Belajar mencintai diri sendiri bersama RBSB

Learning to love yourself is the greatest love of all..” -Whitney Houston-

Di hadapan saya duduk seorang ibu dari 4 orang anak. Dengan mata berbinar ia menjawab pertanyaan sederhana, “Bagaimana selera makan anak-anak di rumah?” Dengan lancar ia menyebutkan makanan kesukaan masing-masing termasuk suaminya.
“Kalau suami sukanya sambal terasi. Dibikinkan sambal bawang nggak mau. Pasti nanti ditambah kecap. Sedangkan anak pertamaku nggak suka kalau sambal bawangnya dikasih kecap. Jadi biasanya aku bikin 2 macam sambal,” katanya sambil tertawa kecil.
Semuanya ia ceritakan, kecuali apa makanan kesukaannya, yang tampaknya sudah lama ia lupakan.

***

Menjadi ibu identik dengan kondisi selfless. Entah memang sifat dasarnya demikian atau tuntutan peran. Padahal kondisi selfless berdampak pada kesehatan mental ibu. Mengingat ibu adalah jantung keluarga, maka kewarasan dan kebahagiaan ibu menjadi kunci dari kebahagiaan keluarganya.

Atas dasar itulah RBSB mengadakan silaturahim sekaligus mengobrol santai tentang Self Love. Acara ini diadakan di rumah salah satu anggota RBSB dan mengundang Teh Herly, seorang psikolog, sebagai pembicaranya.

Beberapa hari sebelum acara, para peserta diminta mengisi kuisioner singkat tentang analisis diri. Menurut Teh Herly, seluruh peserta yang merupakan ibu ternyata banyak kesulitan dalam mengisi poin kelebihan dan kelemahan diri (ujung-ujungnya balik ke kelebihan dan kelemahan sebagai ibu) dan bingung saat ditanya tentang hobi. Ah, saya kira cuma saya saja yang bingung saat mengisi.

Teh Herly membuka materinya dengan mengajak para peserta untuk mengingat kembali perubahan peran seorang wanita. Dari yang awalnya single penuh kebebasan, punya banyak me time, mandiri, bebas melakukan apa saja. Kemudian menjadi istri dimana harus taat pada suami dan kebiasaannya berubah. Lalu menjadi ibu yang memiliki peran ganda yaitu makmum bagi suami sekaligus pemimpin bagi rumah dan anak. Tak lupa tanggung jawab yang makin bertambah, rutinitas “berantakan”, dan kondisi tak terelakkan macam perubahan bentuk tubuh pasca hamil dan menyusui.

Kemudian Teh Herly menjelaskan tentang hal besar yang terjadi dalam tubuh wanita terkait perubahan hormon. Saat hamil, hormon estrogen dan progesteron meningkat. Ketika melahirkan, endorphin meningkat pesat sehingga memberikan kekuatan dan kebahagiaan lebih. Namun di hari ketiga pasca melahirkan, ketiga hormon tersebut turun drastis. Sebagai gantinya, hormon prolactin yang membantu asi untuk keluar mulai meningkat, terutama di malam hari. Akibatnya, bayi lebih sering menyusu di malam hari sehingga ibu makin kurang istirahat dan badannya lelah.

Pada orang normal sendiri jika terjadi penurunan hormon progesteron akan menyebabkan depresi. Nah, ibu pasca melahirkan tidak hanya menghadapi kondisi hormon yang acak-acakan, tapi juga shock menghadapi gap antara realita dan ekspektasi. Ternyata mengurus dan menyusui bayi tidak semudah itu ya. Karena itu baby blues pada 2 pekan pertama merupakan hal yang wajar pada ibu baru.

Sebenarnya menyusui dapat mengeluarkan hormon oksitosin yang membantu menurunkan stres. Sayangnya, terkadang banyak kondisi yang membuat ibu kurang mendapat dukungan sehingga kesulitan dalam menyusui dan berakibat terhambatnya pengeluaran hormon oksitosin tadi.

Saat ibu terlalu fokus pada bayi, seringkali ibu jadi lupa menangkap “alarm” tubuh. Ibu lupa kalau dirinya juga butuh istirahat. Dari situ baby blues dapat berlanjut pada depresi.

Teh Herly berhenti sejenak dan meminta peserta untuk berbagi pengalamannya.

Sesi pertama diisi oleh seorang ibu beranak satu usia 8 bulan yang menceritakan perubahannya yang begitu cepat dari single-istri-ibu dan terus terang membuatnya kaget.

Sesi kedua diisi seorang ibu beranak 2 yang menceritakan tantangan pengasuhan justru muncul saat lahirnya anak kedua. Kurangnya dukungan dari keluarga membuatnya merasa berat menghadapi semuanya.

Sesi ketiga yang paling menguras air mata diisi oleh ibu beranak 3 yang terpaksa tinggal berjauhan dari suami (LDM). Tangisan kami semua pecah saat ibu tersebut menceritakan kelahiran anak ketiganya yang prematur dan sempat tidak bernapas. Perjuangannya dalam mengusahakan anaknya hidup dan sehat membuatnya lupa akan luka jahitan operasinya yang ternyata terbuka lagi.

Mendengar pengalaman para ibu tadi saya jadi malu. Ternyata apa yang mereka alami jauuuuh lebih berat dari saya dan mereka kuat serta mampu menghadapinya. Rasanya malu kalau mengeluhkan masalah saya yang rupanya sepele. Huhuhu..

Ibu juga punya keterbatasan. Tidak bisa terus memberi. Ibu juga perlu diberi. Harus sadar untuk mengisi kebahagiaan diri. Karena jika amunisi untuk memberi kebahagiaan habis, tubuh akan berusaha cari amunisi lain. Akibatnya stres akan menyerang fisik. Pernah tahu orang yang kalau stres jadi sesak napas, gatal, maag kambuh, atau keluhan fisik lain? Kira-kira seperti itu yang terjadi.

Belajar mencintai diri (self love) itu penting. Self love berarti suatu keadaan menerima secara utuh tubuh, pikiran, dan hati, sehingga memunculkan penghargaan terhadap diri sendiri. Sifatnya dinamis, serta tumbuh dari tindakan dan pemikiran yang matang.

Mencintai diri penting sebelum mulai mencintai orang lain. Saat kita mampu menghargai diri, maka kita juga mampu menunjukkan penghargaan pada orang lain. Anak kecil pun jika sering dipuji dan diapresiasi maka akan lebih mudah memuji dan mengapresiasi kan?

Saat self love kita bagus, maka kepuasan hidup akan meningkat, kebahagiaan juga meningkat, dan ketahanan diri dalam menghadapi tekanan hidup akan bertambah. Self love membuat kita lebih realistis dalam melihat kesempurnaan. Kalau kata Teh Herly, “Just the way I am“.

Lalu bagaimana cara melakukan self love?
1. Menerima diri sendiri sebagai human being. Seimbang dalam melihat kelebihan dan kekurangan diri. Terima bahwa diri ini memiliki aneka ragam perasaan.
2. Berdamai dengan keadaan, memaafkan masa lalu, dan move on. Bukan sekedar sabar. Tapi menerima rasa sakit dan menyalurkannya ke cara yang tidak menyakiti diri kita. Hakikatnya memaafkan adalah untuk diri sendiri. Ibarat orang dzolim itu seperti menancapkan pisau pada kita. Pisau kita cabut bukan demi orang itu, tapi untuk kebaikan diri sendiri.
3. Prioritaskan kebutuhan dasar. Makan yang cukup, tidur berkualitas.
4. Beraktivitas (me time, family time). Do things that feed your soul.
5. Manajemen waktu
6. Bersyukur untuk hal-hal kecil
7. Buat gratitude journal berupa penghargaan untuk diri sendiri atas apa yang telah kita lakukan.
8. Lepaskan target yang tidak realistis. Sesederhana jangan ngotot rumah harus selalu bersih, masakan harus selalu homemade, anak selalu ditemani main, tapi berharap punya waktu luang untuk baca dan tidur cukup. 😆
9. Berani bilang “tidak”
10. Senyuuuumm

Setelah itu dilanjutkan sesi self healing. Peserta diminta menuliskan beberapa hal terkait poin di atas, seperti cari aktivitas apa saja yang kita suka dan feed our soul, membuat gratitude journal sambil menyapa diri sendiri, dll.

Terakhir, Teh Herly mengajarkan teknik relaksasi sambil self hypnosis. Tekniknya sangat sederhana. Peserta diminta duduk rileks sambil memejamkan mata lalu bernapas dengan teratur. Rasakan tiap napas sambil ucapkan hal-hal baik pada diri. Apresiasi diri sendiri. Minta maaf karena lama tidak menyapa diri. Untuk kata-kata yang diucapkan bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sesuai kondisi saat itu.

Apa yang saya rasakan setelah selesai acara? Yang jelas saya bersyukur telah meluangkan waktu ikut acara berkualitas semacam ini. Rasanya senang bisa dapat kesempatan ikut padahal baru gabung di RBSB belum ada satu bulan. Walaupun berderai air mata, tapi saya pulang dengan perasaan damai. Saya jadi lebih mencintai diri sendiri dan siap membagi cinta dengan keluarga.

Wanita memang punya peran istimewa. Sebagai istri, ia menjadi supporter terbesar suaminya. Dan sebagai ibu, ia pelindung anak-anaknya. Hai istri dan ibu, jangan lupa untuk memberikan cinta pada dirimu juga ya.

Untuk Teh Herly dan segenap panitia dari RBSB, hatur nuhun! 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *