[BD] Leadership Management

By Amalia Dian Ramadhini, S.ST

Setiap orang adalah pemimpin, termasuk memimpin diri sendiri.
Sebelum jadi pemimpin untuk banyak orang, pastikan kita berhasil memimpin diri sendiri.
Dimulai dari tujuan hidup kita, agar tahu arah kepemimpinan diri mau ke mana dan dapat mencapai titik sukses.
Jangan terpaku atas kesuksesan orang lain. Boleh mencari role model, tapi peran tiap orang berbeda.
Pemimpin juga harus disiplin. Patuhi rencana yang sudah kita buat sebagai bagian memimpin diri sendiri.
Komitmen: terikat dan terlibat
Pemimpin memiliki komitmen dengan anggotanya serta keputusannya.

Banyak yang ingin jadi pemimpin, tapi ada saja alasan untuk menghambat.
Terjebak rutinitas membuat kita di titik itu2 saja dan rentan terhadap stres.
Ketika mulai merasa hidup tidak berkembang, mungkin sudah terjebak dalam rutinitas. Mungkin saatnya untuk memilih bidang lain.
Dalam islam sholihah saja tidak cukup. Harus jadi muslihah, yaitu sholihah dan mensholehkan. Jangan mau masuk surga sendirian. Perbaiki diri, ajak orang lain, dan jangan menghakimi.
Jangan merasa aman dengan yang ada sekarang. Bisa jadi itu semua adalah istidraj. Terus kembangkan diri sendiri.

1. Pahami diri.
Kekurangan dan kelebihan kita di mana. Optimalkan potensi diri yang telah kita kenali. Mengoptimalkan tidak hanya sekedar lahiriyah (fisik, atribut sosial, dll). Namun juga berusaha menjawab pertanyaan mendasar: siapa aku, dari mana aku datang, ke mana aku pergi, di mana kebahagiaan sejati akan ditemukan?
2. Pilih peran dalam amar ma’ruf nahi munkar sesuai kemampuan.
Muslimah tetap berperan di masyarakat dalam dakwah dengan cara yang syari. Boleh safar asal dengan mahramnya.
Zaman Rasulullah para sahabiyah juga berjihad dalam bidang logistik. Aisyah r.a termasuk salah satu sumber ilmu zaman itu.
3. Amanah.
Apapun peran yang kita sandang akan dipertanggungjawabkan.

“Domestik beres, peran sosial insya Allah akan lancar”
Peran muslimah sehari2:
1. Peran domestik sebagai istri dari suaminya dan ibu dari anak2nya untuk melakukan tugas2 yang tak tergantikan dari perempuan, seperti mengandung dan melahirkan.
2. Melahirkan adalah jihadnya wanita. Tidak ada yang mampu menggantikan posisi kita saat itu.
3. Menyusui dalam Islam disarankan 2 tahun, kecuali ada indikasi-indikasi lain.
4. Mendidik anak. Ibu adalah madrasah utama anak dengan ayah sebagai kepala sekolah.
5. Dalam Islam tidak ada arahan khusus tentang melakukan tugas rumah sehari2 seperti masak, menyapu, dll. Hal itu merupakan tugas suami dalam pemenuhan kebutuhan sehari2 keluarga.
6. Peran sosial diambil dalam rangka amal maruf nahi munkar, bukan untuk tujuan duniawi (ingin eksis, dll).
7. At Taubat: 71. Lelaki dan perempuan semua diwajibkan untuk melakukan amar maruf nahi munkar. Muslimah juga memiliki tugas dakwah seperti lelaki.
8. RUU PKS: tubuhku adalah milikku. Padahal dalam Islam, tubuh adalah pinjaman dari Allah. Muslimah wajib melakukan dakwah untuk menolak RUU tersebut.
9. Ilmu diperlukan untuk dapat melakukan amar maruf nahi munkar.
10. Peran sosial wanita bukan untuk mencari nafkah, karena itu adalah tanggung jawab suami.
11. Untuk menyeimbangkan kedua peran (domestik dan sosial), muslimah wajib menguasai manajemen waktu. Skala prioritas diperlukan. Kita boleh menolak peran sosial dalam mempertimbangkan peran domestik kita yang tak tergantikan.

Muslimah pengukir sejarah:
1. Rahmah El-Yunusiyah – Minang
Mencerdaskan muslimah melalui pendidikan. Pendiri madrasah perempuan pertama di Indonesia. Tradisi masa itu wanita tampak aneh jika mengenyam pendidikan terlalu tinggi.
Pada usia 23 tahun mendirikan Madrasah Diniyah Putri dengan masa belajar 7 tahun.
Selain itu beliau juga mendirikan sekolah untuk ibu yang tidak bisa baca tulis dan sekolah khusus untuk mengajarkan keterampilan, serta mendirikan sekolah untuk menciptakan kader guru yang akan mengajar masyarakat.
Ketika tahu perannya di bidang pendidikan, beliau fokus di bidang tersebut.

2. Cut Nyak Mutia – Aceh
Beliau adalah pejuang dan muslimah yang taat. Tekadnya kuat untuk mengusir penjajah. Beliau turun langsung ke medan perang melawan Belanda.

3. Nusaibah binti Ka’ab – Ummu Imarah
Tidak pernah absen tiap ada panggilan. Termasuk wanita yang berbaiat pada Rasulullah pada baiat Aqobah.
Pada perang Uhud termasuk ikut berperang di bidang logistik dan medis.
Ketika Rasulullah kewalahan saat perang, ia segera maju dan melindungi Rasulullah. Tubuhnya banyak luka, tapi tidak pernah mengeluh.
Selain perang Uhud, Nusaibah juga ikut perang2 lainnya.

Prinsipnya: ambil peran sesuai masanya

Tips dan trik berbagi peran:
1. Bangun sebelum subuh. Mampu menyegarkan pikiran.
2. To do list aktivitas. Jangan hanya dipikirkan, tapi juga dikerjakan. Hal sekecil apapun yang akan dilakukan.
3. Berbagi tugas dengan suami. Termasuk urusan rumah tangga dan mengurus anak. Jangan cuma playing victim atas hal yang tidak pernah kita komunikasikan pada pasangan.
4. Delegasikan pekerjaan selain urusan anak.
5. Jangan tinggalkan tilawah. Kita butuh terus terikat pada Allah. Karena yang kita lakukan semua atas kuasa Allah.
6. Sesuaikan kemampuan. Peran sosial sesuai kemampuan diri tanpa memaksakan.

Ketika menikah, harus punya visi yang sama dengan pasangan.
Ingin ke surga, tapi aktivitasnya tidak sesuai menuju ke surga -> nggak sampai
Jika suami belum mengizinkan, kembali lagi pada niat kita. Benarkah karena ingin ridho Allah? Jika ya, maka yakinkan suami tentang itu.

Menumbuhkan semangat leadership pada anak: pahami kualitas kepemimpinan:
1. Kepercayaan diri. Giring anak menemukan minat dan bakat agar termotivasi untuk berjuang. Hindari kata2 yang merendahkan. Ketika anak berhasil juga jangan dipuji atau diberi hadiah secara berlebihan. Tetap apresiasi usahanya.
2. Kemampuan organisasi. Menanamkan anak untuk dapat mengatur (waktu, kemampuan, disiplin). Bikin jadwal harian per target untuk anak. Jika mampu mengatur dirinya, ia mampu mengorganisir orang lain. Dan ini butuh waktu.
3. Kemampuan menyelesaikan masalah. Biarkan anak mengambil keputusannya sendiri. Tunjukkan konsekuensi atas tindakannya.
4. Kecerdasan emosional. Bantu anak lebih peka terhadap kondisi orang lain. Tanyakan perasaan atas tindakan atau kejadian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *