Sampah

Siang itu, saat akan keluar dari stasiun, tiba-tiba sebuah botol minuman kosong melayang dan jatuh tepat di hadapan saya di pintu masuk stasiun. Saya menoleh. Ternyata seorang anak kecil sekitar usia 3 tahun yang melemparnya.

Dalam hati saya membatin, ini anak kok buang sampah sembarangan sih, dan orang tuanya juga kok diam saja nggak negur. Saya melengos dan lanjut berjalan ke mobil. Anak dan suami tampak menyusul di belakang saya.

Sesampai di pintu, anak saya berhenti. Ia menunduk, pandangannya terkunci pada botol minuman yang dilempar tadi. Seketika ia jongkok lalu memungut botol tersebut.

“Eh kotor!” kata suami saya. Namun anak saya tetap membawanya sambil pandangannya beredar ke sekitar. Sampai kemudian ia melaju ke salah satu sudut: tempat sampah.

Karena tempat sampahnya terlalu tinggi, ia dibantu oleh suami saya. Dengan sedikit digendong, ia memasukkan langsung botol minuman kosong tadi ke tempat sampah. Setelah itu tangannya dibersihkan dan baru ia mau masuk mobil.

Saya tertegun. Memang benar saya menyadari itu sampah, tapi tak ada aksi yang saya buat. Tak ada bedanya saya dengan orang tua si anak yang membuang tadi. Tapi anak saya tanpa berkomentar langsung memungut dan membuang sampahnya. Yang ia tahu, dalam pikiran polosnya, sampah itu dipungut dan dibuang ke tempat sampah. Masya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *