tips backpacker Jepang

1. Language gap

Nggak usah ragu kalau mau backpacker ke Jepang. Kota-kota besar seperti Tokyo & Kyoto sudah sangat welcome terhadap turis. Petunjuk jalan dalam Bahasa Inggris ada di mana-mana. Petugas di stasiun juga banyak yang bisa Bahasa Inggris. Seandainya nggak bisa pun mereka akan berusaha untuk bantu. Bahkan anak muda di Kyoto yang kami tanya masih berusaha untuk menolong walaupun dengan Bahasa Inggris belepotan.

Nggak ada salahnya belajar kalimat-kalimat sederhana untuk nanya jalan & jawaban yang mungkin didapat. Kalaupun nggak paham apa yang diomongkan, seenggaknya mereka pasti nunjuk jalan yang dimaksud saat menjelaskan. 😂 Atau bisa juga pakai google translate. Pokoknya bahasa tidak seharusnya jadi kendala di sana.

2. Berburu tiket

Tiket murah ke Jepang juga melimpah. Hampir tiap tahun selalu ada promosi tiket murah, dari maskapai yang biasa aja sampai yang oke. Saya beli tiket setahun sebelumnya pas ada promo Air Asia, habisnya 4 juta PP dari Surabaya dengan transit di KLIA. Itu udah termasuk makan 1x pas berangkat & 1x pas pulang. Aslinya kalau tanpa pesen makan bisa kurang dari itu.

Kalau milih awal spring banget bakal lebih mahal, jadi saya pilih beberapa minggu setelahnya dimana sakura masih ada (ini cari tau dulu di internet tiap kota bloomingnya dari kapan sampe kapan, sambil berharap late bloomersnya masih banyak) tapi harga tiket lebih murah.

Oh ya, kalau saya survei terbang saat musim dingin juga murah banget, paling murah malah dari semua musim, tapi saya nggak kuat dingin. Hehe.

3. What to wear

Pakaian yang saya bawa juga standar. Bahan katun yg hangat sudah cukup untuk cuaca beberapa minggu awal spring. Paling cuaca yang dingin banget pas pagi atau malam aja. Siang dan sore udah hangat dan nggak perlu pakai jaket. Untuk berjaga saya bawa syal juga.

Jaket nggak usah terlalu tebal. Sarung tangan boleh dibawa kalau mau jalan sampai malam. Sepatu bisa pakai boots dan kaus kaki atau sepatu apapun yang nyaman & hangat.

Tadinya saya mau bawa jaket agak tebal, lalu H-1 mama ngasih tau kalau coat yang dipesen di penjahit udah jadi. Sengaja dibuatin buat saya ke Jepang. Koper jelas nggak muat untuk bawa 2 jaket, terpaksa saya tinggal jaket yang pertama dan bawa si coat.

Enak sih pakai coat panjang, sayangnya coatnya ini model kelelawar yang bagian lengannya sleeveless. Agak merepotkan kalau bawa ransel dan lengan bakal kedinginan kalau malam. Kalau mau pakai coat model gitu sangat disarankan ada jaket tipis di dalamnya biar tangan nggak kedinginan. 😁

4. Makan

Demi penghematan, saya pakai aturan sarapan dan makan malam pakai onigiri atau bento (murah, gampang didapat, dan kenyang), lalu makan lumayan mewah atau jajan macam-macam utk siangnya. Harga onigiri biasanya nggak sampai 200 yen, sedangkan bento bervariasi. Yang sederhana (isi nasi, telur, ikan, ayam) bisa kurang dari 500 yen.

Untuk makan mewah sejauh ini paling mahal 900-an yen per porsi. Restoran biasanya otomatis ngasih ocha sepaket sama makannya. Saya juga bawa susu dan cokelat sachet dari Indo buat dibikin di penginapan.

Saya catat beberapa kanji penting untuk scanning isi dari bento atau onigiri yang saya makan. Kadang saya nanya juga ke yang jual kalau ragu isinya apa.

Di kota besar seperti Tokyo banyak restoran yang sudah ngerti soal halal food. Nggak usah ragu utk nanya ketersediaan halal food. Mushola dan masjid pun mulai banyak dibangun.

5. Penginapan

Penginapan saya budget maksimal 350rb semalam. Saya cari penginapan lewat Traveloka. Nggak harus dekat tempat wisata (justru yang gini lebih mahal jadinya), yang penting suasananya nyaman dan dekat stasiun biar gampang aksesnya. Males kan kalau udah capek jalan-jalan lalu masih harus jalan jauh pas balik ke penginapan.

Setiap penginapan saya catat cara menuju ke sana dari stasiun terdekatnya. Penginapan yang baik akan menyantumkan petunjuk serupa di situsnya, bahkan ada yang disertai foto.

Kadang jenis penginapan bisa dijadikan pertimbangan, seperti penginapan saya di Tokyo yang Jepang banget buat pengalaman tidur di futon & mandi ala Jepang. Wasabi Guest House di Tokyo dan Khaosan Kyoto Guesthouse di Kyoto sangat recommended. Boleh jadi pertimbangan kalau mau ke sana.

Rata-rata kalau penginapan backpacker gini tanpa sarapan, tapi biasanya mereka dekat dari konbini.

6. Perjalanan antarkota

Ada 2 malam yang saya habiskan di bus malam saat perjalanan antarkota. Bus malam saya cari yang paling standar tapi tetap nyaman. Harganya juga nggak jauh beda dengan penginapan.

Untuk bus saya pakai Willer Express. Tempat nunggu busnya saya browsing di internet, termasuk patokan ke sana gimana saya catat. Lokasi berangkat/tiba, jam berangkat & jam tiba bisa disesuaikan kondisi kita (variasi jamnya banyak banget). Kalau mau lebih lama di kota asal, jam berangkat saya pilih yang agak malam. Saya juga mempertimbangkan kalau sampai kepagian di kota yang dituju ntar saya nggak jelas ngendon di mana. Lokasi berangkat & tiba saya pilih yang paling gampang dicari & minim nyasar.

Oh ya, seingat saya Willer ini ada paket untuk foreigner. 10.000 yen bisa utk perjalanan selama beberapa hari kemanapun. Saya nggak ambil paket soalnya harga 2x naik bus PP Tokyo-Kyoto kurang dari harga paket. Mungkin kalau mau pergi agak jauh (ke Hiroshima misalnya) dan ke beberapa kota lebih untung kalau pakai paket.

7. Itinerary

Trus nentuin mau kemana aja gimana?

Jumlah hari efektif saya selama di Jepang cuma 5 hari, jadi saya putuskan hanya ke 3 kota saja dulu biar nggak terlalu capek. Patokan saya dari review teman-teman yang pernah ke sana atau tinggal di sana. Selebihnya saya cari info lebih lanjut dari internet.

Japan-guide.com infonya lumayan lengkap. Termasuk tempat-tempat wisata buka dan tutup jam berapa, fee entrance berapa, libur kapan, dll.

Itu yg bikin saya memutuskan ke Hakone dulu baru jelajah Tokyo, karena hari pertama saya tiba di Jepang adalah Senin, dan banyak tempat wisata di Tokyo (khususnya museum) tutup hari Senin. Daripada saya zonk pilihan tinggal dikit mending saya kabur ke Hakone dulu.

8. Hakone

Untuk Hakone, saya dapat rekomendasi dari teman. Katanya daripada ke Kawaguchiko yang udah rame banget & mainstream mending main ke Hakone. Sama-sama bisa lihat Gunung Fuji. Detail perjalanan di Hakone saya cari di internet, termasuk info day pass dan jalur loop.

Oh ya, berangkatnya kan dari Stasiun Shinjuku. Itu stasiun gedhe. Harus wajib tau kalau mau ke Hakone lewat pintu stasiun yang mana biar nggak ngabisin waktu cari jalan di dalam stasiun. Dan itu berlaku untuk stasiun besar lainnya. Waktu itu saya dapat info pintunya dari tulisan teman di internet.

9. Tokyo

Untuk Tokyo, saya manut rekomendasi teman yang tinggal di sana. Dia nggak menyebutkan urutan perjalanan, hanya tempatnya apa saja dan apa yang bisa dilihat. Dari situ saya bikin peta buta kota Tokyo yang berisi lokasi penginapan saya dan tempat-tempat yang mau dituju. Akhirnya ketemulah jalur yang pas.

Nggak lupa saya cek biaya perjalanan naik kereta antarlokasi di aplikasi android “Japan Trains” (gambarnya kereta ada background gunung) untuk menentukan mana jalur paling efektif dan murah.

Hati-hati tourist trap. Tokyo Tower nggak perlu didatangi sampai dekat. Naik ke atas pun mahal, antre pula. Kalau untuk sekedar lihat bisa dari Roppongi Hills. Ada taman yang cantik, dapat bonus main ke Asahi TV pula. Gratis.

Begitu pun Tokyo Sky Tree cukup dinikmati dari Asakusa. Bonus taman cantik di sepanjang sungai Sumida yang kalau beruntung sakura masih bermekaran. Kalau mau lihat Tokyo dari tempat tinggi mending ke Government Building di Shinjuku. Bisa lihat dari lantai 45 dan gratis.

Belanja juga mending ke Harajuku daripada Asakusa. Barang-barang yang kamu temui di Asakusa bisa ditemui di Harajuku, tapi tidak sebaliknya. Kalau bukan karena koper udah penuh, saya mungkin nggak bisa nahan beli barang-barang lucu di Harajuku. Padahal duitnya masih banyak (efek berhemat makan onigiri doang dan main ke tempat yang nggak bayar).

10. Kyoto

Untuk Kyoto, sama seperti Tokyo, saya buat peta buta. Ini agak meraba-raba karena saya baru punya peta bus Kyoto pas udah di sana. Makanya kalau di Kyoto harus sefleksibel mungkin menentukan jalur. Apalagi bus jalannya lebih lambat dari kereta.

Terus halte bus di Kyoto agak bikin pusing. Halte dengan nama yang sama punya beberapa cabang. Salah milih cabang bisa jadi bus yang ditunggu nggak lewat-lewat atau malah ke arah sebaliknya. 😂

Seperti halte dekat penginapan saya yaitu Shijo Kawaramachi. Sebagai halte besar, dia punya 5-6 halte cabang dengan nama yang sama (ada petanya di pinggir jalan). Di peta itu ditunjukkan kalau mau naik bus nomor sekian ke arah mana nunggunya di halte yang sebelah mana. Bus dengan nomor yang sama tapi arahnya beda bisa beda tempat nunggunya. 😂

Tapi opsi pakai bus tetap jadi pilihan karena murah tadi (day pass 500 yen per hari, sedangkan tarif sekali naik bus jauh dekat 230 yen).

Kyoto identik dengan old town yang banyak kuilnya. Saya ke sini buat napak tilas perjalanan Kenshin di Kyoto. 😁 Ada banyak kuil terkenal yang direkomendasikan di internet. Kalau cuma punya waktu dikit mending tentukan 1-2 kuil aja lalu sisa waktu ke tempat yang lain, soalnya kuil ya gitu-gitu aja sih.

Sebagai perbandingan: Ginkaku-ji dengan Kinkaku-ji (namanya mirip bro, hati-hati 😁). Kuilnya memang lebih cantik Kinkaku-ji (berlapis emas – kin = emas, gin = perak), tapi walking pathnya dikit (jalan bentar di kompleks kuil udah pintu keluar aja), trus jauh dari penginapan, jalur bus ke sana dikit, dan tamannya juga biasa aja. Lebih mending ke Ginkaku-ji menurut saya.

Kiyomizu-dera kompleksnya gedhe dan kuilnya sangat-sangat populer. Nggak heran sepanjang jalan ke atas (kuilnya di tempat tinggi) padat pejalan kaki. Ditambah sepanjang jalan itu banyak toko yang jual suvenir. Saya rasa kuil ini bakal jauh lebih cantik didatangi waktu autumn saat tanaman sekitar kuil berubah warna semua.

Gion dikenal sebagai daerahnya Geisha. Tapi orang-orang yang kalian lihat di jalan pake kimono itu kebanyakan justru turis (biasanya turis China) karena di sekitar situ banyak persewaan kimono. 😂 Geisha yang asli nggak akan keluyuran & mau difoto gitu aja.

Pernah ada orang-orang dengan pakaian kimono naik bus, eh mereka tampak bingung trus turun di pintu yang salah dan nggak bayar (FYI, naik bus harusnya dari pintu tengah dan turun di pintu depan dekat supir sambil bayar atau tunjukin day pass). Udah jelas lah itu bukan orang Jepang. 😂

11. Internet

Internet ada di mana-mana, tapi sebagian besar password protected. Saya pesan pocket wifi via online. Ada banyak penyedia pocket wifi ini, tinggal milih mana yang paling pas harganya buat kita. Biasanya satu set ada pocket wifi dan chargernya. Beberapa penyedia di Indo juga bisa melayani ambil di Indo dan balikin di Indo.

Waktu itu saya milih pocket wifi yang dikirim ke kantor pos bandara tempat saya sampai (Bandara Haneda), lalu dibalikinnya tinggal taruh dalam amplop yang sudah termasuk dalam paket (sudah ada alamat yang dituju + perangkonya) lalu cemplungin ke kotak pos manapun di Jepang di hari kita pulang. Praktis. Nanti pas udah sampai ke perusahaan yang menyewakan, kita bakal dikasih e-mail pemberitahuan.

12. Loker

Nyampe kepagian dan penginapan nggak mau dititipi tas? Bisa nitip di loker stasiun. Rasanya semua stasiun pasti punya loker penitipan dan itu self service. Ada yg tinggal cemplungin uang ke lokernya, ada yg agak rumit pakai masukin kode (kayak yg di Stasiun Tokyo). Biasanya tarifnya per 24 jam.

Pastikan kita mengingat nomor loker dan lokasinya (kalau perlu difoto). Biasanya saya cari loker yang paling dekat sama pintu, ntar tinggal hafalin pintunya yang mana (biasanya stasiun punya beberapa pintu). Kalau rame-rame bisa pilih loker yang agak gedhe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *