Tentang senyuman

“Senang, ya, jadi sie dokumentasi. Semua orang yang bertemu kamu pasti tersenyum ketika melihat kamu bawa kamera..”

Senyum adalah bahasa universal yang umumnya menyatakan ekpresi senang. Ia bisa berlanjut menjadi tawa, atau bisa juga bermakna sapaan sopan. Senyum, secara universal, juga menunjukkan keramahan seseorang terhadap yang lain.

Efek yang dahsyat dari sebuah senyuman juga dijelaskan oleh Dale Carnegie dalam bukunya “How to Win Friends and Influence People in the Digital Age”. Di salah satu bab, Carnegie menjabarkan kesimpulan dari sebuah penelitian, yaitu orang yang bahagia cenderung terdapat di pusat jaringan sosial dan dikelilingi orang bahagia lainnya.

Alasan sederhana dari fenomena ini: saat tersenyum, kita memberi tahu orang bahwa kita bahagia bersama mereka, bahagia bertemu mereka, dan bahagia dapat berinteraksi dengan mereka.

Carnegie juga menjelaskan bahwa dengan tersenyum secara fisik akan membuat nada suara kita saat mengucapkan kata-kata terdengar lebih menyenangkan. Senyuman akan meningkatkan nilai pada wajah kita.

Dalam Islam pun dijelaskan tentang keutamaan senyuman melalui sebuah hadis shahih:

“Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.“

Bahkan ketika kita tidak memiliki apapun untuk disedekahkan, sebuah senyuman juga dapat bernilai sedekah.

Dari semua penjelasan di atas, sangat wajar jika orang memilih tersenyum di depan kamera. Mengingat fungsi kamera adalah mendokumentasikan obyek menjadi sebuah gambar atau gambar bergerak, maka orang akan berusaha tampil sebaik mungkin saat direkam oleh kamera.

Tapi kalau kita lihat foto orang-orang zaman dahulu, kebanyakan mereka tidak tersenyum di depan kamera. Apa, ya, alasannya?

Menurut situs ini, ada beberapa alasan mengapa orang zaman dulu tidak tersenyum ketika difoto:

1. Proses pengambilan gambar yang lama
Pada pertengahan Abad 19, teknologi kamera masih tidak semaju sekarang. Waktu yang dibutuhkan sejak menekan tombol sampai gambar terekam dengan baik bisa mencapai 15 menit. Dan selama pengambilan gambar tersebut, obyek tidak boleh bergerak. Tentu akan melelahkan, ya, kalau harus tersenyum terus selama 15 menit. 😁 Karena itu mereka cenderung memasang ekspresi datar.

2. Pengaruh lukisan
Sebelum adanya teknologi kamera, orang mengabadikan potret diri melalui lukisan. Proses melukis yang lama tidak memungkinkan untuk mempertahankan pose senyum. Maka ketika sudah ada kamera, orang pun memilih menunjukkan ekspresi yang sama, seolah memang itulah seharusnya ekpresi yang ditampilkan.

3. Menunjukkan tingkatan sosioekonomi
Dikatakan bahwa mereka yang diakui dan dihormati cenderung tidak menampilkan pose tersenyum ketika di hadapan kamera. Menurutnya, pada zaman itu, hanya untuk pemabuk, orang miskin, dan pekerja hiburan berbayar. Bahkan Mark Twain pernah menuliskan bahwa foto merupakan dokumentasi yang penting. Karenanya, ia tidak mau menunjukkan ekspresi bodoh seperti tersenyum dan diabadikan untuk selamanya.

4. Namun sebuah berubah ketika Negara Kodak menyerang..
Adalah Kodak yang kemudian mengubah tradisi tersebut dengan memperkenalkan $1 Kodak Brownie di akhir Era Victoria. Dijelaskan bahwa target pasar Kodak saat itu adalah warga Amerika kelas menengah. Pada pemasarannya, Kodak memberikan buku petunjuk dan pamflet tentang pengambilan gambar yang model dan fotografernya menampilkan ekspresi bahagia dan tersenyum. Dari situ budaya tersenyum depan kamera mulai muncul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *