Sabar challenge

(Judulnya gitu amat ya?)

Sudah sepekan ini saya bikin challenge buat diri sendiri, namanya sabar challenge. Sabar di sini dikerucutkan ke nggak marah ke anak dan main (beneran) sama anak. Kok beneran? Iya, biasanya saya main bohongan aja sama anak saya. Sekedar ada di sebelahnya, memainkan mainan yang sama, dan menanggapi seadanya.

Jadi saya melakukan challenge ini terkait kata-kata Cikgu Okina saat seminarnya lalu. Katanya harapan anak untuk orang tua itu sesederhana “jangan marah” dan “main sama aku”. Lalu nggak lama setelah itu ada diskusi terkait fenomena trending hashtag #mamab*ngs*t di grup alumni. Kami menyimpulkan fenomena itu terjadi ketika ikatan emosional anak dan orang tua tidak cukup kuat.

Kalau ditanya apakah challenge ini mudah, sebenarnya mudah banget karena yang dilakukan hanya 2 hal tadi. Tapi pelaksanaannya memang tidak semudah itu. Awalnya saya juga ragu, tapi kok jadinya malah bikin limiting belief ya? Hehe. Akhirnya tetap saya jalankan challenge ini.

Main beneran itu gimana sih?

Gampangnya gini. Anak kecil kan kalau lihat sesuatu pasti suka heboh banget ingin semua orang dikasih tahu. Contohnya anak saya suka banget sama truk. Tiap lihat truk di jalan, matanya akan membulat dan mulutnya berteriak dengan lantang sambil menunjuk obyeknya, ” TEEEEEEEKKK!” (Bacanya kayak baca “truk” tanpa r ya πŸ˜‚)

Kita orang dewasa dengan zona pandang yang lebih luas biasanya bisa tahu ada truk tanpa perlu noleh kan. Jadinya reaksi saya seringnya cuma, “Oh iya ada truk.” Rupanya reaksi semacam itu tidak memuaskan anak saya. Dikiranya saya nggak lihat karena nggak kelihatan noleh ke truknya. Jadilah dia taruh tangan kecilnya di pipi saya lalu muka saya diputer menghadap truk. “TEEEEEKKKK!”

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kalau sudah seperti itu tapi reaksi saya masih sama seperti sebelumnya, tetap aja dia nggak puas. Dia akan melakukan hal yang sama terus menerus, bahkan ketika truknya udah nggak di situ.

Saat sedang melakukan challenge, yang saya lakukan adalah merespon seheboh mungkin menyamai reaksi dia. Kalau harus menoleh, maka nggak cuma kepala yang noleh, tapi sebadan juga. “Wah iya bener! Ada truk!” Sambil ikut berbinar-binar seolah itu truk pertama yang saya lihat. Setelah itu kami terlibat pembicaraan seru tentang truk, seperti apa warnanya, berapa rodanya, siapa yang nyetir, dll.

Itu juga saya lakukan ke hal lain. Intinya semua aktivitas yang dilakukan bersama anak, akan saya lakukan semaksimal mungkin. Dan ketika dia mulai menyulut api kemarahan, saya tahan marah dan langsung senyum.

Hasilnya, sepekan ini terjadi beberapa perubahan signifikan:
1. Makannya jadi lahap
2. Tidurnya jadi nyenyak
3. Saya bisa ninggal mandi tanpa drama ditangisi
4. Lebih bisa diajak kompromi tentang banyak hal
5. Saya bisa melakukan banyak hal karena sudah bisa diajak kompromi tadi

Dari situ saya simpulkan kalau tangki perhatian dia tercukupi dengan baik, ia akan mau memperhatikan kebutuhan kita. Nggak ada lagi caper minta gendong atau gedor pintu kamar mandi pas saya tinggal pipis.

Akan kah challenge dilanjut? Insya Allah. Doakan saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *