Menegur efektif

Siapapun pasti pernah menegur atau ditegur. Menegur itu tidak salah, tapi memang harus diperhatikan lagi adabnya agar maksud yang ingin kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh yang ditegur.

Sebelum menegur, ada baiknya kita menanyakan diri sendiri: Apakah teguran ini memang perlu disampaikan? Hadist “berkata baik atau diam” ada bukannya tanpa alasan kan?

Kalau kita memang merasa teguran itu harus disampaikan, maka yang perlu kita ingat lagi adalah perlunya memposisikan diri kita sebagai yang ditegur terlebih dahulu sebelum menegur.

Gimana itu?

1. Sampaikan teguran dengan kata, nada, dan intonasi yang baik

Coba dibayangkan kalau kita ditegur dengan kata yang buruk dan dengan nada marah. Pastinya kesal kan? Maka jangan lakukan hal tersebut ke orang yang akan kita tegur.
Selain itu,

2. Jangan lakukan di depan orang lain

Siapapun pasti nggak suka kesalahannya dipampang nyata di hadapan orang lain. Maka hindarilah, karena

3. Menghindari sifat defensif

Udah lah ditegur dengan kata-kata yang buruk, nadanya melengking, intonasinya menyebalkan, di depan orang lain pula. Malu dan kesal campur jadi satu. Kalau sudah gitu apa yang terjadi? Ya, kita akan berusaha membela diri. Mempertahankan harga diri.
“Aku nggak gitu kok!”
Kalau ternyata sebenarnya memang gitu, berarti orang yang ditegur itu jadi bohong. Malah menambah masalah.

4. Hindari pernyataan yang abstrak

“Kamu itu nakal!” Lah, nakal kenapa? Kalau memang dia salah karena menumpahkan air, mengapa tidak kita bilang, “Kamu salah telah menumpahkan air sehingga lantainya basah dan licin.”

5. Fokus pada solusi

Oke, dia yang kita tegur salah. Lantas apa? Selain mungkin mengharapkan maaf, kita juga mengharap perubahan setelah teguran. Daripada terus fokus pada kesalahannya, kita bisa menawarkan solusinya. Akan lebih baik lagi kalau kita juga ikut membantu dalam mengeksekusi solusi tersebut.

6. Hindari membandingkan

Ketika menegur, bisa jadi ada sedikit perasaan superior dalam diri kita. Merasa kalau kita lebih baik dari orang yang ditegur. Namun menegur sambil membandingkan dengan kondisi kita sangat tidak obyektif, karena kemampuan setiap orang berbeda. Jika memang harus membandingkan, maka bandingkan orang yang kita tegur dengan dirinya sendiri di masa lampau.

7. Hati-hati dengan jebakan “selalu”, “semua”, “nggak pernah”

Kenapa saya bilang jebakan? Karena kata-kata tadi membuat kita lupa akan hal baik yang orang itu pernah lakukan.
“Kamu itu selalu menumpahkan air!” Padahal ternyata kalau diingat lagi, tumpahnya hanya 3 dari 10 kali berurusan dengan air. Sisa 7 yang lain ia mampu berhati-hati. Nggak selalu, kan?

8. Jangan jadi ahli sejarah

Kalau sudah menegur atas satu kesalahan, ya sudah cukup sampai situ. Nggak perlu kita ungkit lagi kesalahan masa lampau, apalagi yang sudah pernah dibahas dan dianggap usai.

9. Maafkan

Yang ditegur sudah mau minta maaf? Oke, maafkan dengan senyuman.

Sumber bacaan: Enlightening Parenting by Okina Fitriani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *