Konsep rezeki

Saat kita mengeluhkan hujan yang membuat acara kita kacau, bisa jadi tanaman bersuka cita karena mendapatkan air yang jarang didapat dari kita.

Saat kita kesal dengan genangan air di jalan pasca hujan, bisa jadi kucing dan binatang liar lain bersyukur atas air minum yang melimpah.

Saat kita marah anak melepeh makanannya, bisa jadi semut bersorak karena bisa membawa pulang sebutir nasi yang terserak.

Rezeki itu nggak akan ketukar. Allah sudah membagi rezekiNya kepada seluruh hambaNya sesuai yang Ia kehendaki.

Hujan yang mengacaukan rencana kita adalah rezeki untuk makhluk yang lain. Begitu pula makanan yang dilepeh bisa jadi memang bukan rezekinya yang makan.

Seorang anak manusia yang baru lahir telah dijamin rezekinya melalui air susu ibunya dan ia tercukupi hanya dengan asi itu saja sampai setidaknya usia 6 bulan. Kalaupun asi tidak keluar, Allah akan mencukupkan rezekinya lewat cara lain. Misalkan orang tuanya dimampukan untuk membeli susu atau menemukan donor asi.

Kita bisa jadi memiliki uang untuk membeli buku. Namun ketika buku itu hanya tergeletak tak terbaca, mungkin memang pengetahuan dari buku itu bukan rezeki kita.

Anak yang sholeh itu rezeki. Suami yang baik itu rezeki. Namun bukan berarti jika sebaliknya maka bukan rezeki. Ia tetaplah rezeki dalam bentuk lain, misalnya rezeki kesempatan untuk belajar bersabar dan bersyukur atas nikmat yang lain.

Dan rezeki tidak hanya melulu soal duniawi. Kadang kita lupa kalau agama ini, iman ini, bahkan kesempatan mengenal Sang Pencipta juga rezeki. Sebaik-baiknya rezeki dariNya untuk kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *