Saat buku tak kunjung tiba

Seperti yang sudah saya tulis di postingan lain, saya sedang menulis buku. Masa pre-order telah usai di akhir Februari dan kini bukunya sedang dalam proses percetakan. Ketika saya tanya berapa lama prosesnya, dijawab, “Seminggu.”

Saat itu saya menduga buku akan selesai cetak tanggal 11 Maret. Lalu karena pengiriman Bogor-Bandung lumayan cepat, buku paling lambat sampai tempat saya tanggal 13 Maret. Hari itu juga buku akan dikemas dan dikirim ke para pembeli. Sedangkan buku yang dijanjikan akan dikirim dari Jatim langsung saya paketkan hari itu juga.

Besoknya, tanggal 14 Maret, saya dan keluarga tinggal duduk manis di kereta menuju Jatim. Buku tiba di Jatim tanggal 15 Maret berbarengan dengan kedatangan kami. Agenda selama di Jatim akan dipadati oleh mengirim dan mengantar buku pada keluarga dan teman yang memesan sekaligus silaturahim.

Tapi itu rencana saya, bukan rencana Allah.

Pada tanggal 11 Maret siang, saya dikabari kalau buku selesai cetak. Alhamdulillah sesuai prediksi saya. Proses selanjutnya adalah pembungkusan. Perkiraan saya seharusnya tidak memakan waktu lama sehingga malam pasti sudah bisa dikirim.

Kemudian tanggal 12 Maret saya tanyakan lagi, katanya nanti kalau sudah ada resi akan dikabari. Mendadak suami dapat ide untuk memajukan jadwal ke Jatim jadi tanggal 13 Maret. Karena itu saya coba tanya lagi malamnya tentang kepastian pengiriman.

“Wah, masih proses pembungkusan,” jawabnya. Tentu saja saya kaget. Kok ternyata lama prosesnya? Saya melobi untuk tidak perlu dibungkus semua, langsung kirim saja. Tapi tidak lama kemudian saya dikabari kalau buku sudah dikirim.

Esoknya, tanggal 13 Maret, ternyata kami tidak jadi memajukan agenda berangkat sehingga tetap berangkat tanggal 14 Maret saja. Saya minta nomor resi dan baru dijawab siang.

Ketika saya cek resi, saya kaget ternyata dikirimnya pakai JTR (JNE Truck). Lebih kaget lagi saat tahu lokasi pengiriman dari Cirebon, bukan Bogor seperti yang pernah disampaikan ke saya. Dan yang bikin saya makin kecewa, buku masih di Cirebon siang itu. Belum ada tanda-tanda berangkat. Menurut situs JNE, lama pengiriman JTR dari Cirebon ke Bandung adalah 3-4 hari.

Ah, gagal sudah semua rencana saya. Suami menyuruh saya komplain. Tapi saya coba menghubungi mama dulu sambil menjelaskan kondisi terbaru sekaligus beberapa opsi lain yang saya miliki. Salah satu opsi adalah tetap berangkat, nanti bukunya diurus setelah balik Bandung (dan itu berarti akan banyak merepotkan keluarga di Jatim). Atau ubah jadwal ke Jatim pekan depan.

Kata mama, pekan depan ada banyak acara. Justru pekan ini yang kosong. Mama nggak keberatan untuk membantu pengiriman yang dari sana. Kan agennya dekat dari rumah. Yang butuh diantar bisa dibantu adik saya nanti. Mendengar itu saya jadi agak lega.

Jadilah sore nanti saya tetap berangkat ke Jatim tanpa buku. Semoga saja satpam komplek cukup amanah menjaga buku saya yang lumayan banyak dan berat.

Hikmahnya, saya jadi lebih santai selama di Jatim. Tidak ada tuntutan harus mengantar sehingga waktu bersama keluarga jadi lebih banyak nanti.

***

Edit: ternyataaaaa bukunya sudah di Bandung tanggal 14 Maret sekitar jam 12 siang! Tapi baru diantar ke rumah ba’da maghrib dan akhirnya diterima satpam komplek. Hahaha. Tau gitu kan bukunya bisa dijemput ke gudang, secara jam segitu masih di Bandung. Ya udah lah. 😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *