Busy February

Bisa dibilang ini postingan pertama di Bulan Februari, sekaligus mengawali hiatus yang cukup lama dari target one-day-one-post (ampuni ketidakkonsistensian saya, teman2!). Tidak menulis bukan berarti tanpa alasan. Di sini saya mau membuat pembelaan.

Pertama, saya baru PINDAHAN! Ucapkan selamat datang ke rumah baru saya: asahoshisama.com ini! Yay! Akhirnya punya domain dengan nama sama seperti akun IG. Haha.

Kedua, saya memenuhi target berat saya, yaitu berkarya sebelum usia kepala tiga. Sialnya, target fantastis itu saya pasang justru 2 bulan sebelum kepala tiga. Hasilnya, saya super ngebut. Ya ngebut cari ide, riset, menulis, sampai akhirnya jadilah karya solo pertama saya!

Yuk, intip dulu covernya:

Dari covernya, bisa ditebak kan ini bahas apa? Mumpung lagi bikin excuse karena nggak nulis lama, saya sekalian cerita dikit proses terciptanya karya ini.

Awalnya, saya yang galau mau berkarya apa ini memutuskan main ke toko buku. Saat itu saya menemukan sebuah buku yang ditulis oleh dokter. Suami yang berdiri di samping saya bilang, “Kamu nulis gini deh. Aku dukung.”

Kata-katanya bikin saya merenung. Oh iya, bener juga. Kan bisa tuh bikin tulisan tentang pengalaman sebagai dokter. Lalu masuklah saya ke proses penggalian ide.

Saat menggali ide, saya mencoba mencari kompetitor lain, yaitu buku yang setema dengan topik ini. Ternyata ada beberapa, salah satunya malah baru banget terbit sebulan sebelumnya. Saya coba cari resensi dan review buku-buku tadi. Tebak apa yang saya temukan?

Review yang seragam!

Melalui buku ini, saya jadi tahu kehidupan dokter ternyata seperti itu..

Udah.

Lalu saya mikir, inikah yang ingin saya sampaikan?

Riset pun berlanjut. Saya coba diskusi dengan beberapa teman sejawat. Menanyakan tentang apa sih yang butuh disampaikan ke orang-orang tapi belum tersampaikan? Dari situ saya ambil satu kesimpulan: edukasi.

Saya ingin mengedukasi pembaca melalui buku. Agar pembaca nggak hanya mendapat wawasan kehidupan dokter, tapi juga edukasi atas kasus yang dibahas. Dari situ saya menentukan arah tulisan.

Namanya edukasi berarti harus ada penjelasan yang valid. Jadi saya harus belajar lagi agar teori yang saya sampaikan dalam tiap babnya tidak menjadi ilmu sesat. Alhamdulillah, kalau nggak gini kapan lagi saya belajar hayoo..

Seenggaknya buku ini sudah memberikan satu manfaat untuk saya dengan belajar lagi tadi. Kan kalau kata Bu Septi Peni, “Rezeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari.” Betul?

Eh, tapi kadang saya memilih hemat waktu dengan bertanya ke ahlinya langsung. Hehe. Beruntung punya banyak teman yang rajin sekolah spesialis. Jadi enak kalau mau tanya bisa kontak langsung sesuai spesialisasi mereka. Jadi dengan baca buku ini, teman-teman saya tadi ikut kecipratan pahala jariyahnya, Insya Allah.

Akhirnya setelah proses penulisan selama sekitar 3 pekan, karya saya usai. Dilanjut proses skrining, editing, layouting, dll selama sekitar 2 pekan. Saya berhasil memenuhi target berkarya sebelum usia kepala tiga. Hore!

Sengaja masa PO dimulai dari usia kepala tiganya suami dan ditutup saat usia kepala tiga saya. Bagaimanapun juga suami lah pendukung terbesar saya dalam menyelesaikan karya ini.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, PO bukunya sambil menebar manfaat ke banyak orang. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *