Banjar, bukan Banjaran

Kalau mendengar nama Banjar, orang masih jarang mengaitkannya dengan Banjar-nya Jawa Barat. Paling banyak akan mengira Banjar itu di Kalimantan. Atau Banjarnegara. Sedangkan yang di Bandung dan sekitarnya masih suka keliru dengan Banjaran. Bahkan petugas kereta api Pangandaran pun sempat salah menyebut Banjar menjadi Banjaran.

Perkenalan saya kepada Kota Banjar adalah saat di penghujung tahun 2016 silam. Sebagai pengantin baru, suami ingin mengenalkan saya pada kota tempatnya bertumbuh itu. “Kotanya panas lho,” katanya berkali-kali. Dan memang sangat panas. Di hari kedua saya di sana, papa mertua kasihan melihat kami banjir keringat saat tidur siang dan menyuruh kami beli kipas angin untuk diletakkan di kamar.

Banjar itu kota kecil. Saya pernah menghitung lamanya perjalanan dari gerbang kota satu ke yang lainnya dengan kecepatan normal dan ternyata hanya memakan waktu sekitar 30 menit saja. Selain itu kotanya juga lengang. Sangat jarang ditemui lalu lintas padat merayap, apalagi kemacetan. Makanya mertua saya kalau ke Bandung malas ke mana-mana, karena Bandung sangat macet sedangkan mereka sudah terbiasa berkendara di Banjar yang sepi.

Geliat pertumbuhan Banjar juga lambat. Selang berapa lama kami tidak ke Banjar, tak banyak perubahan yang nampak. Mungkin ada, tapi kecil sekali hingga tak terasa. Konon ketika ada hal baru datang ke Banjar, ia tidak sanggup bertahan lama. Kalah oleh para pemain lama yang telah nyaman menjadi pilihan di hati penduduknya.

Masih ingat ketika kecil dulu pertokoan masih terbatas? Ketika ingin beli barang A sudah jelas di toko X. Barang B di toko Y. Barang C di toko Z. Semua sudah ada jatahnya sendiri. Seperti itu lah di Banjar. Dan itu bertahan sejak suami masih kecil hingga sekarang.

Suasana Banjar masa sekarang mirip seperti suasana Kota Malang saat saya masa kecil. Kadang sulit dipercaya masih ada kota sesederhana ini. Rasanya seperti dilempar ke masa lampau dengan mesin waktu. Dan itu bukan lah hal yang buruk.

Kali ini seiring dengan dirilisnya KA Gambir-Pangandaran yang sementara ini akan berakhir di Banjar terlebih dahulu, orang jadi mulai mengenal kota ini. Banyak penumpang yang sekedar coba-coba naik KA ini kemudian berhenti di Banjar dan singgah sementara. Seharusnya ini menjadi kabar baik. Banjar dapat berbenah. Perekonomiannya bisa lebih didongkrak dengan kehadiran banyak pendatang baru walaupun untuk sementara. Kami pun berandai-andai, kira-kira akan seperti apa strategi Pemkot Banjar menghadapi ini semua ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *