Curhatan anak

Mata kecilnya berbinar menatap saya. Mulutnya berbicara tanpa henti, membahas apapun yang menurutnya menarik. Walaupun sebenarnya yang ia ceritakan cukup remeh bagi saya.

Baginya, saat ini saya adalah dunianya. Tempat menampung semua obrolannya. Mendengar semua kisahnya.

Pelukan saya yang ia cari ketika bangun tidur. Takut. Sedih. Cemas. Atau bahkan senang.

Ia sangat percaya pada saya sehingga semua kegiatannya harus bersama saya. Sementara ini saya lah satu-satunya teman mainnya.

Sungguh saya takut kalau ini semua akan hilang dari saya akibat kesalahan saya.

Belajar dari pengalaman, sebuah respons yang tidak tepat rupanya mampu memberikan efek psikologis yang besar pada anak dan dapat bertahan dalam jangka waktu lama.

Sekarang mungkin saya tempat menampung ceritanya. Tapi bukan tidak mungkin di kemudian hari, karena kesalahan saya dalam merespons, atau karena kesibukan atau ketidakpedulian saya, ia menjadi malas bercerita lagi pada saya.

Dan akhirnya perlahan ia menjauh.

Bukan secara fisik, tapi hati.

Ia akan menganggap curhat sama mama nggak asyik. Ujung-ujungnya dinasihati.

Atau curhat sama mama nggak seru. Nggak bakal didengarkan dengan sepenuh hati karena mama sibuk dengan urusan yang lain.

Atau curhat sama mama nggak perlu. Karena mama nggak ngerti masalah anak muda.

Dan itu adalah kehilangan besar bagi orangtua. Kehilangan kesempatan mendidik anak dengan baik. Mengajarkannya cara merespons dunia yang luas ini. Membimbingnya cara bersikap terhadap setiap kondisi.

Semoga saya dapat terhindar dari segala ketidakpedulian dan kesalahan dalam merespons cerita anak saya nantinya.

Semoga Allah senantiasa membesarkan hati saya untuk meminta maaf dan mau terus berusaha memperbaiki hubungan dengan orang terdekat saya, terutama suami dan anak-anak.

Semoga Allah memberikan rezeki pada saya untuk dapat mendidik anak-anak saya sampai tiba saatnya mereka dilepas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *