Selesai dengan Si Sempurna

Orang yang mengenal saya dengan baik pasti tahu kalau saya kurang bisa masak. Tidak terbiasa berada di dapur membuat saya sempat agak panik ketika dilamar orang. Bahkan saya bilang ke dia, “Aku nggak bisa masak lho.” Biar nggak beli kucing dalam karung gitu. Dia ternyata ngerti dan memaklumi. Katanya nanti belajar masak bareng saja setelah nikah.

Awal menikah kami sering eksperimen resep. Tentu saja milihnya yang gampang dulu. Lama-lama kami terbuai dengan para bumbu jadi yang beredar si supermarket. Enak ya pakai bumbu jadi, masakan pasti langsung enak rasanya. Tapi sayangnya variasi bumbu sedikit.

Menjelang melahirkan sampai beberapa bulan pasca melahirkan, saya keenakan balik ke rumah orangtua. Tantangan muncul ketika kami harus terpisah lagi dengan orangtua dengan membawa bayi kecil. Urusan makan nggak mungkin mau pesan antar terus. Bakal mahal kan.

Hasil cari info sana sini, saya ketemu dengan Si Sempurna. Konsepnya paket katering dengan 6 menu yang bervariasi dari makanan berkuah, daging sapi, daging ayam, makanan laut, sayur, dan kudapan ringan. Dikirimnya berupa bahan makanan siap masak. Paling lama butuh waktu 10 menit untuk jadi masakan rumahan yang enak. Porsi bisa disesuaikan mau banyak atau sedikit. Harga lumayan murah.

Saya coba ajukan ke suami. Ia setuju. Kami coba pesan sekali. Eh ternyata lumayan. Kami jadi keterusan langganan tiap pekan. Nggak perlu repot belanja, meal prep, dan nggak pusing mikir menu juga.

Tapiii setelah beberapa bulan mulai terasa ada pengulangan menu. Sebenarnya itu masih wajar. Yang bikin kami nggak sreg adalah waktu pengiriman yang suka telat. Kami juga pernah salah dikirimi paket lain. Dan sempat beberapa waktu masakannya suka keasinan.

Puncaknya ketika beberapa kali kami dibikin ribet nggak bisa bepergian karena harus nunggu paket makanan datang dulu. Secara ini kan bahan makanan, nggak bisa sembarang dititip satpam komplek. Harus masuk kulkas. Dari situ kami memutuskan mengakhiri langganan dengan Si Sempurna ini.

Lalu gimana urusan masak? Mana ini menjelang puasa pula..

Ya kembali ke masa lalu dengan belanja sendiri. Tapi saya selalu menyimpan kertas resep dari Si Sempurna. Itu jadi patokan untuk belanja. Tiap mau belanja kami pilih dulu mau menu yang mana saja, lalu cari adakah bahan yang sama antarmenu, kemudian dibuat daftar belanjaan.

Terbukti belanjaan kami jadi jauh lebih murah dari zaman awal nikah dan hitungannya lebih murah daripada pesan ke Si Sempurna karena porsinya lebih besar. Mungkin nggak enaknya ketika saya harus meluangkan waktu untuk meal prep biar bisa langsung masak seperti menunya Si Sempurna. Tapi nggak masalah kok, ada suami dan anak yang siap membantu.

Kenapa nulis ini? Karena tadi pagi, setelah beberapa pekan lulus dari Si Sempurna, suami bilang masakan saya enak. Ia berani memuji karena bumbunya bukan pakai patokan Si Sempurna lagi. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *