Eat right

Sudah beberapa lama saya mengikuti sebuah akun di media sosial. Akun itu milik seorang dokter yang gencar mengampanyekan makan sehat yang dikembalikan pada memakan produk Allah. Mungkin istilah populernya eat raw food kali ya.

Saya sendiri menyadari perlunya untuk kembali ke gaya hidup sehat tersebut. Saya merasakan sendiri betapa tubuh ini dalam kondisi tidak sehat karena banyaknya makanan yang “ngasal” masuk. Yang penting enak. Yang penting kenyang. Nggak mikir kandungan gizinya. Nggak mikir pemrosesan makanannya. Ujung-ujungnya jadi penyakit.

Kalau yang ingin diubah hanya diri sendiri mungkin relatif lebih mudah ya. Tapi kali ini saya ingin mengubah semua orang di rumah saya. PR besar ada pada suami yang masih susah makan sayur (walaupun nggak nolak juga kalau dimasakin). Saya bingung bagaimana cara mengajaknya selain dengan memasakkan berbagai makanan sehat tadi.

Alhamdulillah dokter yang saya bilang tadi bikin kajian di kota saya. Pas hari libur juga jadi suami bisa saya ajak sekalian. Setelah mendengarkan materi selama 2,5 jam, suami memaparkan pemikirannya saat perjalanan pulang. Intinya ia pun sepakat dengan perlunya kembali ke hidup sehat.

Dari situ kami mulai menentukan mana saja yang harus dihentikan atau disubstitusi. Salah duanya adalah mengganti nasi putih jadi nasi merah, serta minyak sawit menjadi minyak zaitun. Kebetulan karena nggak lama kemudian memasuki bulan puasa, saya juga mengganti takjil menjadi infused water dan buah.

Setelah cukup terbiasa dengan perubahan tersebut, saya ajak suami ke toko khusus bahan organik. Beberapa hal kami temukan di sana, seperti gula aren, garam himalaya, super food macam chia seed, cokelat bubuk murni, gojiberry, activated charcoal, dll.

Rutinitas baru dimulai. Dan efeknya memang berbeda. Dari mengganti nasi saja saya merasakan kenyang yang cukup, tidak berlebih seperti ketika masih pakai nasi putih. Suami juga merasakan hal yang sama. Menurutnya, kenyang nasi putih itu lebay. Ia membuat kita ingin makan terus sampai nggak sadar perut sudah penuh. Sementara kalau nasi merah cukup setengah porsi saja sudah cukup untuk seharian puasa.

Begitu pula efek pembiasaan selalu ada sayur dan buah setiap harinya. Saya yang masih menyusui ini tidak merasakan lemas yang lebay selama puasa. Tubuh jadi lebih segar dan nggak gampang lapar.

Tantangan muncul ketika kami menginap di rumah orangtua yang belum menerapkan pola yang sama. Datang hanya beberapa jam sebelum sahur membuat kami tak sempat menyiapkan apapun dan hanya pasrah dengan hidangan yang disediakan. Saat itu kami makan nasi putih dan protein hewani serta makanan serba goreng lainnya tanpa ada sayur maupun buah sama sekali.

Itu kali pertama dalam bulan puasa ini saya merasakan lemas dan lapar yang sangat selama menjalani puasa. Bahkan setelah berbuka saya masih merasa perut sakit melilit. Tubuh saya seolah berontak dengan asupan yang “berbeda”.

Sejak kejadian tersebut, ketika pada akhirnya kami terpaksa harus berbuka puasa di luar, saya mengantisipasi dengan menyiapkan beberapa hal. Seperti saat kami baru pulang dari rumah orangtua dan belum ada bahan makanan untuk dimasak saat berbuka. Saya menyiapkan 7 butir kurma, sebotol kecil minuman jeniper + madu + chia seed + himsalt + charcoal, sebotol kecil teh gojiberry + madu, dan sebotol kecil air nabeez kurma + cokelat murni. Setidaknya mereka dapat menahan saya untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi makanan yang kurang sehat.

Sisi positif lainnya dari gaya hidup sehat ini adalah saya jadi kurang tertarik makan di luar. Semesta kurang mendukung, kalau kata suami. Lebih enak masak sendiri. Lebih sehat dan lebih sesuai selera tubuh. Dan insya Allah lebih hemat juga. Semoga kami bisa terus istiqomah dalam merawat tubuh pemberian Allah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *