Menjelajah Jabar

Pada awal tahun ini, PT KAI meresmikan jalur baru Gambir-Bandung-Banjar yang nantinya akan berakhir di Pangandaran. Tak hanya itu, mereka bahkan mengeluarkan tiket promo sepanjang Januari dengan harga tiket hanya seribu rupiah saja. Spontan kabar baik ini disambut oleh kami sekeluarga yang sudah lama tidak pulang ke rumah mertua di Banjar. Setelah mencocokkan jadwal dengan keluarga besar, dipilihlah tanggal 25 Januari untuk pulang.

Kesan pertama ketika masuk si kereta baru ini: bersih! Sebagai pendatang baru, kursinya lebih bagus dan bersih. Toiletnya pun bersih dan berupa toilet duduk. Ini penting, mengingat pengalaman ketika hamil dulu saya agak kesusahan saat berada di toilet kereta. Begitu juga ketika eyang saya hampir masuk IGD karena dehidrasi di kereta. Eyang tidak mau minum selama perjalanan 12 jam lebih karena menghindari kencing di kereta. Menurut eyang, kencing di toilet kereta itu menyusahkan. Dengan adanya toilet duduk, tentunya akan jauh lebih memudahkan bagi para bumil dan lansia.

Mengambil jalur yang cukup populer bukan tanpa risiko. Yang saya tahu, jalur Bandung – Banjar itu sudah cukup padat. Sebut saja KA Malabar dan Mutsel yang jadi langganan kami. Juga ada Lodaya dan mungkin yang lain lagi. Makanya jadwal yang didapat si Pangandaran ini agak unik, yaitu tengah hari. Maklum, mungkin hanya jam segitu yang belum terlalu padat.

Mendapat jadwal siang bisa ada sisi positif dan negatifnya. Positifnya, dengan berangkat siang maka penumpang bisa lebih menikmati pemandangan Jawa Barat yang luar biasa indah. Biasanya pemandangan itu cuma bisa saya nikmati sampai Cipeundeuy aja. Setelah itu gelap. Nah, dengan seluruh perjalanan dilakukan siang hari, setiap jengkal pemandangan bisa dinikmati sampai puas.

Negatifnya, jadi nggak bisa tidur. Tapi siapa sih yang mau tidur cuma 4,5 jam perjalanan? Tanggung juga kan? Oh ya, sama agak panas keretanya. Padahal suhunya lebih rendah daripada suhu luar, tapi tetap saja panas.

Sedihnya, gara-gara tiket yang hanya seribu rupiah, orang asal pesan tiket tanpa konfirmasi kalau batal. Kereta yang saya naiki cuma terisi nggak sampai setengahnya, padahal kata teman yang di gerbong premium saat dia pesan dulu gerbong eksekutif sudah penuh. Menurut informasi dari petugas kereta, dari 200 kursi yang terpesan, hanya 94 yang benar-benar hadir. Kalau seperti ini kan kasihan mereka yang terambil jatahnya padahal benar-benar membutuhkan.

Pas sampai di Stasiun Banjar, saya geli lihat stasiunnya ramai! Dari tahun 2016 belum pernah saya lihat Stasiun Banjar seramai itu. Semoga jalur baru ini bisa mendongkrak perekonomian Banjar ya. Harus dioptimalkan sebelum jalur Pangandarannya jadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *