[BD] Khitbah dan Pernikahan dalam Islam

By Ustadzah Meti Astuti

Pernikahan: penyaluran naluri dengan cara terhormat
Pernikahan dalam ilmu fiqih adalah pangkal dari ilmu hubungan kekeluargaan

Wali wajib tahu karena akan menikahkan si wanita tersebut.
Taaruf: saling mengenal, dilakukan setelah khitbah. Dilakukan setelah mendapat kepercayaan wali untuk mengenal wanita tersebut.

Mampu menanggung beban: nafkah fisik (ekonomi) maupun seksual.
Tujuan pernikahan untuk melangsungkan keturunan. Tidak boleh menikah dengan tujuan tidak ingin punya anak.

Hukum tabattul: makruh
Islam adalah agama yang manusiawi. Tidak boleh hidup seperti rabbi yang hanya ibadah terus.

Sunnah untuk mencari istri yang masih perawan.
Cara mengetahui kesuburan perempuan: melihat keluarga perempuan apakah subur atau tidak. Walaupun memang urusan anak adalah qodlo Allah.
Yang utama adalah menikahi karena agama, karena wanita yang paham agama akan senantiasa menyenangkan suami.
Bedakan dengan qonaah atas keadaan istri, maka harus didasarkan keimanan pada Allah.

Kafa’ah tidak dikenal pada syariat Islam. Strata hanya ada pada ketaqwaan terhadap Allah.

Pernikahan beda agama diharamkan bagi wanita, baik pada ahlul kitab maupun bukan. Sedangkan pada laki-laki dibolehkan hanya pada ahlul kitab saja.

Suami istri = sahabat yang saling mendukung dan menopang dalam segala hal.
Pernikahan seharusnya menciptakan ketentraman/ketenangan pada kedua pihak.
Tujuan pernikahan: untuk mensyukuri nikmat Allah.

Suami maupun istri memiliki haknya masing2 yang harus dipenuhi keduanya.
Hak istri: mendapat nafkah, digauli secara baik.

Suami sebagai qowwam (pemimpin) rumah tangga. Tanggung jawab atas istri dan anak besar. Maka hak suami: ditaati oleh istri, mendidik istri ketika nusyuz.
Nusyuz: pembangkangan istri terhadap perintah/keinginan suami yang masih dalam wewenang suami.
Tapi suami tidak boleh kasar dalam mendidik istri.
Jika pengetahuan agama suami kurang dari istri, maka istri membantu agar suami lebih taat.

Kewajiban istri: melayani suami, mengurus rumah atau tugas domestik
Tugas domestik merupakan kewajiban suami, dengan syarat suami menyediakan keperluan yang dibutuhkan di dalam rumah.
Istri melakukan tugas di dalam rumah, sedangkan suami melakukan tugas di luar rumah.
Jika memang tugas domestik terlalu berat, maka suami wajib membantu (menyediakan pembantu atau membantu sendiri). Tapi istri juga harus berupaya untuk mengerjakan sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *