Menulis antologi atau solo?

Dunia membaca sudah saya geluti sejak kecil. Namun beda halnya dengan menulis.

Sebagai penulis amatir, saya baru tahu kalau menerbitkan buku kini sangat mudah. Bisa jadi sebenarnya dari dulu sudah mudah, hanya saja saya baru mengetahuinya sekarang. Adalah beberapa teman komunitas yang mengenalkan saya pada dunia kepenulisan hingga saya menyasar beberapa kelas menulis dan terlibat aktif di dalamnya.

Beberapa bulan terakhir saya disibukkan menyiapkan karya. Awalnya, saya tertarik pada proyek buku antologi yang digagas oleh seorang teman. Ia memiliki kelas menulis dan berencana rutin menerbitkan buku. Siapa yang tertarik dengan temanya boleh bergabung. Nantinya akan mendapat pelatihan menulis terkait tema tersebut lalu akan ditantang untuk menulis setelahnya. Hasil setiap peserta akan dikumpulkan dan diajukan ke penerbit sebagai buku antologi atau kumpulan cerita.

Layaknya anak kecil yang menemukan mainan baru, iming-iming memiliki karya yang diterbitkan membuat saya begitu bersemangat mengikuti tiap proyek yang diadakan. Saat itu pikiran dangkal saya hanya sebatas saya ingin menulis lalu dikumpulkan dan saya punya karya yang diterbitkan. Selesai. Saya merasa “aman” karena hanya cukup menyetor satu tulisan dan kemudian menunggu sampai bukunya terbit.

Tapi ternyata semua tidak berjalan mulus. Menulis rupanya tidak segampang itu, setidaknya bagi saya demikian.

Tema pertama tak kunjung saya selesaikan sampai akhirnya saya memilih mengundurkan diri darinya. Tema kedua berhasil saya selesaikan walaupun agak terseok dan kurang yakin dengan isinya. Tema-tema lain, walaupun menarik dan saya merasa bisa, akhirnya tidak saya ambil.

Lalu saya mendapati kenyataan bahwa mebuat buku antologi ternyata semudah itu. Tinggal kumpulkan orang dan menulis sesuai tema yang ditentukan, lalu diajukan ke penerbit dan jadi buku.

Saya merasa aneh. Ketika berkarya menjadi semudah itu, justru saya merasa ada yang tidak pas. Meskipun saya hanya andil satu dari sekian tulisan, tetap saja tulisan itu akan dijual.

Sudahkah semua tulisan di dalamnya dikurasi dengan baik? Sudah layak kah untuk terbit? Siapa yang bertanggung jawab atas isinya? Atau ini semua hanya untuk memuaskan ego sekedar memiliki koleksi karya?

Dari situ saya memutuskan untuk menarik setiap proyek antologi yang sempat saya daftarkan dan fokus ke karya solo. Pikiran awam saya saat itu hanya ingin mengambil tanggung jawab penuh atas tulisan saya, bukan malah “bersembunyi” dalam proyek gabungan.

Saya bukannya menganggap proyek antologi itu buruk. Hanya saja antologi bukanlah genre saya, setidaknya untuk saat ini. Antologi masih oke untuk mereka yang ingin berkarya tapi belum ada bahan untuk menerbitkan satu karya penuh. Antologi cocok menjadi batu lompatan awal menuju karya solo.

Ketika akhirnya memilih fokus mengurus karya solo, saya malah belajar lebih keras lagi. Penentuan tema, penulisan seluruh isi buku, serta proses penyuntingan karya sepenuhnya tanggung jawab saya sebelum diserahkan ke editor. Begitu pula urusan pemasaran dan menulis copywriting. Juga nantinya akan mengurus pencatatan pesanan, pengemasan, dan pengiriman.

Sempat kaget dan tertatih, tapi akhirnya saya berhasil menuntaskan satu karya solo yang kini sedang dalam proses percetakan.

Bagaimana dengan antologi?

Ada satu tema yang tidak jadi saya tarik dengan pertimbangan ingin punya pengalaman terlibat dalam proyek antologi. Karya yang satu ini terakhir katanya sedang proses di editor. Nah, bahkan saya tidak tahu perkembangan detailnya karena sudah merasa “aman” diurus oleh kepala proyek. Itu yang sebenarnya kurang pas buat saya.

Jadi, apakah akan ada karya berikutnya? Mungkin. Bagaimana pun juga saya belum kapok menulis, kok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *