[BD] Menyembuhkan Inner Child

By Ummi Roza

Sugesti diri secara positif bahwa kita ridho atas semua ini. Apresiasi diri kita atas keberhasilan kita menguak pengalaman masa lalu.

Obat harus sesuai diagnosis. Kemampuan mendiagnosis diri sendiri dengan baik akan mengantarkan pada obat yang tepat.

Peristiwa traumatis harus mampu dijabarkan secara detail agar tahu titik mana yang ingin diperbaiki.

Dua macam perasaan pasti akan ada dalam inner child. Namun salah satu akan dominan muncul terlebih dahulu. Lalu yang satunya akan muncul kemudian. Semua akan bergantian munculnya, karena itu kita harus aware.

Contoh kasus:
Seseorang ketika kecil ingin tidur ditemani ibunya tapi ditolak.
1. Kebutuhan apa yang tidak terpenuhi? Kebutuhan emosional
2. Emosi apa yang muncul? Ketika ditolak awalnya sedih. Kemudian marah, protes atas perlakuan ibunya. Tapi yang terjadi si anak tidak menyalurkan emosinya. Ia hanya menahannya. Sehingga saat dewasa akan meledak.
3. Apa gejala yang muncul saat dewasa? Ada bisikan2 yang bertentangan dalam dirinya. Yang satu mengatakan ia bisa dan kuat. Satunya mengatakan sebaliknya.
4. Apakah telah usai? Belum, karena marahnya belum tuntas. Saat diterapi awal hanya sedih yang tersalurkan.

Membongkar dan memasang lagi itu berat, tapi kita akan baik2 saja. Ini akan jadi kekuatan diri kita untuk bangkit.

Sikapi pengalaman masa lalu dengan terima dan ridho. Jika telah ketemu penyebabnya, maksimalkan pilihan bahwa kita ingin keluar dari inner child dengan sesuai syariat.

1. Teknik tuntaskan dengan
Syarat: orang yang menyebabkan masalah masih hidup, bisa diajak komunikasi, dan saat ini lebih terbuka.
Langkahnya:
– bina komunikasi dengan orang itu
– bentuk hubungan emosional (tetap sesuai syariat)
– selami orang yang pernah memberikan luka tsb
– harus pintar memilih momen

2. Teknik self talk
Syarat: orang yang menyebabkan luka sudah tidak ada, atau ada hukum syara’, atau kita tidak berani bilang
Langkahnya:
– dialog seperti membujuk anak kecil
– tujuan dialog untuk menjawab pikiran2 negatif dalam diri
– sugesti diri dengan afirmasi positif

3. Teknik bermain peran
Syarat: butuh orang lain yang berperan jadi orang lain yang menyakiti kita tapi memerankan hal yang baik, termasuk berperan minta maaf.
Jumlah orang tergantung berapa banyak support yang diperlukan.
Saat bermain peran, kita kembali ke masa di mana peristiwa itu terjadi.
Kita bebas mengekspresikan perasaan kita saat itu.

Kekuatan terbesar manusia adalah keimanan.
Berjuanglah untuk menyembuhkan inner child.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *