[Ulasan Buku] Skizofrenia

Judul buku: Skizofrenia
Pengarang: Tuti Eka Jayanti
Penerbit: Mandiri Jaya
Jumlah halaman: 162 halaman
Harga: < 75k

“Na, kumohon resignlah demi Ale. Ia butuh kamu, ia harapan berharga kita satu-satunya.”

“Tapi Drick, karirku?” Wanita itu mulai menangis sesenggukan. Untung koridor rumah sakit terlihat sepi. Karena memang bukan saatnya jam pengunjung.

Memiliki karir yang cemerlang dan kemandirian secara finansial adalah dambaan Ana, tokoh utama dalam novel Skizofrenia ini. Hidup keras dan masa lalu kelam yang ia alami di masa kecilnya membuat Ana bertekad tidak ingin memiliki pengalaman yang sama seperti ibunya dulu. Ia pun pada akhirnya berhasil mendapatkan jabatan bergengsi di sebuah perusahaan ternama di ibukota. Namun kebahagiaan itu sirna setelah anak semata wayangnya dikabarkan sakit dan divonis skizofrenia.

Ana kalut. Penyakit yang diderita anaknya ini menuntut perhatian penuh dari orang tuanya. Pilihannya hanya dua: ia resign dan melepas semua karir yang ia bangun selama ini, atau suaminya yang resign dengan konsekuensi ia yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Ana pun mengambil pilihan pertama.

Keputusan besar itu tidak lantas membuat anaknya membaik. Ana kembali dihadapkan banyak ujian di hadapannya yang membuatnya kembali membuka luka lama masa lalunya. Perjuangannya demi menyembuhkan anaknya serta mengembalikan kehidupan layak untuk diri dan keluarganya dimulai.

***

Saya membaca buku ini sekali duduk. Begitu indah penulis meramu setiap konflik di dalamnya sehingga saya tidak ingin menunda untuk segera menghabiskan ceritanya. Setiap babnya membuat saya memposisikan diri sebagai Ana, si tokoh utama, sambil membayangkan kalau saya yang mengalami kondisi tersebut. Yang membuat saya miris justru fakta bahwa cerita ini diangkat dari kisah nyata, yang itu berarti memang ada tokoh Ana di luar sana yang sedang berjuang seperti di kisah ini.

Lelah, tegang, sedih, dan kemudian lega. Semua perasaan itu bercampur aduk selama saya membaca buku ini. Membuat saya tersadar pentingnya sebagai ibu untuk benar-benar hadir dalam pengasuhan anak. Juga mengingatkan saya bahwa prestasi akademis tidak akan ada gunanya ketika jiwa sang anak malah semakin tertekan.

Sayangnya, saya agak terganggu dengan kesalahan penulisan dan peletakan serta pemilihan tanda baca yang cukup banyak. Juga penggantian “Ana” atau tokoh lainnya di buku ini menjadi “perempuan/lelaki yang (insert some trivia)” yang menurut saya terlalu banyak dan terkadang tidak diperlukan. Terlalu banyak show terutama di bab-bab awal sehingga agak mengganggu cerita. Namun hal itu langsung tertutup oleh serunya jalan cerita.

Buku ini sangat saya rekomendasikan kepada seluruh orang tua, baik yang bekerja di ranah publik maupun domestik. Jangan sampai pengalaman si tokoh di cerita ini menimpa kita semua.

📚Nilai:
⭐⭐⭐⭐

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *