[BD] Mendidik Anak ala Rasulullah

By Ummu Balqis

Peran orangtua sangat menentukan baik buruk kepribadian dan kesholehan anak. Bukan mutlak sebagai penentu, tapi faktor/pengaruh terbesar. Semua itu akan diminta pertanggungjawaban di akhirat.

Era Rasulullah banyak sekali pemuda hebat. Di balik para pemuda hebat itu ada ibunda yang hebat dalam mendidik mereka.
Ummu Aiman (ibunda Usamah bin Zaid) awalnya seorang budak dari orangtua Rasulullah. Pengasuhan Rasulullah yang berpindah2 termasuk ke Ummu Aiman. Beliau adalah budak yang cerdas dan akhlaknya baik. Beliau mengasuh Rasulullah layaknya anak sendiri. Tutur kata, kelembutan, kesabaran, dan keberaniannya luar biasa. Beliau juga terjun ke medan perang. Dari situ anaknya menjadi panglima perang di usia 18 tahun.
Annawar binti Malik (Ibunda Zaid bin Tsabit) adalah wanita cerdas zaman itu. Selain itu beliau mampu melihat potensi anaknya dari banyak sudut pandang. Ada masa Zaid menawarkan diri untuk jihad namun ditolak oleh Rasulullah karena masih terlalu kecil. Sang ibunda membesarkan hati anaknya untuk berjihad melalui pena. Kemudian beliau menawarkan Zaid dengan kecerdasannya pada Rasulullah dan akhirnya Zaid diangkat menjadi penerjemah Rasulullah.

Jika ingin anak memiliki output oke, maka output orangtua yang harus diperbaiki dulu.
Ingin anak sabar, jadilah orangtua yang sabar.
Pengasuhan adalah refleksi dari tindakan kita.
Sudahkah kita mengayomi jiwa anak kita sepenuh hati? Anak tak hanya mendengar nasihat, namun juga mengamati orangtuanya.

Tips agar pengasuhan anak optimal:
1. Mumpuni ilmu dalam mengasuh. Upgrade ilmu sangat penting bagi orangtua, baik melalui metode formal (buku, kelas parenting, dll) ataupun non formal agar makin siap mendampingi anak2 kita.
2. Keteladanan orangtua. Ini hal terpenting dalam proses pendidikan. Anak adalah benteng tambahan. Ketika akan melakukan kemalasan, kita sadar kalau anak kita bisa mencontoh kita.
3. Mempelajari dan menerapkan metode Rasulullah mendidik anak.
4. Pelajari konten bahan ajar. Apa saja yang perlu diajarkan pada anak.

Adil: kebenaran yang universal, mendekatkan diri pada ketakwaan.
Orangtua harus adil terhadap yang dipimpin, yaitu anak2. Keadilan akan mendatangkan ketentraman dan ketenangan. Secara perkembangan psikologis akan lebih sehat.
Banyak hadist yang menjelaskan perlunya kita adil pada anak kita.

Sabar. Ada kalanya anak menjadi sumber emosi orangtua.
Anak masih belajar. Mereka, terutama usia bawah 6 tahun, belum paham konsep benar salah.
Sabar adalah sifat pemimpin sejati. Perlu dilatih dan diulang untuk dapat berpikir jernih dan fokus pada solusi.
Luaskan sabar kita karena kita sedang mendidik masa depan ummat.

Penyayang. Saat sholat pun Rasulullah masih mencurahkan kasih sayang pada cucunya. Memperlakukan anak wajib dengan penuh kasih sayang.
Sikap kasar hanya akan membuat anak menjauh dari orangtua.

Teladan. Ibnu Abbas melakukan sholat karena melihat Rasulullah sholat malam.
Menyelaraskan/menyesuaikan kata-kata dan perilaku adalah penting agar anak dapat menginternalisasikan kejujuran.
Memberi teladan = menolong anak untuk berbakti pada orangtuanya.

Menghargai anak. Cara Rasulullah menyemangati anak: memuji, menghargai, mendoakan anak.

Mengayomi. Orangtua dituntut untuk mengayomi (memelihara) potensi2 anak sambil memberikan stimulasi yang positif.
Anak sejatinya adalah pemimpin ummat, namun terbungkus dalam tubuh anak.

Komunikatif. Komunikasi sehat orangtua-anak akan menumbuhkan penalaran anak dan anak bisa lebih terbuka.
Ketika anak membangkang, sudahkah kita memberi kesempatan komunikasi pada anak kita?

Sebelum nikah:
1. Persiapkan diri kita sendiri menjadi orangtua yang keren, yaitu dengan ilmu2 yang menunjang kita memiliki karakter2 siap mendampingi anak sesuai pengasuhan ala Rasulullah.
2. Mencari pasangan yang sevisi misi. Segala macam yang berbenturan harus diminimalisir sebelum menikah.

Saat konsepsi dan hamil:
1. Doa sebelum jima’ minta dijauhkan dari syaithon
2. Banyak berdoa dan bersyukur ketika sedang hamil. Bersyukur erat kaitannya dengan ikhlas, sehingga ibu hamil akan lebih tenang dan jauh dari depresi. Ibu hamil yang depresi akan mengganggu pertumbuhan janin dan tidak baik bagi psikoemosional janin.
3. Banyak melakukan hal baik, menjauhkan diri dari maksiat, banyak berpikir positif selama hamil.
4. Baca Al Quran dan dzikir yang rutin.
Ketika melakukan ibadah rutin tepat waktu, ritme tubuh kita akan terbaca oleh janin. Ini merupakan salah satu bentuk didikan awal ke janin.
5. Tidak mengonsumsi sesuatu yang haram.

Usia 0-6 th: mengisi lumbung cinta
Fase untuk memperluas kesabaran bagi orangtua.
Anak belum paham konsep benar-salah. Anak masih belajar. Harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan berikan teladan terbaik. Tidak boleh pukul dan cubit anak.
Membentak hanya akan membuat anak takut dan trauma, serta membuat lumbung cintanya tidak penuh. Didikan terbaik adalah berikan teladan. Posisikan diri sebagai orang yang bisa ditiru anak kita sebaik mungkin. Ketika melakukan hal yang baik maka kita apresiasi sehingga ia makin suka meniru kita.
Berikan sugesti positif pada anak ketika menjelang tidur. Itu adalah fase tertenang bagi anak untuk bisa menerima nasihat. Bisa berupa dongeng, cerita, dll agar anak membentuk kesimpulan sendiri.

Usia 7-14 th: fase pendisiplinan
Fase paling krusial. Melatih anak untuk disiplin, berbuat baik, terbiasa dengan hukum syara’.
Di usia ini sistem logika sudah mulai jalan. Mulai bisa membedakan baik dan buruk, memahami konsekuensi, rules, dll.
Contoh konsekuensi bisa dengan menghilangkan kesenangan mereka atau hukuman bersifat edukatif.
Memukul boleh jika sudah dinasihati, diajak, dll tapi masih nggak mau. Pukul daerah tidak berbahaya dan dengan pukulan yang tidak sakit. Hanya untuk menunjukkan kita benar2 tidak suka perbuatannya.
Fase ini harus didahului fase sebelumnya. Anak memahami mengapa orangtua bikin rules, karena mereka tahu orangtuanya sayang pada mereka. Mereka tidak mau membuat ortunya marah atau sedih. Beri pemahaman ini dulu baru ajarkan konsep ikhlas berikutnya.

Usia 15 th ke atas: fase pendampingan
Anak sudah jadi pribadi dewasa yang mampu bertanggung jawab atas dirinya.
Sering diajak diskusi untuk berpikir tentang dunia selain dirinya. Tanyakan pendapat tentang banyak hal untuk mendewasakan pikirannya.
Dampingi sebagai teman curhat.
Ketika anak merasa orangtua tetap hangat mendampinginya walaupun anak telah dewasa, maka anak akan tetap respect pada orangtuanya.

Bahan pendidikan anak:
1. Tauhid. Mengokohkan aqidah pada anak agar percaya keberadaan Allah. Bahwa hidup ini untuk mencari ridho Allah.
2. Akhlak. Nasihat dan keteladanan.
3. Ibadah. Anak akan melihat bagaimana orangtuanya beribadah dan akan meniru.
4. Muamalah. Bagaimana berinteraksi dengan orang lain, konsep halal haram, dll.

Tantangan pengasuhan:
1. Ilmu: kita kejar2an dengan waktu seiring anak bertumbuh
2. Visi misi keluarga: satukan antara suami dan istri
3. Waktu: banyak ibu yang multitasking, sehingga harus pintar mengatur prioritas dalam mengasuh anak
4. Malas: banyak ibu yang malas sehingga pola asuh tidak optimal (cth: kasih gadget, TV, pembantu, dll)
5. Teknologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *