Kisah bapak tua yang tersengal

Hari menjelang siang ketika bapak tua itu datang ke IGD tempat saya bekerja. Beliau berjalan sambil dipapah perlahan oleh dua orang pria yang lebih muda—saya tebak sekitar usia 20-30 tahun. Napasnya memburu, seolah seluruh otot dadanya tertarik setiap kali bernapas. Di belakang mereka ada seorang ibu tua berjalan perlahan mengikuti.

Perawat dibantu dua orang pria yang memapah tadi menaikkan bapak tua itu ke ranjang pasien. Setelah memastikan bapak tersebut duduk dengan aman dan nyaman, salah seorang dari pria muda yang mengantar tadi pergi ke tempat registrasi pasien.

Dengan cekatan para perawat mengecek tanda vital pasien khususnya kadar oksigen dalam tubuh pasien. Kadar cukup rendah, kurang dari 90%. Masker oksigen segera dipasang.

Perlahan kadar oksigen pasien naik sampai 93%. Sesekali terdengar suara batuk dari si bapak. Napasnya masih terlihat memburu walaupun jumlah per menitnya sudah berkurang. Tekanan darah dalam batas normal. Denyut nadi per menit cukup tinggi, sekitar 120 kali per menit.

Saya meminta izin untuk membuka kemeja pasien. Tampak dada pasien membusung seperti barel. Suara napasnya terdengar samar melalui stetoskop. Dan ketika dada pasien saya ketuk, terdengar suara yang nyaring.

Dalam kondisi sesak seperti itu, hampir tidak mungkin pasien bisa ditanya. Yang terpenting adalah memperbaiki dulu kegawatannya untuk mencegah kondisi memburuk.

Prinsip penanganan kegawatan pada dewasa adalah ABC yang merupakan singkatan dari Airways (jalan napas), Breathing (pernapasan), dan Circulation (sirkulasi darah). Kita harus mencari dulu adakah gangguan pada jalan napas, kemudian gangguan pada pernapasan, lalu gangguan pada sirkulasi darah.

Pada pasien ini, beliau bermasalah di pernapasan yang tidak adekuat. Terapi segera diberikan untuk memperbaiki kondisi pernapasannya.

Sambil menunggu pemberian terapi usai, saya mencoba untuk bertanya kepada para pengantar pasien yang rupanya adalah istri dan anak-anak dari bapak tadi.

“Bapak sudah sering seperti ini, Dok. Baru dua hari lalu ke rumah sakit juga dengan keluhan sama,” ujar si pengantar yang baru saja kembali dari meja registrasi pasien. Ia menyerahkan berkas yang didapat ketika memeriksakan pasien sebelumnya. Dari berkas tadi saya temukan usia bapak itu 65 tahun. Beliau sudah diperiksa rontgen dada sekitar 2 hari sebelumnya.

“Saya pinjam foto ini sebentar,” ujar saya meminta izin. Foto itu saya pasang di lampu baca rontgen. Tampak gambaran yang sangat khas, yaitu paru tampak memanjang dengan jantung seperti menggantung.

Kok bisa paru tampak memanjang?

Begini, paru-paru kita merupakan kumpulan dari kantung udara atau alveolus. Jika ada kerusakan pada kantung udara tadi, lama kelamaan mereka bisa pecah dan membentuk satu kantung besar. Hal ini menyebabkan luas permukaan paru berkurang sehingga kadar oksigen yang mencapai aliran darah pun menurun.

Paru-paru menjadi membesar perlahan akibat udara yang terperangkap sulit untuk dikeluarkan. Dada menjadi membusung akibat perubahan bentuk paru-paru dan terjadilah sesak napas.

Kerusakan pada kantung udara paru-paru bisa terjadi karena paparan zat yang mengiritasi paru-paru dalam jangka waktu lama, misalnya asap rokok. Karenanya, kondisi ini umum ditemukan pada perokok, baik aktif maupun pasif. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah kerusakan yang terjadi tidak secara mendadak.

Prosesnya perlahan dalam jangka waktu lama dan gejala seringkali baru dirasakan ketika usia 40-an ke atas. Sekalinya terjadi kerusakan, sifatnya irreversible atau tidak dapat dikembalikan lagi seperti sediakala. Sehingga terapi yang diberikan hanya untuk mengurangi gejala dan menghindari kerusakan yang lebih parah, bukan menyembuhkan.

Saya menghampiri bapak tua tadi sambil mengecek kondisinya.

“Bagaimana, Pak? Sudah enakan?”

Tampak beliau mengangguk. Beberapa kondisi yang saya temukan di awal kedatangan sudah agak membaik.

“Mohon maaf sebelumnya, Pak. Apakah bapak ada riwayat merokok?”

Raut mukanya tampak berubah. Alisnya dikerutkan seolah tak suka dengan pertanyaan saya.

“SAYA SUDAH BERHENTI SEJAK UMUR 50!” hardiknya sambil tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat. Saya meminta izin untuk pergi sebentar dan beralih ke keluarga beliau yang duduk di tempat yang agak jauh dari pasien.

“Bapak memang sudah berhenti merokok sejak umur 50-an, Dok,” ujar anaknya ketika saya menanyakan hal yang sama.

“Kalau mulai merokoknya sejak usia berapa?”

“Wah, kalau itu sudah lama sekali, Dok. Dari kapan, Bu? Sebelum nikah sama Ibu, ya?” tanya sang anak pada wanita tua yang ikut mengantar.

Wanita itu mengangguk. Raut mukanya tampak sedih.

“Sebanyak apa, ya, merokoknya dulu?”

“Kalau banyaknya, lumayan. Sekitar sehari satu sampai dua pak. Dan itu hampir setiap hari.”

Nah. Riwayat perokok berat, cocok seperti dugaan saya.

“Dari dulu Ibu sudah sering mengingatkan Bapak untuk berhenti merokok. Tapi Bapak nggak mau. Katanya, ini saja merokok tiap hari nggak ada masalah. Tetap sehat, masih bisa kerja. Nggak pernah sakit apa pun. Akhirnya Ibu pasrah. Lalu keluhan mulai muncul sekitar usia 50-an. Bapak jadi sering sakit, batuk, sesak. Baru setelah itu mau disuruh berhenti merokok.”

Ini lah yang sering dijadikan “senjata” para perokok. “Kami tidak apa-apa walaupun sudah merokok sebanyak ini bertahun-tahun.” Mereka lupa bahwa kerusakan tidak selalu terjadi mendadak. Ia dapat muncul perlahan tapi pasti. Dan sekalinya rusak akan sulit untuk dibenahi kembali seperti sediakala.

Menyesal? Mungkin. Namun tak ada yang dapat dilakukan selain berhenti dan melakukan pengobatan untuk mencegah kemungkinan lebih buruk.

“Memang benar Bapak sudah berhenti merokok selama 15 tahun, tapi merokoknya jauh lebih lama lagi. Anggap dari usia 15 tahun, berarti sudah 30 tahun lebih,” ujar saya.

“Itu dia, Dok. Berhentinya sudah terlambat. Makanya Bapak suka tersinggung kalau ditanya soal merokok. Merasa sudah berhenti kok masih sakit saja. Jadi beliau nggak suka disalahkan karena merokoknya itu. Karena itu harap maklum ya, Dok, kalau Bapak tadi marah.”

Saya hanya tersenyum. Dalam hati membatin, Ah sudah biasa yang seperti ini.

“Saya sudah menyiapkan tabung oksigen dan masker juga di rumah,” lanjutnya. “Tapi Bapak marah kalau saya siapkan, katanya seperti orang sakit. ‘Buang saja itu,’ katanya. Tapi tiap kali sesak kan butuh juga. Akhirnya kami yang kerepotan harus membawa Bapak ke rumah sakit. Dan setiap kali disuruh rawat inap selalu menolak. Katanya sudah sembuh, padahal masih seperti itu napasnya. Saya sih nggak apa, masih kuat meladeni. Ibu yang kasihan kalau seperti ini terus.”

Perempuan yang ia panggil ibu tadi hanya duduk bersandar pada kursi di sebelahnya. Sesekali perempuan itu menghela napas panjang. Tak ada senyum yang nampak di wajah keriputnya.

Benar seperti kata keluarganya, ketika saya menyarankan untuk rawat inap karena kondisi yang belum terlalu baik, bapak itu langsung menolak.

“Saya sudah sembuh!” ujarnya setengah berteriak, masih dengan napas yang cepat, sambil melepas masker oksigen. Setelah itu beliau memaksa turun dari ranjang pasien. Kedua pria yang mendampingi segera memapahnya kembali.

Seolah sudah biasa dengan itu semua, keluarganya pun tidak banyak tanya saat saya sodorkan surat pernyataan menolak rawat inap. Anaknya membaca sekilas lalu menandatangani.

Mereka kemudian pamit dan membawa bapak itu pulang setelah menebus resep.

***

IGD sudah agak lengang. Saya sedang menunggu pergantian shift jaga. Seorang perawat magang junior sedang mematikan lampu alat pembaca rontgen.

Saya panggil perawat junior tadi. “Kamu ikut menyimak semua obrolan tentang pasien yang sesak tadi?” tanya saya.

Ia mengangguk.

“Apa pendapatmu?”

Ia diam sejenak, tampak berpikir. “Saya kasihan sama keluarganya.”

Mendengar jawaban polos itu saya tersenyum dan bertanya, “Kenapa?”

“Mereka sudah berusaha seperti itu, tapi bapaknya tetap keras kepala. Itu karena merokok ya, Dok?”

“Ya, seperti yang kamu dengar tadi.”

Lalu saya jelaskan secara singkat perbedaan paru pasien tadi yang tampak pada foto rontgen dibanding paru orang normal. Saya mencari foto rontgen paru orang normal melalui google images. Sesudah mendengar penjelasan tersebut ia diam, tampak merenung.

“Kenapa?”

“Ah, nggak apa, Dok. Hanya saja saya bersyukur di keluarga saya tidak ada perokok. Dan saya jadi mempertimbangkan lagi untuk memilih pasangan nanti. Kriteria “tidak merokok” sepertinya harus saya masukkan. Saya nggak mau masa tua saya dan anak-anak saya nanti seperti mereka.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *