[BD] Merawat fitrah belajar anak

By Ummu Balqis

Tiap anak adalah pembelajar. Anak suka belajar dengan mengeksplorasi lingkungannya.
Bayi yang memasukkan barang ke mulut adalah bagian dari pembelajarannya.
Setiap anak adalah pembelajar yang ulet dan pantang menyerah.

Anak suka bermain. Ketika bermain, anak sedang eksplorasi. Bermain mampu menambah pengetahuannya. Tak perlu larang anak untuk bermain, karena tidak sesuai dengan karakter dan fitrah mereka. Penting untuk kita kenali tipe belajar anak yang kira2 menyenangkan untuk mereka.

Anak itu punya rasa penasaran tinggi, namun tingkat konsentrasinya singkat. Lamanya berbanding lurus dengan usia. Durasinya sekitar 1 menit x usia. Kita tidak bisa memaksa anak untuk duduk manis dalam waktu lama.

Golden age: perkembangan otak yang pesat terjadi di 8 th pertama kehidupan (90%). Dan 75% terjadi sebelum usia 3 th.
Tiap waktu sangat berharga untuk mengembangkan otak anak agar jadi anak yang cerdas terarah.
Upayakan kurikulum yang tepat untuk anak kita belajar.

Karakter khusus yang unik dari tiap anak: tipe anak terkait cara kita mendampinginya saat belajar.
Bisa jadi bukan karena anaknya bodoh, tapi karena kita yang nggak ngerti cara belajar anak.

Visual: penglihatan
– Lebih suka belajar dengan melihat gambar, bentuk, tabel, warna-warni, dll.
– Lebih senang mengungkapkan ekspresinya dengan bahasa tubuh dan mudah mempelajari bahasa sandi.
– Menyukai grafik, diagram, peta. Suka menggambarkan pikirannya.
– Daya ingat yang kuat atas hal yang pernah dilihat. Mudah ingat jalan, wajah orang.
– Modis. Rapi. Bajunya serasi.
– Suka memperhatikan ekspresi dan bahasa tubuh lawan bicara.
– Suka baca buku sendiri ketimbang dibacakan.
– Suka baca manual book pada mainan.
– Sering terlihat bengong, padahal sedang membayangkan dan mencari inspirasi.
– Bisa fokus walaupun suasana berisik.
– Kurang reaktif. Kalau ada masalah akan diamati dan dianalisis dulu.

Critical point untuk pendampingan belajar:
1. Susah memahami penjelasan tanpa grafik atau gambar. Jika ia kesulitan memahami penjelasan di sekolah, ubah penjelasan dalam bentuk gambar saat belajar di rumah.
2. Buku yang kurang menarik dan catatan tidak rapi akan mengganggu belajar anak.

Auditory: pendengaran
– Suka mendengarkan musik, diskusi dengan orang, suka berdebat, dll.
– Lebih suka dibacakan buku, apalagi dengan intonasi yang menarik.
– Nggak mau ribet baca instruksi. Lebih suka nanya ini apa.
– Suka bicara, nyanyi, cerita. Sangat ekspresif saat bercerita.
– Intonasi suaranya ekspresif sesuai kondisi hatinya.
– Saat belajar suka sambil dengerin musik atau hal lain yang menenangkan.
– Mudah belajar bahasa asing.
– Mudah mengingat perkataan orang.
– Nggak bisa diam dalam waktu lama.

– Tidak terlalu lama konsentrasi dibanding anak visual.

Critical point auditory:
1. Sulit mengingat jika bacanya tidak keras. Agak susah belajar kalau tempatnya rame atau tidak boleh ribut. Maka orangtua bantu menghafal dengan sahut2an suara.
2. Susah menulis karangan. Bantu anak dengan suruh bercerita lalu kita rekam. Setelah itu rekamannya diperdengarkan untuk ditulis.

Kinestetik: gerakan
– Suka kegiatan bersifat fisik. Suka aktif bergerak. Punya interest besar pada tari, olahraga, dan kegiatan fisik lain.
– Suka gerakin tangan. Sering menyentuh orang, suka mainan yang bikin tangannya aktif, dll.
– Kalau ada mainan baru langsung semangat ingin dicoba tanpa baca atau nanya dulu ini mainan apa.
– Ekspresinya akan terlihat dari gerakan tubuhnya. Langsung praktik dengan perbuatan.
– Saat komunikasi dengan teman suka sambil bergerak dan menggunakan kalimat2 yang nyata. Live in the moment.
– Sangat tidak mau diam ketika dinasihati, dijelasin, dll.
– Saat menghafal sambil jalan, pakai gerakan, pokoknya gerak terus.
– Suka eksplorasi di tempat baru.

Critical point kinestetik:
1. Suka aktivitas yang bersifat praktik. Ortu harus berpikir kreatif agar anak mampu belajar secara praktik. Siapkan alat bantu untuk belajar.
2. Memorinya akan lebih long last jika menggabungkan seluruh tubuhnya dalam mengingat.

Perusak fitrah belajar:
1. Fasilitator terlalu menyetir proses belajar anak sehingga daya kreativitas anak lumpuh.
2. Fasilitator terlalu banyak mencarikan materi sehingga anak tidak punya kesempatan mengamati lebih jauh. Ini bisa bikin anak malas belajar karena merasa fasilitator sok tau dan dia dianggap bodoh.
Sebisa mungkin jangan buru2 ambil kesimpulan. Eksplorasi dulu sebatas mana anak telah memahami sesuatu, biarkan anak menjelaskan dulu baru kemudian kita sampaikan pandangan yang sesuai. Beri kesimpulan bareng dengan anak.
3. Menggunakan kompetisi atau menakuti untuk memicu anak belajar. Membandingkan hanya akan membuat anak malas. Menakuti dengan membentak atau menjewer ketika anak tidak bisa hanya membuat anak makin tidak suka belajar.
4. Tools belajar yang tidak menarik.

Anak bukan sambungan dari obsesi kita. Anak dididik untuk bisa mengemban tongkat estafet kehidupan dan bisa jadi pribadi yang tuntas amanahnya ketika sudah baligh.
Belakangan ini banyak anak yang merupakan hasil dari didikan ortu yang egois, dileskan ini itu karena obsesi ortunya.
Anak yang dididik dengan obsesi ortunya cenderung lelah ketika kuliah. Mereka belajar bukan untuk mencari keridhoan ilmu, namun untuk mematuhi perintah ortunya. Dan ini bisa terjadi lebih cepat.
Jangan jadikan ranking dan nilai sebagai tolok ukur.

Tujuan belajar: bukan untuk membuat mereka bisa.
Target: buat anak suka belajar bersama kita.
Pengalaman Ummu: mengajarkan huruf vokal tiap hurufnya 1 bulan.

Menciptakan kebiasaan belajar harus kondusif keluarganya. Jangan sampai anak disuruh belajar tapi ortunya main HP atau nonton TV. Ciptakan situasi belajar yang nyaman dan rutin waktunya.
Ketika waktunya rutin, anak akan menantikan waktu belajarnya.
Lakukan belajar sambil bermain.

Akhlak pembelajar: mengakui bahwa kebenaran didapat dari eksperimen. Jika salah mengakui kalau memang argumen/jawaban salah.

Ibu perlu mengupgrade kemampuan agar dapat menjadi teman belajar yang baik bagi anak. Banyak orang hebat yang dididik oleh ibunya sendiri dengan senang hati.
Tugas ibu juga mendidik dan mengawal tumbuh kembang anaknya.

Tiru kreativitas:
– Banyak baca
– Ikut komunitas tertentu
– Manfaatkan internet dan medos

Tak sabar: ekspektasi tinggi dan tidak kreatif.
Kembalikan ke tujuan kita mengajar. Tak hanya membuat anak paham, tapi juga agar tercipta kebiasaan belajar dan membuat anak suka belajar.

Ikut kursus boleh jika keilmuan kita kurang mumpuni untuk diajarkan ke anak.
Pastikan anak senang saat ikut kursus. Pilih guru yang memang paham tumbuh kembang si anak. Ortu tetap mendampingi proses belajar.

Jangan sampai aktivitas yang kita berikan ke anak di luar batasnya. Misal: ikut les sampai 5 sehari sampai anak stres.
Memastikan anak masih pada batas kesanggupan: kalau anak kita tidak sempat melakukan calm down activities (aktivitas yang ia senangi), berarti kegiatannya sudah terlalu padat.
Kegiatan yang berlebih akan membahayakan kesehatan mentalnya juga.
Jangan tunggu anak stres. Pastikan ia menikmati, tapi juga batasi agar tak terlalu padat.
Menikmati: tidak sabar memulai kegiatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *