Main masak-masakan

“Mau potong-potong!” Teriak anak lelaki saya tiap kali ikut membantu saya menyiapkan bahan makanan. Di usia 1,5 tahun ini ia sering meminta dilibatkan dalam setiap kegiatan saya, termasuk memasak. Akhirnya saya belikan ia mainan masak-masakan. Dan ia memainkannya dengan riang gembira.

Lho kok anak laki main masak-masakan?

Lho, kenapa nggak? Memangnya memasak hanya urusan perempuan? 😁

Hayo coba kita sebut chef terkenal yang kita tahu. Banyakan yang laki kan? Jadi siapa yang lebih jago masak?

Ngomong-ngomong soal jago masak, saya punya sedikit cerita. Dulu pernah ada seseorang yang ingin dekat sama saya, kebetulan anaknya teman mama saya. Tapi saya nggak mau. Singkat cerita, setelah saya tolak terus, ia akhirnya menemukan calon istri dan menikah duluan.

Suatu hari, ia pernah membuat postingan di medsosnya berupa meme Bu Menteri Kelautan dengan pose dan kalimat khasnya yang diganti jadi: “Perempuan nggak bisa masak? Tenggelamkan aja.”

Saya nggak tahu motivasi dia bikin postingan itu apa. Di bawahnya ada tambahan caption, “Untung istriku pinter masak bingiiit..”

Setelah baca itu, saya makin bersyukur dia bukan suami saya. Hahaha

Eits, tapi postingan itu lumayan bikin saya kepikiran. Karena saya memang nggak bisa masak. Gimana kalau ternyata calon suami saya juga punya pikiran sama dengan orang itu? Apalagi ada oknum yang sengaja meng-highlight ketidakbisaan saya memasak ini seolah itu kelemahan yang besar banget.

Maka dari itu ketika suami melamar saya, kalimat pertama yang saya sampaikan adalah “Aku nggak bisa masak.”

Kirain bakal ada moment of silence, tapi ternyata jawaban dia cuma, “Iya, aku tahu.” Lalu dia diam sebentar dan melanjutkan, “Aku juga nggak bisa. Ntar kita belajar bareng ya.”

Ah, meleleh hati saya. πŸ˜‚

Jadi gini, dia bilang “aku juga” dan “nanti kita” itu sudah bikin saya tenang. Karena itu berarti ia sepaham dengan saya bahwa urusan masak bukan cuma porsinya perempuan, tapi juga laki-laki.

Tapi sis, dia sebenarnya bohong! Pas sudah nikah, saya baru tahu dia lebih jago masak dari saya. Saat dia ngomong nggak bisa itu sebenarnya merendah saja, mungkin biar saya nggak minder dan nolak dia kali ya. πŸ˜…

Seiring berjalannya waktu, dia selalu memberi saya kesempatan untuk belajar masak. Dari yang awalnya mengandalkan bumbu jadi, lalu belajar lewat katering bahan masakan, sampai akhirnya pelan-pelan saya “disapih” untuk bisa berkreasi sendiri tanpa bantuan itu semua.

Sekarang, di usia pernikahan 2,5 tahun, bisa dibilang saya lebih bisa masak ketimbang saya yang dulu. Dan yang bikin saya terharu adalah anak saya lebih lahap saat makan masakan saya ketimbang makanan beli di luar. Alhamdulillah.

Maka dari itu saya membebaskan anak lelaki saya untuk ikut bantu memasak dan main masak-masakan. Agar dia jadi pria yang mandiri. Jadi papa dan suami yang bisa diandalkan keluarganya nanti. Insya Allah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *